Feeds:
Tulisan
Komentar

Archive for Mei, 2008

Oleh: Riwayat

Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam termasuk di dalamnya hewan, tumbuhan, dan manusia. Manusia sebagai makhluk dinamis membutuhkan sarana untuk mengembangkan diri secara dinamis dan berkelanjutan. Tempat yang mungkin untuk mengembangkan potensi dan dinamisasi diri adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan institusi tempat menempa diri manusia. Karena pendidikan pada dasarnya adalah sarana untuk membimbing manusia sebagai manusia paripurna.

Islam sebagai agama rahmat memberi peluang kepada manusia untuk mengembangkan diri berdasarkan Al-Quran dan Hadis. Pengembangan diri berdasarkan wahyu merupakan cita-cita Al-Quran. Pengembangan diri tersebut merupakan bagian dari wahyu ketuhanan. Karena dalam al-Quran terdapat perintah untuk mengubah diri, perintah untuk banyak membaca, perintah untuk berfikir. Perintah tersebut mengindikasikan bahwa manusia diajarkan untuk mampu menempa diri dan mengembangkan bakat yang ada dalam dirinya. Tetapi perintah untuk berfikir, mengembangkan diri hanya tinggal konsep. Karena semua konsep tentang pengembangan diri, konsep dasar pendidikan Islam tidak digali dan dikembangkan untuk kemajuan pendidikan Islam.

Memang, kalau ditilik dalam lintasan sejarah, umat Islam mencoba untuk mengembangkan konsep-konsep pendidikan berdasarkan Al-Quran dan Hadis, tetapi hal tersebut hanya berlangsung sebatas pemerintahan atau tokoh pengusung konsep pendidikan tersebut. Setelah para tokoh dan pemerintahan telah meninggal atau pereintahan tersebut telah hancur, maka konsep pendidikannya juga ikut mengalami kemunduran.

Kemunduran tersebut tidak lepas dari kurang pedulian umat Islam terhadap konsep pendidikan Islam. Keadaan ini makin diperparah oleh para pakar pendidikan yang beranggapan bahwa pendidikan Barat lebih baik dan modern. Di sisi lain, pendidikan Islam dianggap tidak modern dan tidak mempunyai konsep yang jelas mengenai pendidikan. Konsep pendidikan Barat dipaksakan penerapannya di dunia Islam. Keadaan ini makin memperparah keadaan umat Islam yang telah terpola dengan konsep pendidikan Barat. Pola pendidikan Barat menjadi semacam pendangkalan keislaman umat Islam sendiri. Bahkan ada kecenderungan di kalangan masyarakat bahwa terjadinya korupsi, kolusi, nepotisme serta berbagai kemungkaran adalah akibat gagalnya pendidikan Islam dalam mendidik akhlak.

Ali Asraf sebagai tokoh pendidikan Islam mencoba menjawab berbagai permasalahan pendidikan Islam, dalam bukunya Horison Pendidikan Islam, Ali Asraf berusaha jujur membandingkan pendidikan modern Barat dengan pendidikan Islam. Ali Asraf beranggapan bahwa tidaklah mungkin seseorang akan merlihat dengan sempurna dan menemukan secara murni konsep pendidikan Islam tanpa membandingkan dua konsep pendidikan yaitu konsep pendidikan modern dalam hal ini diwakili oleh konsep pendidikan Barat. Perbandingan dilakukan oleh Ali Asraf bertujuan untuk memisahkan antara konsep pendidikan Barat dengan konsep pendidikan Islam yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan karena selama ini kedua konsep pendidikan tersebut berbaur menjadi satu bagian, sehingga sulit menemukan mana konsep pendidikan Barat, dan mana konsep pendidikan Islam.

Dalam bukunya tersebut Ali Asraf mencoba menampilkan permasalahan yang berhubungan dengan pendidikan keagamaan, liberalitas, termasuk juga pendidikan tradisional dan modern. Beliau membahas tentang pentingnya pendidikan pelatihan dan pengembangan bagi para guru. Buku-buku teks hendaknya disusun sesuai cara-cara Islam, buku-buku untuk pendidikan Islam hendaknya di tulis dengan cara islami, dalam arti materi yang ada di dalamnya memuat berbagai nuansa keislaman, apapun jenis buku pelajarannya.

Menurut Ali Asraf pendidikan adalah sebuah aktivitas yang memiliki maksud tertentu, diarahkan untuk mengembangkan individu sepenuhnya. Lebih lanjut Ali Asraf menyatakan bahwa konsep pendidikan Islam tidak dapat dipahami tanpa terlebih dahulu memahmai penafsiran Islam tentang pengembangan individu sepenuhnya. Manusia adalah wakil Allah di muka bumi. Dalam Al-Quran Allah menjelaskan tentang nama-nama benda, mengajarkan norma-norma kepada mansuia pilihan yaitu para Nabi. Norma norma dan prinsip-prinsip serta metode-metod etentang pembelajaran dan pengetahuan telah Allah turunkan melalui wahyu. Firman Allah merupakan sumber hukum untuk dipatuhi manusia.

Pendidikan bertujuan menimbulkan pertumbuhan seimbang kepribadian manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya menyediakan jalan untuk pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya, seperti spiritual, intelektual, imaginative, fisikal, ilmiah, linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Menurut Ali Asraf tujuan terakhir pendidikan muslim adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan.

Di antaranya konsep Islam tentang manusia dan metafisika pendidikan, adalah pertama, konsep Islam tentang manusia mempunyai keluasan dan jarak yang tidak dimiliki konsep tentang manusia manapun. Karena manusia dapat menjadi khalifatullah dengan menanamkan atau mewujudkan dalam dirinya sifat-sifat Tuhan. Karena itu, sifat-sifat tersebut mempunyai dimensi tidak terbatas, kemajuan moral, spiritual dan intelektual manusia juga tidak terbatas. kedua, karena pengetahuan adalah sumber kemauan dan pengembangan, Islam tidak meletakkan rintangan apa pun terhadap pencapaian pengetahuan. Ketiga, jangkauan penguasaan harus seutuhnya dengan memiliki keahlian intelektual karena isolasi seseorang tidak dapat mempertahankan pertumbuhan seimbang. Keempat aspek spiritual moral, intelektual, imajinatif, emosional dan fisikal dari kepribadian seseorang tetap diamati dalam membentuk inter-relasi di antara disiplin-disiplin itu. Pertumbuhan pikiran dan kemampuan seorang anak hendaknya dipertimbangkan untuk merencanakan berbagai subyek dan mata pelajaran dalam tahapan bertingkat. Sehingga dengan demikian inter-relasi dapat dipertahankan. Kelima, perkembangan pribadi dilihat dalam kontek hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam.

Ali Asraf berpendapat bahwa pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas murid-murid sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan dan pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang dirasakannya. Sikap tersebut terjadi karena berasal dari keyakinan ikhlas dari Tuhan.

Seorang pelajar yang mendapatkan pendidikan Islam tumbuh sebagai pribadi yang mencintai perdamaian, dapat hidup selaras, stabil, berbudi dan yakin sepenuhnya akan kemurahan Tuhan yang tak terbatas.

Konsep nilai-nilai Islam mempunyai obyektifitas dan universalitas, dan bukan kesadaran yang bersifat subyektif individu, kelompok maupun ras. Agama sebagai penyedia norma bagi manusia mempunyai kesempatan untuk pendidikan. Islam sebagai agama mempunyai sasaran yang jelas, seimbang dan menyeluruh. Manusia dalam konsep Islam dianggap sebagai wakil Tuhan yang potensial. Untuk menjadi manusia wakil Tuhan maka manusia hendaknya memiliki kebijaksanaan. Manusia diharapkan belajar melalui eksperimen dan menyusun rincian proses yang luas sebagaimana telah diberikan Allah kepada manusia. Dalam kontek hubungan antara Tuhan, manusia dan alam pendidikan hendaknya mengarahkan peserta didik untuk mengarahkan semua aktivitasnya kepada tiga hal tersebut. Menurut Konperensi Dunia pertama tentang pendidikan Islam yang diadakan di Mekah pada tahun 1977, dinyatakan bahwa:

“Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia secara total melalui latihan semangat, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tumbuh. Karena itu pendidikan, pendidikan seharusnya memberikan jalan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya secara spiritual, intelektual, imajinatif, fisikal, ilmiah, linguistic, baik secara individual maupun secara kolektif di samping memotivasi semua aspek tersebut kearah kebaikan dan kesempurnaan.”

Tetapi, pendidikan masih berkiblat kepada konsep pendidikan Barat. Pendidikan berkiblat pada tataran praktis, metode dan kurikulum yang mereka adopsi dan cocokkan dengan ajaran Islam, padahal konsep Barat berbeda dengan konsep Islam, baik dari budaya. Latar belakang keyakinan, nilai-nilai yang dihormati, jauh berbeda. Seharusnya pendidikan Islam diarahkan berdasar tujuan pendidikan yang disepakati pada komperensi pendidikan islam pertama di Mekah. Kalau tidak maka konsep pendidikan Barat dengan kurikulumnya tidak akan menyatu dengan konsep pendidikan Islam, karena pada dasarnya pendidikan Islam sangat berbeda pada beberapa prinsip.

Kurikulum tidak dapat disebut berciri Islam kalau sekiranya tidak semua subyek diajarkan dari sudut pandang Islam. Dan buku-buku dasar yang ditulis dari sudut pandang Islam. Dengan demikian untuk mendapatkan kurikulum yang benar-benar berwatak Islam masyarakat Muslim membutuhkan buku-buku teks dan sebuah metode pengajaran yang benar-benar berwatak Islam.

Pengembangan buku-buku teks, problema penyusunan kurikulum, serta bagaimana memformulasikan konsep Islam dalam rangka islamisasi ilmu pengetahuan. dengan berbagai permasalahannya dan pemecahannya.

Buku teks berisi bahan untuk dipelajari secara terinci oleh para pelajar, baik di rumah, sekolah, maktab, dan universitas. Ada pengunaan yang berbeda, baik dari segi jenjang pendidikan, perkembangan psikologis, moral dan intelektualnya. Tentunya penyusunan tersebut mengacu kepada aspek sudut pandang teknik, moral, intelektual, emosional atau spiritual tertentu. Di sisi lain, guru yang ingin membuat buku ajar hendaknya menguasai dan memahami teknik penulisan, bahan tertulis, memahami implikasi dan hubungannya terhadap konsep lainnya. Buku teks berisi bahan untuk dipelajari secara terinci oleh pelajar di rumah, sekolah, maktab dan universitas.

