Filsafat Isyraqiyah

Oleh: Riwayat

(Mhs. Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)

Isyaq mempunyai iluminasi dapat berarti cahaya awal pada saat pagi hari, seperti cahaya matahari dari arah timur. Cahaya dari “timur” bukan tempat secara geografis, tetapi awal cahaya. Filsafat isyraqiyah dapat berarti filsafat ketimuran, ada mengatakan sebagai filsafat iluminatif. Filsafat isyaraqiyah adalah pengetahuan dan pertolongan, ketika manusia tertolong dan tercerahkan maka ia dapat menyesuaikan diri dalam semesta alam dan akhrinya bermuara kepada kehidupan atau tempat kediaman azali. Menurut Seyyed Hossein Nasr jagad bayangan kegelapan keberadaan kehidupan manusia berada di barat yaitu dunia yang wujud. Tidak memperhitungan dimana manusia menetap secara georafis.

Manusia spiritual iluminatif, menyadari akan asal keberadaannya, yaitu dari “timur”. Sehingga menjadi manusia yang tidak di kenal dan bahkan dianggap asing di negeri sendiri. Negeri itu adalah dunia ini. Para isyaqiyah terasing dan dianggap asing keberadaannya di dunia ini. Adanya keterasingan tersebut filosof Suhrawardi dalam bukunya Qissat al _Ghurbat al- Gharbiyyah mentakan manusia mempunyai ingatan akan kediaman yang kekal, abadi, manusia mempunyai kediaman yang sebenarnya, rumah yang benar, dengan bantuan iluminatif manusia mampu menjangkau kediamannya.

Nasr mengatakan pengetahuan iluminatif dimungkinkan berhubungan dengan tatanan–tatanan malaikat, mentrasformasi kebaradaan manusia dan menolongnya. Malaikat adalah instrument iluminasi karena malaikat dianggap penyelamat. Manusia telah mengalami semacam kelengseran dari duna icahaya sinyal dan dikembalikan kepada dunia dan menyatu kembali dengan sifat kemalaikatan. Malaikat dianggap sebagai karib terpercaya, dimana posisi manusia menjadi bagian tidak terpisahkan, dipercaya dan dianggap suci dari campuran dan tergolong murni sempurna.

Filsafat isyraqiyah menggambarkan sebuah bahasa simbol secara imanen, suatu dunia sangat luas, berdasarkan simbol cahaya dan “timur” meruntuhkan batas-batas kosmologi Aristotelian dan termasuk batas-batas akal rasional didefinisikan Aristotelian. Suhrawardi mempnyai kemampuan membuat sesuatu metafisika cahaya/nur secara esensial dan dalam bentuk kosmologi, yang sulit dideteksi padanan kemuliaannnya dan keindahannya. Suhrawardi menghadapkan pencari yang gigih dan tanggguh, melalui media ruang kosmik dan mengantarkan seseorang kepada realitas nur sejati, nur sejati itu adalah keberadaan “timur”.

Perjalanan bersifat filosofis dan spiritual manusia dibimbing oleh suatu pengetahuan, yang merupakan cahaya itu sendiri, hal ini didasarkan bahwa ilmu adalah cahaya, Nabi Saw mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya, orang bersih akan mendapatkan cahaya ilmu. Suhrawardi mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya dan tidak semua orang akan mendapatkannya. Dalam karya terakhirnya Suhrawardi menyatakan bahwa tidak semua manusia dapat menerima cahaya ilmu tersebut, hal ini dijelaskan dalam bukunya Hikmah al-Isyaq, Manusia dapat mengetahui setelah jiwa manusia bersih, suci, batinya suci, berlatih dengan keras, latihan-latihan bersifat filosofis secara terus-menerus dengan tingkat latihan keras dan sungguh-sunguh., latihan tersebut untuk menundukkan hawa nafsu dan nafsu batin ruhani.

Untuk orang-orang terpilih ajaran isyraqiyah menampakkan suatu pengalaman dan pengetahuan batin, kebijaksanaan kekal/shopiaperennis, memancar dan tertransformasikan, menghilangkan dan membangkitkan manusia mencapai tingkat pleroma dan dunia cahaya kosmik. Pada abad VII/XVI di tandai dengan penyesuaain besar