Konsep pendidikan Islam dapat secara praktis diwujudkan melalui kurikulum, yang harus dirumuskan pertama untuk menjamin bahwa buku-buku teks yang tepatlah yang dihasilkan. Hal –hal yang hendaknya diperhatikan dalam menyusun kurikulum Islam adalah, pertama, konsep Islam tentang manusia sangat luas. Kedua, pengetahuan adalah sumber kemajuan dan perkembangan, Islam tidak membatasi pencapaian pengetahuan. Ketiga, besarnya penilikan harus konprehensif. Keempat, aspek spiritual, moral, intelektual, imajinatif dan fisik dan kepribadian seseorang harus perhatikan ketika membuat interelasi antara berbagai disiplin.

Pertumbuhan kemampuan dan pikiran seorang anak harus menjadi pertimbangan untuk menyusun subyek dan rangkaian pelajaran dalam tahap-tahap yang bertingkat. Kelima, perkembangan kepribadian seharusnya dilihat dalam konteks hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam. Dalam, pengembangan kurikulum perlu juga pemantapan hirarki pengetahuan, pengetahuan intelektual hendaknya juga menjadi perhatian, termasuk keyakinan dan etika harus ditanamkan kepada seorang anak sejak tahap awal. Penjelasan tersebut merupakan hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam perencanaan kurikulum.

Rintangan kurikulum rencana pengembangan kurikulum Islam, seperti rintangan politik, rintangan tersebut biasanya datang dari pihak pemerintah, baik pemerintah saat itu maupun kebijakan pemerintah kolonial dan sekuler Barat. Rintangan filosofis, dianggap berat bagi perencanaan kurikulum Islam, sebagai contoh ketika sebuah Negara yang mayoritas muslim berusaha menyusun sebuah perencanaan kurikulum pendidikan yang searah dengan tujuan agama, tetapi di sisi lain, Negara itu juga menganut cita-cita yang berseberangan dengan tujuan pendidikan Islam.

Menurut Ali Asraf kontradiksi tersebut terjadi akibat kurangnya pemikiran dan hasrat untuk menyusun sebuah kompromi antara kebutuhan- kebutuhan Islam dan system pendidikan modern. Berhasil tidaknya islamisasi kurikulum Islam tergantung pada adanya konsep yang sesuai setiap cabang pengetahuan. Dari berbagai teknik yang dikembangkan oleh Barat, ada teknik yang baik, yaitu teknik dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya, teknik tersebut adalah teknik mempraktekkan secara langsung.

Di sisi lain, penyusunan kurikulum sering terjebak dalam lingkarang filsafah hidup, sehingga kurikulum tidak memperhatikan pendidikan itu sendiri, padahal seharusnya kurikulum disusun untuk pendidikan bukan untuk falsafah pendidikan. Mungkin kalau falsafah tersebut berdasarkan sumber yang sama ada celah untuk titik temu, tetapi permasalahannya adalah tidak adanya titik temu dalam tingkat tujuan, isi dan pengaturan kurikulum. Seperti pertentangan tujuan, isi dan pengaturan terjadi Amerika Serikat. Menanggapi hal ini Ali Asraf menyatakan bahwa umat Islam hendaknya belajar tentang psikologi anak. Selama ini penyusunan kurikulum dalam Islam masih mengacu kepada konsep Barat yang pada dasarnya berasal dari pengembangan keilmuan Yunani. Tradisi keilmuan Yunani diislamisasi oleh para sarjana muslim. Menurut Ali Asraf yang perlu dilakukan adalah meniru gaya ilmuan muslim tersebut yaitu tradisi rasionalisme akademis, dengan mengikuti prinsip mereka dalam melakukan islamisasi.

Sebagaimana diketahui bahwa ilmuan muslim pada waktu itu mengislamisasi segala ilmu dan menjadikan ilmu itu berwatak islam. Berbagai ilmu tersebut berwatak Islam karena dimasukkan kedalam konsep islam. Dengan demikian menurut Ali Asraf rasionalisme akademis dari Barat membuat kurikulum yang menjadikan seseorang berbudi dan bukan orang yang religius.

Tetapi, tradisi pendidikan Islam membuat kurikulum yang menjadikan seseorang menjadi religius. Tetapi disayangkan tradisi pendidikan dewasa ini menurut Ali Asraf mengalami gangguan karena pengabaian sebagian besar cabang pengetahuan yang diperoleh, dan karena kurangnya formula konseptual yang dapat membantu mengasimilasikan cabang-cabang pengetahuan itu. Karena itu diperlukan riset-riset intensif untuk merumuskan konsep-konsep Islam untuk semua cabang pengetahuan. Menurut Ali Asraf berhasil tidaknya islamisasi kurikulum tergantung pada adanya konsep yang sesuai untuk setiap cabang pengetahuan. Sehingga sekulerisasi yang mendominasi semua cabang pengetahuan dapat digantikan oleh konsep Islam. Untuk itu perlu kerja keras para sarjana muslim untuk mewujudkan hal tersebut.

Menurut Ali Asraf untuk merealisasikan rencana kurikulum perlu realisasi praktis, di antara yang perlu segera dilakukan adalah menyusun proyek jangka pendek, yang proyek tersebut dilakukan secara serentak seperti pemikiran filosofis dan konseptualisasi harus mendahului penulisan buku-buku teks agar para penulis buku teks menulis sesuai dengan garis-garis yang telah ditetapkan, prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.perlu segera dibuat kurikulum untuk tingkat sekolah menengah dan madrasah di seluruh dunia Islam berdasarkan rekomendasi yang telah ditatapkan oleh pakar pendidikan islam dalam komperensi. Program jangka panjang perlu dilakukan adalah memasukkan filsafat pendidikan pada sekolah menengah, kalau perlu pada tingkat dasar. Sedangkan untuk jangka panjang perlu membuat buku-buku teks yang mengandung nilia- nilai Islami, merevisi buku-buku teks dan silabus unversitas dalam semua cabangnya.. kemudian proyek jangka panjang lainya adalah dengan melakukan analisis kurikulum berdasarkan sudut pandang Islam. Dan yang terakhir adalah persiapan membuat antologi bahan bacaan, seperti ekonomi, sosiologi, histriografi, agama komparatif,, sains dan teknologi, serat bacaan lainnya. Dalam segi metodologi Ali Asraf memberi jalan keluar dengan menanyakan bahwa metode modern yang ada dapat di islamisasikan dengan diberi nilai relijius.

Dapat disimpulkan bahwa dalam buku Ali Asraf tentang Horison Pendidikan Pendidikan Islam, sebagai berikut; perlunya memberi definisi terhadap pendidikan Islam, menurut Ali Asraf Pendidikan Islam tidak hanya berarti pengajaran teologis atau pengajaran al-Quran, hadis, dan fiqh, seprti yang umum dipegang selama ini. Untuk membentuk pendidikan berwatak Islam, para ahli pendidikan dan pihak yang berkompeten hendaknya menunjukkan bagaimana prespektif total ini memberikan tanggapan seimbang mengenai manusia. Salah satu penyebab timbulnya konflik dalam masyarakat silam adalah system pendidikan dwi system pendidikan, yaitu pendidikan tardisional dan modern, dan untuk memadukan atau mengintegrasikan kedua hal tersebut adalah dengan kurilulum, silabus mata pelajaran dan buku-buku teks dibuat berdasarkn konsep Islam.

Integrasi hendaknya didukung oleh konseptualisasi dan latihan terhadap guru. Restrukturisasi pendidkan guru, karena guru menjadi model bagi siswa. Untuk itu guru hendaknya mengetahui teori Islam tentang pendidikan Islam dan diajarkan untuk menyadari akan keunggulan system pendidikan Islam disbanding dengan pendidikan Barat. Guru hendaknya menyadari bahwa pemikiran sekuler mendominasi setiap subyek, serta menyadarkan para guru akan pendekatan mereka selama ini yang penuh dengan pendekatan sekuler.Untuk itu kepada para guru hendaknya diperkaya dengan pendekatan Islam untuk menghadap setiap cabang pengetahuan. Buku ini penting bagi mahasiswa dan dosen serta praktisi Pendidikan Islam, terutama yang ingin memahami langkah-langkah islamisasi pengetahuan dan penyusunan kurikulum Islami.

Read Full Post »

Mu’tazilah

Kalam muncul dalam lingkungan ulama tradisional pada tahun kedua hijriyah yang kemudian dikenal dengan nama mu’tazilah. Pendirinya adalah Wasil bin Ata’ (w.131/748). Ia mempunyai murid terkenal bernama Hasan al-Basri. Hasan Basri terkenal ahli dalam bidang sufisme dan hadis. Hasan absri tinggal di Basra.

Mu’tazilah dikenal dalam sejarah sebagi aliran yang mengusung pemikiran bebas dan rasional . hal tersebut diakui oleh para ilmuwan Islam maupun Barat. Aliran pemikiran ini berkembang pesat di Irak. Di antara ulama pendiri mu’tazilah dari Basra adalah Abul Hudhayl al-Alaf (w.226/840), Abu Ishaq al Nazzam(w.231/845), Amr ibn Bahr al-Iahiz(w.255/869). Ada juga pendiri mu’tazilah yang berasal dari Bagdad yaitu Abu Ali al-Jubbai (w.303/915), Bisyr al-Mu’tamir (w.210/825).

Pada awal abad ke 3/9, mu’tazilah mulai kurang beruntung, karena kedudukannya sebagialiran pemikiran mulai digeser oleh aliran kalam pada waktu itu, yaitu aliran Asyariyah. Meskipun demikian aliran Mu’tazilah tidak hancur atau mati tetapi masih berkembang meskipun tidak terlalu menjadi mainstream di tengah masyarakat. Aliran ini mampu bertahan hingga dua abad berikutnya.

Dalam sejarah pemikiran Islam, Mutazilah menjadi terkenal dengan lima prinsipnya (al Usul al khamsah), yang kelima prinsip tersebut merupakan ringkasan dasar dari jaran mu’tazilah. Kelima prinsip tersebut adalah, keesaan, keadilan, janji dan ancaman, dalam posisi di antara orang Muslim yang berbuat dosa, mendesak manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat. Mu’tazilah mengatakan pentingnya transendensi Tuhan dalam suatu cara menempatkan Tuhan pada ide yang abtrak.

Mu’tazilah berusaha menghindari penafsiran nama nama Allah yang bersifat antrophosentrisme. Sebab Tuhan adalah Esa. Mu;tazilah mengklaim bahwa manusia tidak dapat mengerti makna sesungguhnya tentang sifat-sifat ilahi., seprti penglihatan pendengaran kaki, tangan, dan sifat Ilahi tidakm mempunyai fakta realitas pada pandangan mu’tazilah. Mu’tazilah meyakini bahwa al-Quran tidak kekal, bahkan mengatakan bahwa al-Quran sebagai kalam Tuhan tidak kekal.

Mu;tazilah menekankan pentingnya keadilan, keadilan menurut mutazilah adalah bahwa Tuhan adalah Maha Bijaksana, dengan demikian Tuhan harus mempunyai tujuan dalam menciptakan alam semesta ini. Di lain pihak harus juga memberi bekal keadilan, kebaikan, keburukan yang obyektif dalam ciptaan Tuhan. Tuhan harus adil kepada siapa saja. Meskipun orang itu tidak patuh kepada-Nya. Tuhan Maha baik sehingga tidak dapat melawan sifat-sifatnya, Tuhan harus selalu melakukan keadilan dan berbuat yang terbaik. Mu’tazilah percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah berbuat jahat. Sebaliknya kejahatan dan keburukan diciptakan oleh manusia, yang menurut Mu’tazilah manusia telah diberi kemerdekaan utnuk melakukan perbuatan baik dan buruk. Oleh karena itu menusia harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya.

Janji dan ancaman, berhubungan dengan kelompok manusia yang beriman, fasiq dan mereka yang inkar. Menurut Mu’tazilah iman saja tidak cukup, tetapi iman harus menghindari dari dosa yang menyakitkan.Muta;zilah menyatakan bahwa manusia yang “berada di antara” posisi sebagai orang yang berbuat dosa. Orang-orang muslim yang melakuklandosa berada di posisi antara mukmin dan kafir, manzilah bayn al manzilataayn,. Prinsip terakhir Mu’tazilah adalam prinsip menyuruh orang berbuat baik,sekaligus melalarng mereka berbuat buruk. Allah Alam.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

Riwayat’s Blog-Muhammad Kosim LA mempertanyakan kenapa umat Islam terbelakang? (Haluan,2/06/2007), Kosim menyatakan bahwa salah satu penyebab umat Islam terbelakang diakibatkan umat Islam mengabaikan ayat-ayat Allah. Yaitu ayat qouliyah (Al-Quran) dan ayat qauniyah (fenomena alam semesta). Lebih lanjut Kosim menyayangkan umat Islam tidak memanfaatkan kedua ayat tersebut di atas, hal ini dapat dilihat dari kenyataan umat Islam saat ini yang tidak mampu mengembangkan salah satu di antara ayat-ayat qauliyah dan ayat qauniyah. Bahkan ayat qauniyah lebih banyak dikembangkan dan dimanfaatkan oleh bangsa Barat.

Pertanyaannya adalah kenapa umat Islam belum mampu mengembangkan, mengkaji ayat-ayat qouliyah dan qauniyah? Apa sebenarnya factor penghambat kemunduran sains dan intelektual Islam? padahal umat Islam mengklaim diri sebagai umat pilihan, umat terbaik, mempunyai sebuah kitab suci yang menjujung sainsdan teknologi, memotivasi manusia untuk menjadi seorang peneliti dan ilmuwan, tetapi klaim itu belum memberikan pengarauh signifikan bagi kemaslahatan umat Islam. Bahkan, dari segi intelektual umat Islam masih sangat jauh tertinggal di tingkat dunia. Indicator yang menjadi tolak ukur adalah jumlah artikel yang dipublikasikan di jurnal-jurnal internasional. Dari publikasi inilah nantinya dapat diketahui dan dijadikan penilaian kualitas sains suatu negara.

Irwan Jaswir Professor Bioteknologi Internasional Islamic University Malaysia mengutip dari data Science Citation Index dan Social Sciences Citation Index menyatakan bahwa jumlah publikasi ilmiah 47 Negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Koeferensi Islam (OKI) hanya 13 dari satu juta penduduk. Sedangkan rata-rata indek tingkat dunia adalah 137, lebih lanjut dalam penelitian tersebut dari 47 negara OKI tidak satupun yang mencapai angka 107. dan 28 negara yang terparah dan terendah produktivitas artikel ilmiah separuhnya adalah anggota OKI.

Lebih lanjut Jaswir mengatakan rendahnya publikasi ilmiah di tingkat dunia juga dipengaruhi oleh rendahnya dan sedikitnya jumlah peneliti di Negara-negara OKI. Data dari Bank Dunia pada tahun 1996-2003 tergambar bahwa jumlah peneliti di Negara-negara OKI adalah 500 orang persatu juta penduduk, kalau kita bandingkan dengan negara-negara yang telah maju di bidang sains seperti, Jepang, Swedia, dan Islandia, Negara-negara OKI sangat jauh tertinggal, menurut Bank Dunia Jepang, Swedia dan Islandia mempunyai 5000 peneliti setiap satu juta penduduk. Sedangkan Negara-negara OKI yang mempunyai peneliti terbanyak di miliki oleh Yordania dengan 1.927 peneliti per satu juta penduduk.

Menurut Yusuf Qaradhawi, ketidakmampuan dalam mengembangkan ayat qauliyah dan qauniyah juga dpengaruhi oleh pola piker literalis pergerakan-pergerakan keislaman, pola piker mereka masih belum terbuka dalam kebebasan berfikir/ijtihad, terutama dalam pengembangan yang bersifat sains dan teknologi. Umat Islam yang sudah mulai meninggalkan pola piker literalis adalah Turki dan Iran, pemeritahan di sana memberi kebebasan berfikir, sehingga kebebasan berfikir merata di kalangan masyarakatnya. Yang pada akhirnya sains dan teknologi mulai bangkit di Negara itu.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai salah satu anggota OKI Indonesia juga mengalami nasib menyedihkan dibanding anggota OKI lainnya. Menurut data dari Science and Engineering Indicators tahun 2003 Indonesia hanya mempublikasikan artikel ilmiah di jurnal internasional sebanyak 178 per tahun, Malaysia 520 artikel ilmiah, Vietnam 206 artikel ilmiah, Filipina 179 artikel ilmiah, Thailand 1072 artikel ilmiah, Singapura 3122 artikel ilmiah, Korea Selatan 13.746 artikel ilmiah, Jepang 60.067 artikel ilmiah.

Apakah para intelektual dan saintis Indonesia tidak melakukan penelitian, apakah intelektual dan saintis Indonesia kurang kompetitif dan kurang berkualitas? Seharusnya data di atas memberi motivasi dan cambuk bagi umat Islam Indonesia untuk memperbaiki diri dan membuktikan bahwa bangsa ini juga mampu bersaing dengan Negara-negara lain di dunia. Apalagi umat Islam di Indonesia diakui sebagai pemeluk Islam yang moderat, sehingga sangat memungkinkan untuk mengembangkan pemikiran yang lebih bebas dan kreatif, peluang pemikiran yang bebas membuka kebuntuan pola piker dalam mengembangkan ayat-ayat qauliyah dan qauniyah, hal ini perlu dilakukan agar umat Islam bangkit dari kelemahan intelektual, tidak saatnya lagi bernostalgia dengan keberhasilan dan keunggulan intelektual Islam masa lalu, tetapi yang lebih pentig adalah bangkit dan berusaha menghidupkan kembali budaya meneliti yang pernah ditorehkan oleh saintis dan ilmuwan Islam masa lalu..

Sudah saatnya umat Islam kembali mengkaji ayat-qauliyah dan qauniyah, agar kejayaan masa lalu dapat diraih kembali, tetapi ada factor-faktor lain yang perlu segera dibenahi, di antaranya adalah memberi perhatian besar terhadap dunia pendidikan, karena dengan pendidikan umta Islam akan bangkit dari kebodohan dan keterpurukan. Perhatian terhadap pendidikan hendaknya mencakup kurikulum sarana dan parasarana, serta sumber daya manusianya. Dengan harapan nantinya dunia pendidikan mampu memberi pengajaran yang menyeluruh, baik pengkajian yang bersifat qauliyah maupun bersifat qauniyah, intinya ada keseimbangan antara pendidikan yang bersifat keislaman dengan pendidikan yang bersifat sains dan teknologi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketertinggalan umat Islam dalam sains dan teknologi juga di akibatkan rendahnya penguasaan bahasa terutama bahasa Inggris, sebab sebagian besar literatur pengetahuan hampir delapan puluh persen berbahasa Inggris, kelemahan penguasaan bahasa menjadi penghambat kemajuan sains Islam, kenyataan ini tidak terbantahkan karena hampir di semua Negara Islam termasuk Indonesia bahasa Inggris masih belum banyak di kuasai, bahkan belum banyak dijadikan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, untuk itu agar umat Islam bangkit dalam bidang sains tentunya perlu menguasai bahasa Inggris dan kalau perlu bahasa Inggris menjadi bahasa pengantar dalam dunia pendidikan kita.

Kemiskinan menjadi factor penghambat kemajuan sains dan teknologi, kemiskinan yang mendera mengakibatkan umat Islam Indonesia bergelut dalam kubangan kemiskinan, para intelektual Islam masih berkutat dalam pemecahan kemiskinan, tidak dipungkiri kemiskinan masih menjadi problem yang mendasar bangsa ini, menurut data dari Tim Indonesia Bangkit pada bulan Februari 2005 orang miskin di Indonesia 16 persen, kemudian pada Juli 2005 menjadi 18,7 persen, dan pada Maret menjadi 22 persen. Jangankan memikirkan masalah penelitian sains dan teknologi untuk memikirkan isi perut saja susah, maka untuk kembali bangkit dari keterpurukan sains dan teknologi tentunya juga perlu membenahi terlebih dahulu masalah kemiskinan, sebab kemiskinan akan membawa seseorang kepada kemiskinan yang lebih komplek.

Keadaan di atas, berakibat kepada pengabaian ilmuwan Indonesia, pengabaian ini diakibatkan belum adanya tempat bagi para ilmuwan untuk mengembangkan kariernya sesuai dengan keilmuwan yang dimilikinya, sehingga pada akhirnya ilmu yang didapatkan dari luar negeri menjadi tidak tersalurkan dengan baik, bahkan terkadang mereka lebih suka bekerja sebagai birokrat di lembaga pemerintahan, menurut mereka bekerja di birokrasi lebih menjanjikan daripada harus melakukan penelitian.

Budaya baca yang rendah juga menjadi factor kemunduran sains dan teknologi umat Islam, padahal ayat pertama yang di turunkan oleh Allah adalah perintah untuk membaca,”Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah .Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(Qs. Al-Alaq: 1-5).

Dari ayat dapat dipahami bahwa untuk bangkit dari kebodohan dan keterpurukan di bidang keilmuan adakah dengan banyak membaca, membaca apa saja yang dapat dibaca, selain membaca kita juga disuruh oleh Allah untuk menuliskannya, artinya adalah mempublikasikan, ironisnya budaya baca yang diperintahkan oleh Allah banyak diabaikan, sehingga tidak heran kalau umat Islam lebih banyak menjadi umat penonton, umat yang hanya pandai berkomentar, tetapi tidak banyak mempunyai tradisi membaca, waktu lebih banyak untuk mernonton daripada untuk membaca, budaya baca yang sangat rendah berakibat kurangnya budaya riset, dan inilah cikal bakal kemunduran sains Islam, budaya baca yang rendah berakibat kepada kurangnya minat berfikir rumit, yang terjadi adalah sebaliknya, umat Islam lebih suka berfikir ringan, tidak suka bersulit-sulit, dalam menonton pun bangsa Indonesia lebih suka yang bersifat hiburan, tetapi masih sedikit yang menonton tayangan bersifat keilmuan dan teknologi.

Kebiasaan menonton menjadikan umat Islam Indonesia menjadi umat konsumen, umat yang terima bersih, terima beres tidak ingin susah kalau ada yang mudah, keadaan ini menjadikan umat Islam enggan untuk menemukan atau mengadakan penelitian sendiri, apalagi berfikir menjadi produsen, untuk itu perlu kesadaran umat Islam untuk membangkitkan budaya baca, sehingga lahir berbagai pemikiran, pikiran dan wawasan terbuka luas seluas alam ini. Berawal dari membacalah akan terbuka gerbang ilmu, pendidikan tanpa budaya membaca akan sia-sia, membaca tanpa penelitian akan kesulitan, sedangkan penelitian tanpa publikasi akan mati. Allahu A’lam.

Read Full Post »

By.Riwayat

A. Pendahuluan

Perencanaan adalah sesuatu yang penting sebelum melakukan sesuatu yang lain. Perencanaan dianggap penting karena akan menjadi penentu dan sekaligus memberi arah terhadap tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian suatu kerja akan berantakan dan tidak terarah jika tidak ada perencaan yang matang, perencaan yang matang dan disusun dengan baik akan memberi pengaruh terhadap ketercapaian tujuan. Penjelasan ini makin menguatkan alasan akan posisi stragetis perencanaan dalam sebuah lembaga dalam perencanaan merupakan proses yang dikerjakan oleh seseorang manajer dalam usahanya untuk mengarahkan segala kegiatan untuk meraih tujuan.[1]

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami perencanaan menentukan berhasil tidaknya suatu program, program yang tidak melalui perencanaan yang baik cenderung gagal. Dalam arti kegiatan sekecil dan sebesar apapun jika tanpa ada perencanaan kemungkinan besar berpeluang untuk gagal.

Hal tersebut juga berlaku dalam sebuah lembaga, seperti lembaga pendidikan, lebih khusus lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan yang tidak mempunyai perencanaan yang baik akan mengalami kegagalan. Hal ini tentunya makin memperjelas posisi perencanaan dalam sebuah lembaga.

Untuk memperlancar jalannya sebuah lembaga diperlukan perencanaan, dengan perencanaan akan mengarahkan lembaga tersebut menuju tujuan yang tepat dan benar menurut tujuan lembaga itu sendiri. Artinya perencanaan memberi arah bagi ketercapaian tujuan sebuah system, karena pada dasarnya system akan berjalan dengan baik jika ada perencanaan yang matang. Perencanaan dianggap matang dan baik jika memenuhi persyaratan dan unsur-unsur dalam perencanaan itu sendiri.

B. Pengertian perencanaan

Pengertian perencanaan mempunyai beberapa definisi rumusan yang berbeda satu dengan lainnya. Cuningham menyatakan bahwa perencanaan adalah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima dan digunakan dalam penyelesaian.[2] Perencanaan dalam pengertian ini menitikberatkan kepada usaha untuk menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya.

Definisi lain menyatakan bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya yang berkaitan dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program,dan alokasi sumber.[3]

Perencanaan mempunyai makna yang komplek, perencanaan didefinisikan dalam berbagai bentuk tergantung dari sudut pandang, latar belakang yang mempengaruhinya dalam mendefinisikan pengertian perencanaan. Di antara definisi tersebut adalah sebagai berikut: Menurut prajudi Atmusudirjo perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam mencapai tujuan tertentu, oleh siapa, dan bagaimana. Bintoro Tjokroamidjojo menyatakan bahwa perencanaan dalam arti luas adalah proses memprsiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Muhammad Fakri perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Lebih lanjut Muhammad Fakri menyatakan bahwa perencanaan dapat juga dikatakan sebagai suatu proses pembuatan serangkaian kebijakan untuk mengendalikan masa depan sesuai yang ditentukan.[4] Dari kutipan tersebut dapat dianalisis bahwa dalam menyusun perencanaan perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan masa depan, adanya kegiatan, proses yang sistematis, hasil dan tujuan tertentu.

Kaufman mengatakan bahwa perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan secara sah dan berdaya guna.[5] Dari pendapat Kaufman tersebut dapat dipahami bahwa perencanaan merupakan sesuatu yang menjadi keperluan dalam sebuah system untuk mendukung tercapainya tujuan. Tidak itu saja selain mendukung tercapainya tujuan suatu system maupun lembaga perencanaan yang dipersiapkan hendaknya bermanfaat secara aplikasi, dan lebih penting adalah dikerjakan dan disusun berdasarkan kepatutan serta tidak melanggar norma yang berlaku. Menurut Kaufman dalam perencanaan mengandung elemen-elemen sebagai berikut, pertama mengindentifikasi dan mendokumentasikan kebutuhan. Kedua, menentukan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat prioritas. Ketiga, memperinci spesifikasi hasil yang dicapai dari tiap kebutuhan yang dipioritaskan. Keempat, mengidentifikasi persyaratan untuk mencapai tiap-tiap alternatif. Kelima, mengidentifikasi strategi alternative yang memungkinkan, termasuk di dalamnya peralatan untuk melengkapi tiap persyaratan untuk mencapai kebutuhan, untung rugi berbagai latar dan strategi yang digunakan.[6]

Uraian tersebut, memperjelas bahwa perencanaan berkaitan dengan pemilihan dan penentuan kebijakan tertentu. Harjanto memberi komentar terhadap pendapat Kaufman bahwa perencanaan merupakan proses untuk menentukan kemana harus melangkah dan mengidentifikasi berbagai persyaratan yang dibutuhkan dengan cara efektif dan efesien. Harjanto menyatakan bahwa perencanaan mengandung enam pokok pikiran yaitu, pertama perencaaan melibatkan proses penentapan keadaan masa depan yang diinginkan. Kedua, keadaan masa depan yang diinginkan dibandingkan dengan kenyataan sekarang, sehingga dapat dilihat kesenjangannya. Ketiga, untuk menutup kesenjangan perlu dilakukan usaha-usaha. Keempat, uasaha untuk menutup kesenjangan tersebut dapat dilakukan derngan berbagai usaha dan alternative. Kelima, perlu pemilihan alternative yang baik, dalam hal ini mencakup efektifitas dan efesiensi. Keenam, alternative yang sudah dipilih hendaknya diperinci sehingga dapat menajdi petunjuk dan pedoman dalam pengambilan kebijakan.[7]

Beeby C.E sebagaimanan dikutip oleh Asnawir menyatakan bahwa perencanaan pendidikan adalah penerapan ramalan dalam menentukan kebijaksanaan, prioritas, ekonomi dan politik, potensi system untuk berkembang, kepentingan Negara dan pelayanan masyarakat yang mencakup dalam system tersebut.[8]

Dari kutipan tersebut dapat dipahami bahwa perencanaan merupakan aplikasi dari pemikiran yang tersusun untuk mencapai keinginan bersama. Dengan demikian perencanaan yang di susun merupakan konsep yang aplikatif dan oprasional. Dapat juga merupakan aktifitas untuk mengambil keputusan. Hal senada juga dikatakan oleh George R. Terry bahwa perencanaan merupakan aktifitas pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilakukan, di mana, kapan dilakukan, bagaimana melakukan dan siapa yang akan melakukan, sehingga tercapainya tujuan yang dinginkan.[9]

Dengan demikian perencanaan adalah usaha untuk menggali siapa yang bertangungjawab terhadap berbagai aktifitas tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Aktifitas tersebutkan tergambar dalam sebuah perencanaan yang matang dan komprehensif. Hal ini dapat dipahami dari pendapat George R. Terry tersebut. Di sisi lain, perencanaan dapat dikatrakan sebagai usaha mencari penangggungjawab terhadap berbagai rumusan kebijakan untuk dilaksanakan bersama sesuai dengan bidang masing-masing.

Asnawir menyatakan perencanaan adalah kegiatan yang harus dilakukan padatingkat permulaan, dan merupakan aktifitas memikirkan dan memilih rangkaian tindakan yang tertuju pada tercapainya maksud dan tujuan yang ingin dicapai.[10]

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk merencanakan segala kegiatannya.” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(Qs.Al-Hasyr:18). Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa perlunya perlunya perencanaan untuk masa depan, apakah untuk diri sendiri, pemimpin keluarga, lembaga, masyarakat maupun sebagai pemimpin Negara.

Allah sebagai pencipta, Allah sebagai Perencana semua makhluk ciptaannya, Allah adalah Maha Merencanakan, Al-Bari, sifat tersebut menjadi inspirasi bagi umat islam terutama para manajer. Karena pada dasarnya manajer yang harus mempunyai banyak konsep tetang manajemen termasuk di dalamnnya perencanaan pemimpin yanb adalah yang mempunyai visi dan misi, dan membangun kedua hal tersebut agar berjalan sesuai dengan tujuan bersama. Visi dan misi merupakan hasil dari perencanaan yang baik dan matang. Menurut Soejitno Irmin dalam buku Kepmimpinan Melalui Asmaul Husna menyatakan bahwa perencanaan merupakan proses kegiatan yang tertata rapi yang bertahap dan bekelanjutan.[11]

Dari kutipan tersebut dapat dicermati bahwa perencanaan adalah proses yang berkelanjutan, bertahap dan tertata rapi. Artinya perencanaan tidak bersifat mutlak, kaku tetapi ada peluang untuk perbaikan dan sisipan kebijakan baru. Dengan demikian perencanaan adalah proses yang berkelanjutan dalam rangka menyempurnakan aktifitas untuk mewujudkan tujuan bersama.

Menurut Coom dalam definisi perencanaan pendidikan dibahas paling tidak tempat hal sebagai berikut: pertama tujuan, apakah yang akan dicapai dengan perencanaan itu? Kedua, status posisi system pendidikan yang ada, bagaimanakah keadaan yang ada sekarang? Ketiga, kemungkinan pilihan alternative kebijakan dan prioritas untuk mencapai tujuan. Keempat, strategi.

Dari beberapa definisi tersebut, dapat dipahami bahwa ada beberapa unsure penting yang terkandung dalam perencanaan pendidikan, yaitu Pertama penggunaan analisis yang bersifat rasional dan sistematik dalam perencanaan pendidikan, termasuk di dalamnya metodologi dalam perencanaan. Kedua, proses pembangunan dan pengembangan pendidikan. Artinya adalah perencanaan pendidikan dilakukan dalam rangka perbaikan pendidikan atau reformasi pendidikan. Ketiga prinsip efektifitas dan efesien, artinya dalam perencanaan pendidikan perlu dipikirkan aspek ekonomis. Keempat kebutuhan dan tujuan peserta didik dan masyarakat, regional, nasional dan internasional, artinya perencanaan lembaga pendidikan hendaknya mencakup aspek internal dan eksternal dari organisasi sistem lembaga pendidikan.[12] Dengan demikian perencanaan pendidikan sekedar untuk internal lembaga pendidikan, anak didik, lebih dari itu pertimbangan lingkungan masyarakat sebagai pengguna sekaligus penerima hsil perlu dipertimbangkan, termasuki juga kebutuhan regional, nasional dan internasional, ini artinya adalah menyusun perencanaan hendaknya bersifat universal untuk jangka pendek dan jangka panjang yang kesemuanya bermuara kepada kebutuhan dan tujuan universal.

C. Unsur-Unsur dan Syarat-Syarat Menyusun Perencanaan.

Perencanaan membutuhkan pemkiran yang mendalam dengan pemikiran yang mendalam akan membantu proses perencanaan yang akan buat. Pemikiran tersebut dilandasi dengan keikhlasan dan keinginan untuk merencanakan suatu sebuah perencanaan bersama. Lebih dari dalam proses perencanaan hendaknya memperhatikan pendapat dan aspirasi bersama, Islam menurut Asnawir dalam bukunya Manajemen Pendidikan, paling tidak dalam menyusun perencanaan pendidikan, termasuk perencanaan pendidikan Islam, perlu memperhatikan empat unsur, pertama tujuan hendaknya jelas, yang tercakup perumusan sasaran untuk mencari solusi dari problem yang ada. Kedua, menetapkan teknik pengumpulan dan pengolahan data. Ketiga, berorentasi ke masa depan yang bersifat prediksi. Keempat, adanya kegiatan yang tersusun, terangkai untuk mencapai tujuan.[13] Keempat unsur tersebut hendaknya menjadi perhatian bagi manajer sebelum menyusun perencanaan. Hal ini perlu karena berhubungan dengan kualitas, efektifitas dan efesiensi dalam isi kebijakan yang tersusun dalam perencanaan.

Selanjutnya selain memperhatikan unsur-unsur tersebut pelu diperhatikan syarat-syarat dalam menyusun perencanaan, yaitu pertama, perencanaan dalam lembaga pendidikan Islam hendaknya memperhatikan dan didasarkan kepada tujuan yang jelas. Kedua, dalam perencanaan hendaknya mengutamakan aspek kesederhanaan, realistis dan praktis. Ketiga, terinci dan memuat segala uraian, klasifikasi kegiatan dan rangkaian kegiatan sehingga memudahkan pelaksanaan serta memedomaninya. Keempat, memperhatikan fleksibilitas sehingga mudah beradaptasi dengan keadaan, kebutuhan dan kondisi dan situasi. Kelima, menghindari duplikasi dalam pelaksanaannya.[14] Dari uraian tersebut tergambar bahwa perencanaan dilakukan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan, di sisi lain, perencanaan di susun berdasarkan prioritas, efektif dan efesien.

Perencanaan menurut Asnawir adalah kegiatan yang harus dilakukan pada tingkat permulaan, lebih dari itu perencanaan merupakan aktifitas pemikiran, pemilihan rangkaian tindakan yang mengarah kepada tercapainya tujuan yang ingin diraih. Menurut Asnawir langkah –langkah perencanaan hendaknya meliputi hal-hal sebagai berikut:[15] Pertama, menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai. Kedua, meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan. Ketiga, mengumpulan data atau informasi-informasi yang diperlukan. Keempat menentukan tahap-tahap atau rangkaian tindakan. Kelima, merumuskan bagaimana masalah-masalah tersebut akan dipecahkan, dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan tersebut di selesaikan. Keenam, menentukan siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan dari tindakan tersebut. Ketujuh, menentukan cara bagaiman mengadakan perubahan dalam penyusunan rencana.

Ketujuh hal perlu mendapat perhatian dari para menejer yang akan menyusun perencanaan. Jika tidak diperhatian, maka rencana yang disusun dianggap gagal. Kegagalan tersebut kemungkinan lebih besar jika dibandingkan dengan perencanaan yang memperhatikan ketujuh hal tersebut. Dengan demikian ketujuh hal tersebut hendaknya menjadi perhatian para penyusun perencanaan agar tercapai tujuan. bersama. Hal lain yang perlu juga mendapat perhatian dalam menyusun perencanaan adalah jelasnya tujuan yang ingin dicapai, jelasnya tujuan yang kan dicapai, jelasnya potensi yang ada dan yang diharapakan, perlu keseimbangan, kesinambungan, koordinasi, keutuhan, data yang tepat dan menyeluruh serta adanya fleksibilitas.[16]

Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah sebagai berikut; pertama perencanaan pendidikan hendaknya mengutamakan nilai- nilai manusiawi, karena pada dasarnya pendidikan membangun manusia. Kedua perencanaan pendidikan hendaknya memberikan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi peserta didik seoptimal mungkin. Ketiga perencanaan pendidikan hendaknya memberikan kesempatan yang kepada peserta didik. Keempat, perencanaan pendidikan hendaknya menyeluruh dan sistematis terpadu serta tersusun logis dan rasional. Kelima, perencanaan pendidikan hendaknya bereorientasi kepada pembangunan sumber daya manusia. Keenam, perencanaan pendidikan hendaknya dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis. Ketujuh, perencanaan pendidikan hendaknya menggunakan sumber daya secermat mungkin karena sumber daya yang tersedia langka. Kedelapan, perencanaan pendidikan hendaknya beroreintasi kepada masa datang, karena pendidikan adalah proses jangka panjang yang kesemua itu untuk menghadapi masa depan. Kesembilan, perencanaan lembaga pendidikan hendaknya responsif terhadap kebutuhan yang berkembang di tengah masyarakat. Kesepuluh, perencanaan lembaga pendidikan hendaknya sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan hingga pembaharuan terus menerus.[17]

Dari kutipan tersebut tergambar dengan jelas bahwa perencanaanm lembaga pendidikan Islam sangat rumit. Dengan demikian perencanaan tidak dapat dilakukan tanpa adanya pemikiran yang matang komprehensif dan rasional. Untuk itu perhatian terhadap langkah-langkah perencanaan dan segala yang berkaitan dengan perencanaan penting bagi para manajer.

Paling tidak dalam penyusunan perencanaan hendaknya memenuhi hal tersebut, jika hal tersebut tidak dilalui maka ada kemungkinan renaca yang telah dibuat akan sulit untuk di realisasikan. Dengan demikian untuk menghindarkan dari kegagalan dalam menyusun perencanaan, langkah terbaik adalah menggunakan langkah-langkah yang telah teruji kebenarannya dalam menyusun perencanaan.

D. Ciri-Ciri Perencanaan Lembaga Pendidikan Islam

Ada beberapa ciri-ciri perencanaan lembaga pendidikan Islam adalah sebagai berikut: pertama, perencanaan pendidikan adalah suatu proses intelektual yang berkesinambungan dalam mengananlisis, merumuskan dan menimbang serta memutuskan dengan keputusan yang diambil harus mempunyai konsistensi internal dan berhubungan secara sistematis dengan keputusan-keputusan lain. Kedua perencanaan pendidikan selalu memperhatikan masalah, kebutuhan, situasi, dan tujuan, keadaan perekonomian, keperluan penyediaan dan pengembangan tenaga kerja bagi pembangunan nasional serta memperhatikan factor sosial politik merupakan bagian integral dari perencanaan pembangunan yang menyeluruh. Ketiga, tujuan perencanaan pendidikan adalah menyusun kebijaksanaan dan mengggariskan strategi pendidikan yang sesuai dengan kebijakan pemerintah yang menjadi dasar pelaksanaan pendidikan pada masa yang akan datang. Keempat perencanaan pendidikan sebagai perintis atau pelopor dalam kegiatan pembangunan hendaknya memperhatikan masa depan dan bersifat inovatif, kuantitatif dan kualitatif. Kelima, perencanaan pendidikan selalu memperhatikan dan menganalisa factor ekologi, baik internal maupun eksternal.[18] Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat dipahami dalam kontek pelaksanaannya tidak dapat diukur dan dinilai secara instant dan cepat, tetapi membutuhkan waktu yang lama, terutama yang bersifat kualitatif. Kenapa membutuhkan waktu yang lama? Karena pendidikan adalah sebuah pranata, pranata social yang hasilnya membutuhkan waktu yang lama.

E. Prinsip-Prinsip Perancangan dan Implementasi Perencanaan

Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, perencanaan lembaga pendidikan sangat komplek dan rumit, untuk itu perlu mengetahui prinsip-prinsip dalam proses implementasi dan penyusunan rancangannya. Di antara prinsip-prinsip tersebut adalah; pertama, perencanaan adalah interdisipliner, karena pendidikan sesungguhnya interdispliner terutama yang terkait dengan pembangunan manusia. Kedua, perencanaan bersifat fleksibel, dalam arti tidak kaku tetapi bersifat dinamis serta responsive terhadap tuntutan masyarakat terhadap pendidikan. Ketiga, perencanaan itu obyektif rasional, dalam arti untuk kepentingan umum . keempat, perencanaan dunilai dari apa yang sudah dimiliki. Kelima, perencanaan adalah wahana untuk menghimpun kekuatan kekuatan secara terkoordinir. Keenam, perencanaan disusun sesuai dengan data, perencanaan tanpa adata tidak memiliki kekuatan yang dapat diandalkan. Ketujuh, perencanaan adalah mengendalikan kekuatan sendiri, tidak bersandarkan kepada kekuatan orang lain. Kedelapan, perencanaan bersifat komprehensif dan ilmiah, dalam arti mencakup aspek esensial pendidikan dan disusun secara sistematik dengan menggunakan prinsip dan konsep keilmuan.[19] Prinsip prinsip tersebut berguna dalam proses perancangan perencanaan lembaga pendidikan Islam.

F. Jenis –Jenis Perencanaan

Menurut Asnawir ada tujuh jenis-jenis perencanaan,[20]yang kesemua itu dilihat dari sudut pandang berbeda, di antara jenis-jenis perencanaan tersebut adalah;

Dilihat dari segi waktu, dari segi waktu perencanaan dapat dibagi menjadi tiga yaitu pertama perencanaan jangka panjang, yang termasuk dalam perencanaan jangka panjang adalah rentang waktu sepuluh sampai tiga puluh tahun. Perencanaan jangka panjang ini bersifat umum, dan belum terperinci. Kedua, perencanaan jangka menengah, jangka menengah biasanya mempunyai jangka waktu antara lima sampai sepuluh tahun. Ketiga, perencanaan jangka pendek, yaitu perencanaan yang mempunyai jangka waktu antar satu tahun sampai lima tahun. Dilihat dari segi sifatnya perencanaan dibagi menjadi dua yaitu pertama, perencanaan kuantitatif, yang termasuk perencaan kuantitatif adalah semua target dan sasaran dinyatakan dengan angka-angka. Kedua, perencanaan kualitatif adalah perencanaaan yang ingin dicapai dinyatakan secara kualitas.

Perencanaan dari segi luas wilayah, perencanaan pendidikan dipandang dari segi luas wilayah dapat dibagi menjadi empat, yaitu pertama perencanaan local, yaitu perencanaan yang disusun dan ditetapkan oleh lembaga-lembaga yang ada di daerah-daerah dengan sifat yang terbatas. Kedua, perencanaan regional adalah perencanaan yang ditetap[kan di tingkat propinsi.ketiga, perencanaan nasional, adalah perencanaan di suatau Negara dan dijadikan dasar untuk perencanaan local dan regional. Keempat, perencanaan internasional yaitu perencanaan oleh bebebrapa Negara yang melewati batas-batas suatu negara yang dilaksanakan melalui dari Negara-negara tersebut.

Perencanaan dari segi luas jangkauan terbagi menjadi dua yaitu pertama, perencanaan makro yaitu perencanaan yang bersifat universal, menyeluruh dan meluas. Kedua perencanaan mikro adalah perencanaan yang ditetapkan dan di susun berdasarkan kondisi dan situasi tertentu. Dari segi prioritas pembuatnya perencanaan dapat dibagi menjadi tiga, pertama perencanaan sentralisasi, yaitu perencanaan yang ditentukan oleh pemerintah pusat pada suatu Negara. Kedua perencanaan desentralisasi yaitu perencanaan yang di susun oleh masing-masing wilayah. Ketiga perencanaan dekonsentrasi yaitu perencanaan gabungan antara sentralisasi dengan desentralisasi.

Dari segi obyek perencanaan dibagi menjadi dua: pertama perencanaan rutin yaitu perencanaan yang di susun untuk jangka waktu tertentu yang dilakukan setiap tahun. Kedua perencanaan eksendental, yaitu perencanaan yang di susun sesuai dengan kebutuhan yang mendesak pada saat tertentu. Dari segi proses, perencanaan dapat dibagi menjadi tiga kelompok, pertama perencanaan filosofikal, yaitu perencanaan yang bersifat umum, hanya berupa konsep-konsep dari nilai yang bersifat ideal dan masih memerlukan penafsiran-penafsiran dalam bentuk program. Kedua, perencanaan programial adalah perencanaan berupa penjabaran dari perencanaan filosofikal. Ketiga perencanaan operasional yaitu perencanaan yang jelas dan dapat dilakukan.

G. Rencana Startegi Dalam Lembaga Pendidikan Islam

Perencanaan strategi adalah usaha sistematis formal dari suatu perusahaan untuk memperjelas sasaran utama, kebijakan-kebijakan dan strategi. Menurut Asnawir perencanaan startegik adalah proses pemikiran tujuan perusahaan atau organisasi, penentuan kbijakan, dan program yang perlu untuk mencapai tujua tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu di susun perencanaan, di antara metode perencanaan strategic adalah sebagai berikut: pertama pendekatan dari atas ke bawah, biasanya dibuat oleh prusahaan yang bersifat sentralisasi. Kedua pendekatan dari bawah, yaitu metode rancangan perencanaan darai bawah ke atas. Ketiga pendekatan interkatif adalah pendekatan manajer dari pusat bersama direksi-direksi berdialog secara terus menrus selama penyusunan rencana, termasuk juga berdialog dengan para staf pusat dan divisi-divisi. Keempat pendekatan perencanaan secara tim adalah pendekatan yang lebih banyak dilakukan pada perusahaan kecil dan bersifat sentralisasi. Kelima pendekatan tingkat ganda adalah pendekatan strategi dirumuskan secara independen pada tingkat korporasi dan pada tingkat unit bisnis.

Dalam perencanaan strategic dalam diambil contoh adalah perencanaan strategic di perguruan tinggi agama Islam. Di antara kondisi obyektifnya adalah, pertama profil Pergururn Tinggi Agam Islam,meliputi bidang kelembagaan, bidang ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaaan, sarana dan prasarana pendidikan. Kedua kekuatan yang tersedia, meliputi kelembagaan letak geografis, factor hsitoris ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan danpengabdian masyarakat. Ketiga kelemahan-kelemahan yang masoih dipunyai, meliputi persepsi masyarakat, tradisi akademis dan etos kerja, pendanaan, pengembangan sumber daya manusia,otonomi lembaga, ketenagaan, perpustakaan, penelitian, penerbitan, dan pengabdian masyarakat, sarana dan prasarana. Keempat beberapa peluang yang meliputi kelembagaan, ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan, dan pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, saran dan parsarana. Kelima, tantangan meliputi kelembagaan, ketenagaan, kurikulum, perpustakaan, penelitian, penerbitan dan pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, sarana dan prasarana.

Di samping itu perlu diuraikan tahap-tahap strategi seperti arah pengembangan, strategi pengembangan, tahap-tahap pengembangan, selanjutnya bahan-bahan seperti informasi, data yang berkaitan dengan perencanaan masih perlu diuraikan lebih lanjut.

H. Proses dan Tahapan Perencanaan

Untuk lebih menyederhanakan pentahapan perencanaan akan dijelaskan sebagai berikut,[22] pertama need assessment, yaitu kajian terhadap kebutuhan yang mencakup berbagai aspek pembanguan pendidikan lembaga Islam yang telah dilaksanakan, keberhasilan, kesulitan, kekuatan, kelemahan, sumber-sumber yang tersedia, sumber-sumber yang perlu disediakan, aspirasi masyarakat yang berkembang terhadap pendidikan, harapan, cita-cita yang merupakan dambaan masyarakat. Kajian ini menjadi penting karena membandingkan antara antara yang telah terjadi dengan yang akan terjadi. Kedua Formula of Goals and obyektive, artinya perumusan dan sasaran perencanaan merupakan arah perencanaan serta merupakan penjabaran operasional dari aspirasi filosofis masyarakat. Ketiga, Priolicy and priority setting adalah penentuan kebijakan dan prioritas dalam perencanaan pendidikan sebagai muara need assessment. Keempat Program and project formulasion adalah rumusan program dan proyek kegiatan yang merupakan komponen opressional perencanaan pendidikan. Kelima Feasiblitay testing adalah dengan alokasi sumber-sumber yang tersedia seperti sumber dana. Biaya suatu rencana yang disusun secaralogis dan kurat serta cermat merupakan petunjuk tingkat kelayakan rencana. Keenam plan implementation adalah pelaksanaan rencana untuk mewujudkan rencana yang tertulis kedalam perbuatan penjabaran rencana kedalam perbuatan ilmiah yang menetukan apakah suatu rencana baik dan efektif. Ketujuh, evaluation and revisionfor future plan adalah kegiatan untuk menilai tingkat keberhasilan pelaksanaan rencana yang merupakan umpan balik untuk merivisi dan mengadakan penyesuaian rencana untuk periode rencana berikutnya.

I. Pentingnya Perencanaan

Perencanaan mempunyai posisi yang penting dalam sebuah organisasi, tanpa adanya perencanaan maka jalannya organisi tidak jelas arah dan tujuannya. Oleh Karena itu perencanaan penting karena pertama dengan adanya perencanaan diharapan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan. kedua dengan perencanaan, maka dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Ketiga perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternative tentang cara terbaik atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik. Keempat dengan perencanaan dapat dilakukan skala prioritas. Kelima, dengan adanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan pengawasan.[23]

Dengan demikian perencanaan mempunyai peranan penting dalam organisasi publik maupun dalam organisasi yang bersifat pribadi. Dengan adanya perencanaan akan dimungkinkan untuk memprediksi kerja dimasa yang akan datang, bahkan akan mampu memprediksi kemungkinan hasil yang akan dicapai.

J. Kesimpulan

Dengan demikian perencanaan adalah usaha untuk menggali siapa yang bertangungjawab terhadap berbagai aktifitas tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Aktifitas tersebutkan tergambar dalam sebuah perencanaan yang matang dan komprehensif. Yang mempunyai tahapan sederhana sebagai berikut kajian kebutuhan, perumusan tujuan dan sasaran, penentuan kebijakan dan prioritas, perumusan program dan proyek kegiatan, pembeiayaan yang rasional dan sesuai dengan sumber alokasi dana yang ada, pelaksanaan rencana, evaluasidan revisi.

Bibliografi

Asnawir, Manajemen Pendidikan, Padang: IAIN IB Press, 2006

B. Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran,Jakarta: Bumi Aksara, 2006

Cuningham, William G, Systematic Planing for Education Change, first Edition, California: Mayfield Publisihing, 1982

Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2005

Irmin, Soejitno, Kepemimpinan Melalui Asmaul Husna, Jakarta: Batavia Press, 2005

Makmun, Abin Syamsuddin, dan Saud, Udin Syaefudin, Perencanaan Pendidikan, Bandung: Rosda Karya:2007


Read Full Post »

By: Riwayat

Isu santet lewat pesan pendek/SMS marak di tengah masyarakat kita, isu tersebut meresahkan, keresahan tersebut makin menjadi ketika isu tersebut menjadi arus utama di tengah masyarakat dan media, sehingga mekontruksi pola pikir masyarakat itu sendiri. Keresahan terasa makin berat bagi masyarakat yang percaya akan santet, percaya santet atau pesan pendek tersebut dapat mencabut nyawa seseorang. Kepercayaan bahwa pesan pendek yang berwarna merah akan mampu membuat orang sakit dan bahkan meninggal merupakan keyakinan yang menyalahi akidah Islam, Islam hanya mengakui Allah sebagai satu-stunya pencabut nyawa. Dan hanya Allah yang berhak mencabut nyawa, kalaupun masih ada seseorang yang takut mati ada kemungkinan, pertama karena ia masih sedikit amal baiknya, kedua karena ia merasa banyak dosa sehingga takut kalau mati, yang ketiga karena ia tidak mempunyai keimanan dan akidah yang kuat. Memang kalau ditelusuri dalam Al-Quran yang takut kepada Allah adalah orang-orang yang berilmu, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama/orang-orang berilmu.(QS. Al-Fathir:28).

Takut dalam arti kepatuhan, dan ketundukan hanya kepada Allah semata. Dalam ayat lain Allah mengatakan bahwa ketika seseorang beriman dan berilmu maka akan dijaga dirinya dari berbuat yang tidak baik, berbuat nista dan berbuat kekafiran dan kefasikan, dan kedurhakaan kepada Allah juga akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan, seperti menghindarkan diri dari sifat kekafiran, kemusyrikan dan kedurhakaan kepada Allah. “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan bebera pa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”.(QS. Al-Mujadalah:11)

Sebagai masyarakat beragama perlu kiranya berhati-hati dan waspada dan mawas diri, serta penuh seleksi dalam menerima berita yang tidak jelas, karena jika tidak ada kehati-hatian dalam menyikapi berbagai isu maka ada kemungkinan terjebak dalam isu yang menyesatkan dan merusak citra diri di hadapan Allah. Dalam Al-Quran Allah menyuruh kepada orang beriman untuk memfilter dan memeriksa bila ada berita yang belum jelas kebenarannya. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.(QS. Hujarat:6).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa orang yang beriman, yang kuat spiritualnya akan mampu menepis berbagai berita bohong dan mampu menyaring semua berita yang belum tentu benar dan salahnya, mereka lebih arif dalam menghadapi berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat. Orang beriman akan mampu bertahan di tengah isu yang kembang di tengah masyarakat. Ketahanan akidah dan keimanan dalam dirinya mampu membendung berbagai berita yang belum jelas, berita yang menyesatkan. Mereka menyadari bahwa berita yang simpang siur, dan isu bagi orang beriman dihadapi dengan tabayun.

Kecerdasan dalam menghadapi berbagai isu sangat penting bagi orang beriman. Dianggap penting karena isu yang berkembang terkadang mengandung energi perusak akidah seseorang, bagi seseorang yang tidak cerdas dalam mengadapi isu yang merusak akidah, maka ia akan terjerumus dan jatuh kepada perbuatan yang mengerosi akidah dan keimanan mereka, dapat dipahami bahwa seseorang tersebut mengalami erosi keimanan, imannya runtuh dan rapuh oleh kegiatan sendiri yang tidak terkontrol oleh keimanan dan akidah yang kuat. Akidah dan keimanan yang tidak kuat memberi peluang untuk meruntuhkan dan mengarahkan spiritualnya ke dalam keterpurukan jiwa, iman dan tauhidnya kepada Allah. Dan pada akhirnya perbuatannya tidak lagi dalam kontrol energi spiritualnya. Ketika energi spiritual tidak menjadi pengatur maka ketakutan dan keteledoran dalam memahami berita begitu rapuh.

Ketakutan akan kematian merupakan kegersangan akidah, kegersangan keimanan seseorang dalam jiwanya, seseorang yang takut mati, dan mati itu sendiri tidak dipahami sebagai kekuasaaan Allah, akan makin mempersempit diri dan jiwanya, ia terkurung dalam kubangan ketakutan yang tidak berdasarkan ajaran Islam, dalam islam bukan ketakutan akan mati, tetapi takut kalau mati tidak diridhoi dan tidak membawa bekal mal soleh. Takut kepada kematian akibat kuasa pesan pendek/SMS membuktikan bahwa seseorang telah terjebak oleh jiwanya yang gersang, jiwa yang tidak atau kurang disirami oleh air dzikir, air mata taubat dan ketersungkuran karena sujud dan tunduk kepada kekuasaan dan keagungan Allah. Ketakutan yang berlebihan kepada isu santet lewat SMS merupakan indikasi rapuhnya iman dan pondasi akidah seseorang, karena akidah dan iman yang kuat hanya meyakini bahwa yang membuat mati, hidup, sehat dan sakit hanya Allah tidak yang lain.

jiwa gersang merupakan bukti rapuhnya bangunan akidah dalam dirinya, bangunan akidah rapuh karena tidak pernah dipupuk oleh kebaikan-kebaikan, dzikir-dzikir dan taubat kepada Allah, sehingga pada akhirnya jiwanya kosong, tandus dari mata air spiritual, kehausan akan nilai-nilai spiritual, kehausan spiritual yang berkepanjangan bermuara kepada rapuhnya keimanan, keimanan yang rapuh berakibat kepada dangkalnya pemahaman akidahnya, dangkalnya akidah akan merembet kepada rapuhnya pemahaman akan nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai ketuhanan dalam dirinya tertutupi oleh perilaku yang tidak islami dan amal yang tidak menunjukkan kesolehan, ketika hati tidak terpupuk oleh kesolehan, baik dzikir, ketundukan, maupun taubat maka nialai ketuhanan dalam dirinya akan tereduksi menjadi kekuasaan setan dan nafsu, dan pada akhirnya ia akan terjebak kepada hal-hal yang bersifat kekafiran, khurafat, misitis, seperti meyakini kemampuan pesan pendek/SMS menghilangkan nyawa seseorang.

Orang yang beriman dan berakidah kuat akan mempunyai kecerdasan spiritual, kecerdasan spiritual tersebut menjadi senjata yang ampuh dalam menghadapi berbagai cobaan, rintangan, tantangan dan isu-isu, godaan-godaan setan dan berbagai perbuatan yang dapat merusak akidah dan keimanan, kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh orang beriman akan mampu memberi rasa aman dan rasa percaya dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, mereka meyadari bahwa semua kejadian di dunia ini adalah kekuasaan Allah, semua sudah ada dalam ilmunya Allah.

Orang yang beriman, berakidah kuat dan berilmu akan diberi oleh Allah rasa cinta kepada keimanan, keimanan yang kuat, keamanan yang memberi rasa damai, tenang bahagia dan dalam jiwa, yang kesemua itu menjadi energi spiritual, menebalkan dan meningkatkan kecerdasan spiritual. Ketika seseorang telah diberi oleh Allah rasa cinta terhadap keimanan, maka iman itu akan tumbuh dalam dirinya, iman akan menjadi semacam imun untuk akidahnya dalam membentengi diri dan kecerdasan spiritualnya, serta mampu memberi citra indah dan kuat pada jiwa untuk menghadapi berbagai tantangan dan rintangan serta ancaman yang akan merobohkan, dan mengerosi akidah dan imannya. Allah berfirman ,”Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, “(QS. Al-Hujarat:7)

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa ketika Allah memberi rasa cinta kepada keimanan,. maka pada saat itu ia akan menjadi orang-orang yang tangguh, orang-orang yang menyukai keindahan, menyukai spiritual, mencintai keimanannya dengan banyak melakukan kegiatan yang menumbuhsuburkan benih-benih iman yang telah di tanam Allah dalam hatinya, jiwanya menjadi tennag menerima rasa indah dan pancaran keindahan dari Allah. Ketika rasa indah terhadap keimanan muncul dalam diri seseoranag maka pada saat itu ia telah melangkah ke jalan spiritual yang makin baik dan kuat, jiwanya tidak lagi mampu digoyahkan oleh isu-isu yang menyesatkan dan merusak keimanan. Keimanan yang tumbuh dibalut oleh rasa indah dalam hati akan mencegah dirinya dari perbuatan fasik, khurafat, kekafiran, kedurhakaan dan mistis.

Ketika seseorang tercegah untuk berbuat fasik, kekafiran dan kedurhakaan, maka dalam posisi ini teleh cerdas secara spiritual, kecerdasan tersebut bukan muncul dengan sendirinya, tetapi merupakan akumulasi dari pengabdian yang tulus, pengabdian yang tanpa ingin dipuji oleh manusia, tetapi sebuah pengabdian hanya karena Allah semata. Ketulusan beribadah, mengisis hari dengan amal soleh, dzikir kepada Allah, dan selalu dalam taubat dan ketulusan akan menghindarkan seseorang dari kerapuhan iman dan akidah. Allhu A’lam

Read Full Post »

Oleh : Riwayat

Benarkah akhlak menjadi kunci sukses seseorang dunia akherat? Apakah akhlak mempunyai eksistensi penting dalam Islam? Apakah akhlak menjadi penentu bagi seseorang untuk masuk surga? Bukankah cukup hanya dengan iman, dan banyak beribadah kita dapat masuk surga? Apakah benar tujuan dari berbagai ibadah dalam Islam, seperti puasa, zakat, salat dan haji untuk membentuk akhlakmulia? Apakah tanpa akhlak mulia ibadah kita sia-sia?

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas, perlu kita telusuri dalam Al-Quran dan hadis, ternyata banyak hadis dan ayat yang secara langsung maupun tidak langsung menghubungkan antara ritual/ibadah pembentukan pembentukan akhlak mulia, hal ini dapat kita perhatikan dari berbagai ritual dalam Islam, ternyata semuanya selalu berhubungan dengan pembentukan akhlak mulia. Allah mengutus Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak manusia,”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,”(HR. Ahmad).

Hadis tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw di utus untuk memperbaiki akhlak manusia, mungkin kita akan bertanya apakah Rasulullah Saw di utus hanya untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak? Tentu tidak hanya untuk itu saja, tetapi pada dasarnya syariat yang dibawa para Rasul bermuara pada pembentukan akhlak. Apakah manusia tidak mampu memperbaiki akhlaknya sendiri, sehingga perlu diutus seorang Rasul? Bukankah manusia dibekali akal? Dengan akalnya manusia dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk? Mungkin di satu sisi argument tersebut ada benarnya, tetapi akal manusia terbatas, kalau akal dapat menentukan baik dan buruk tentunya Allah tidak perlu lagi menurunkan kitab-kitabnya, tidak perlu mengutus para Nabi untuk menjelaskan ayat-ayat-Nya?

Allah sangat peduli kepada manusia, Allah sangat tahu kemampuan manusia, meskipun diberi akal manusia tetap makhluk yang lemah, pengetahuannya terbatas. Sehingga Allah perlu mengutus Nabi dan Rasul untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya dan menunjukkan manusia jalan yang lurus, dan akhlak yang mulia.

Buktinya, Rasulullah Saw di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam,”Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam,”(QS. Al-Ambiya : 107). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Rasulullah di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, rahmat tidak akan dirasakan oleh makhluk di bumi kecuali dengan akhlak mulia, untuk mewujudkan rahmat itu Allah menurunkan kitab-kitabnya, dan mengutus para Rasul dan Nabi untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya. Konsekuensi dari turunnya kitab-kitab Allah dan di utusnya para Nabi dan Rasul adalah adanya hokum/ Syariat yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Berbagai ritual diperintahkan Allah melalui para Nabi dan Rasul ternyata banyak bermuara pada pembentukan akhlak, seperti dalam perintah salat,”Dan dirikanlah salat sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar,”(QS. Al-Ankabut : 45). Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah salat adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari sikap keji dan mungkar, pada hakekatnya adalah terbentuknya manusia berakhlak mulia, bahkan kalau kita telusuri proses ritual salat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu, seperti harus bersih badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan berwudhu, intinya salat dipersiapkan untuk membentuk sikap manusia selalu bersih, patuh, taat peraturan dan melatih seseorang untuk tepat waktu.

Dalam hadis qudsi Allah Swt. Berfirman,”Sesungguhnya Aku menerima salat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusuk karena kebesaran-Ku, dan ia tidak mengharapkan anugrah dari salatnya karena sebagai hamba-Ku, ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, mengasihi orang miskin, ibnu sabil, mengasihi diri, dan menyantuni orang terkena musibah,”(HR. Azzubaidi).

Ternyata, Allah menerima salat seseorang bukan karena sebagai hamba, tetapi lebih kepada kemuliaan akhlaknya, seperti ikhlas tanpa pamrih, tidak bekerja karena atasan, menyantuni anak yatim, orang miskin, orang yang terkena musibah, tidak bermaksiat. Bila akhlak kita belum baik, maka salat belum di terima, bahkan ada kemungkinan kita termasuk orang-orang tidak berakhlak, lebih dari itu, jika kita belum mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebenarnya kita telah gagal dalam ritual salat, dan kepribadian kita diragukan.

Tujuan membayar zakat selain membersih harta juga mendidik kita berjiwa social, ’Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka,”(QS. At-Taubah : 103). Bahkan kalau kita mengahardik anak yatim, malas dalam mengerjakan salat, riya dalam mengerjakan, tidak memberi makan orang miskin, serta tidak memberi pertolongan dengan barang berharga kita dianggap sebagai pendusta agama (QS. Al-Maun : 1-7).

Bila kita sudah dianggap sebagai pendusta agama, sia-sialah ibadah kita, kesia-siaan itu akibat kita tidak berakhlak, dikatakan tidak berakhlak karena kita menghardik anak yatim, tidak memberi pertologan dengan barang berguna. Ternyata akhlak sangat menentukan keagamaan seseorang, kalau akhlaknya baik maka baik pula ritual agamanya, sebaliknya jika akhlaknya buruk maka buruk pula ibadah ritual agamannya. Sebagai contoh meskipun kita salat, tetapi suka menghardik, zalim terhadap anak yatim, tidak menolong orang miskin, maka Allah menganggap kita sebagai pendusta agama.

Ritual puasa bertujuan membentuk akhlak mulai, bila sedang berpuasa, kita dilarang mencaci, bergunjing, berbohong, berbuat maksiat, berkata kotor,”Jika salah seorang di antaramu melaksanakan puasa, maka janganlah berkata kotor, menipu, jika seseorang mencelamu atau hendak membunuhmu, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang puasa,” (HR. Muslim). Ternyata ritual puasa disiapkan untuk mendidik dan membentuk kita agar berperilaku terpuji, sebuah kepribadian yang mencerminkan sebagai muslim berakhlak mulia.

Ibadah haji sebagai ritual dalam Islam mempunyai peran penting dalam pembentukan akhlak mulia, hal ini dapat kita ketahui dari berbagai larangan selama pelaksanaan haji berlangsung, seperti larangan membunuh binatang, berkata kotor, berbuat keji, fasik, bertengkar, bergunjing, saling berbantahan, mencuri dan berbagai tindakan maksiat lainnya, demikian juga hikmah ritual haji di antaranya adalah saling pengertian, ras tanggung jawab, persamaan hak, saling menghargai, berfikir universal,persaudaraan universal dan bersabar dalam berbagai situasi,“Haji adalah bulan yang dimaklumi, siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas, berbuat fasik, dan berbantahan di dalam masa mengerjakan haji,” (QS. Al_Baqarah : 197). Dalam haji kita didik untuk meninggalkan perbuatan asusila, maksiat, dan berbagai tindakan amoral lainnya, ini semua merupakan bukti bahwa ibadah haji dipersiapkan untuk membentuk manusia berakhlak mulia. Bila dalam ibadah haji berperilaku tercela maka ibadah haji kita secara spiritual akan sia-sia. Tidak bernilai spiritual di sisi Allah, haji kita hanya menjadi sebuah plesiran untuk menghilangkan kejenuhan sehari-hari tanpa memberi arti.

Akhlak juga dapat menentukan beriman atau tidaknya seseorang,”Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman. Para sahabat bertanya,’siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : orang yang tidak menyimpan rahasia kejelekkan tetangganya,’ (HR. Muslim). Hadis tersebut secara nyata mengandung arti bahwa secara meyakinkan orang yang berakhlak buruk kepada tetangganya oleh Rasulullah dianggap tidak beriman, selama ini mungkin kita menganggap perbuatan jahat kita kepada orang lain atau tetangga sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang tidak akan berpengaruh pada eksistensi keimanan, padahal kalau kita mengetahui, ternyata berakhlak jelek sangat besar pengaruhnya terhadap keimanan.

Bahkan, manusia paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah manusia berakhlak jelek,”Sesungguhnya manusia paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang ditinggalkan orang lain karena menghindari kejelekannya,”(HR. Bukhari). Ternyata Allah mengolongkan manusia yang tidak berakhlak termasuk manusia yang paling jelek di hadapan-Nya. Sebaliknya orang paling dicintai oleh Rasulullah adalah yang paling baÿÿÿÿkhlaÿÿyaÿÿSeÿÿngÿÿhnya orang yang paling aku cintai daÿÿpaling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya,”HR. At-Tirmidzi).

Ternyata, orang mukmin yang sempurna imannya bukan karena banyak ibadahnya, tetapi yang baik akhlaknya,”Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud). Dalam ayat lain, Allah menyatakan bahwa kita belum sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kita menafkahkan harta yang kita cintai, menafkahkan harta kepada orang yang sangat memerlukan adalah wujud dari kesantunan dan kedermawanan seseorang, dan sikap itu merupakan bukti kemuliaan akhlaknya,”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempuran sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” (QS. Ali Imran : 92).

Demikian juga, orang bertakwa dan berakhlak mulia dijamin masuk surga,”Penyebab utama masuknya manusia ke surga karena bertakwa kepada Allah dan kemulian akhlaknya,” (HR. Tirmidzi). Biasanya orang bertakwa akan berbuat dan bersikap baik dan mengutamakan akhlak mulia, perbuatan baik merupakan wujud kemuliaan akhlaknya, sedangkan perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk,”Sesungguhnya, perbuatan-perbuatan (Akhlak­) yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk,”(QS. Hud : 114). Ternyata keberhasilan ritual seseorang di sisi Allah dilihat dari sejauh mana ia telah menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Untuk mengakhiri tulisan ini perlu kita merenungi salah satu contoh akhlak mulia yang mengantarkan seorang hamba dekat dengan khaliqnya,”Orang yang suka berderma dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, serta jauh dari neraka,”(HR. At-Tirmidzi). Allahu A’lam**

Read Full Post »

Filsafat Isyraqiyah

Oleh: Riwayat

(Mhs. Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)

Isyaq mempunyai iluminasi dapat berarti cahaya awal pada saat pagi hari, seperti cahaya matahari dari arah timur. Cahaya dari “timur” bukan tempat secara geografis, tetapi awal cahaya. Filsafat isyraqiyah dapat berarti filsafat ketimuran, ada mengatakan sebagai filsafat iluminatif. Filsafat isyaraqiyah adalah pengetahuan dan pertolongan, ketika manusia tertolong dan tercerahkan maka ia dapat menyesuaikan diri dalam semesta alam dan akhrinya bermuara kepada kehidupan atau tempat kediaman azali. Menurut Seyyed Hossein Nasr jagad bayangan kegelapan keberadaan kehidupan manusia berada di barat yaitu dunia yang wujud. Tidak memperhitungan dimana manusia menetap secara georafis.

Manusia spiritual iluminatif, menyadari akan asal keberadaannya, yaitu dari “timur”. Sehingga menjadi manusia yang tidak di kenal dan bahkan dianggap asing di negeri sendiri. Negeri itu adalah dunia ini. Para isyaqiyah terasing dan dianggap asing keberadaannya di dunia ini. Adanya keterasingan tersebut filosof Suhrawardi dalam bukunya Qissat al _Ghurbat al- Gharbiyyah mentakan manusia mempunyai ingatan akan kediaman yang kekal, abadi, manusia mempunyai kediaman yang sebenarnya, rumah yang benar, dengan bantuan iluminatif manusia mampu menjangkau kediamannya.

Nasr mengatakan pengetahuan iluminatif dimungkinkan berhubungan dengan tatanan–tatanan malaikat, mentrasformasi kebaradaan manusia dan menolongnya. Malaikat adalah instrument iluminasi karena malaikat dianggap penyelamat. Manusia telah mengalami semacam kelengseran dari duna icahaya sinyal dan dikembalikan kepada dunia dan menyatu kembali dengan sifat kemalaikatan. Malaikat dianggap sebagai karib terpercaya, dimana posisi manusia menjadi bagian tidak terpisahkan, dipercaya dan dianggap suci dari campuran dan tergolong murni sempurna.

Filsafat isyraqiyah menggambarkan sebuah bahasa simbol secara imanen, suatu dunia sangat luas, berdasarkan simbol cahaya dan “timur” meruntuhkan batas-batas kosmologi Aristotelian dan termasuk batas-batas akal rasional didefinisikan Aristotelian. Suhrawardi mempnyai kemampuan membuat sesuatu metafisika cahaya/nur secara esensial dan dalam bentuk kosmologi, yang sulit dideteksi padanan kemuliaannnya dan keindahannya. Suhrawardi menghadapkan pencari yang gigih dan tanggguh, melalui media ruang kosmik dan mengantarkan seseorang kepada realitas nur sejati, nur sejati itu adalah keberadaan “timur”.

Perjalanan bersifat filosofis dan spiritual manusia dibimbing oleh suatu pengetahuan, yang merupakan cahaya itu sendiri, hal ini didasarkan bahwa ilmu adalah cahaya, Nabi Saw mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya, orang bersih akan mendapatkan cahaya ilmu. Suhrawardi mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya dan tidak semua orang akan mendapatkannya. Dalam karya terakhirnya Suhrawardi menyatakan bahwa tidak semua manusia dapat menerima cahaya ilmu tersebut, hal ini dijelaskan dalam bukunya Hikmah al-Isyaq, Manusia dapat mengetahui setelah jiwa manusia bersih, suci, batinya suci, berlatih dengan keras, latihan-latihan bersifat filosofis secara terus-menerus dengan tingkat latihan keras dan sungguh-sunguh., latihan tersebut untuk menundukkan hawa nafsu dan nafsu batin ruhani.

Untuk orang-orang terpilih ajaran isyraqiyah menampakkan suatu pengalaman dan pengetahuan batin, kebijaksanaan kekal/shopiaperennis, memancar dan tertransformasikan, menghilangkan dan membangkitkan manusia mencapai tingkat pleroma dan dunia cahaya kosmik. Pada abad VII/XVI di tandai dengan penyesuaain besar berbagai aktivitas filsafat Islam, pada waktu Persia menjadi ajang pengembangan filasafat islam, periode ini filsafat Ibnu Sina dikembangkan, dibangkitkan kembali oleh Nasir al Din al-Tusi, beliau adalah tokoh paripatetik Islam terkenal. Komentarnya tentang isyarat wa i-tanbihat dan reponnya terhadap kritik-kritik Fakhr al- Din al -Razi terhadapa Ibnu Sina, memberi pengaruh besar terhadap filsafat Islam.

Tusi dianggap sebagai terkenal kalangan filosof, termasuk Qutb al-Din Syirazi, Dabiran i Khatibi Qazwani(w.675/1276) dengan karyanya Hikmat al-ayn (Wisdom from Surce). Filososf terkenal lainya adalah Amir al-Din al-Abhari (w.663/12264), dengan karyanya Hidayat al-Hikmat (Guide of Philosophy). Bahkan karya ini menjadi popular pada era berikutnya, hal ini terjadi berkat peran Mula Sadra yang mengomentari karya tersebut. Sehingga karya itu diketahui oleh kalangan filosof dan masyakat luas.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.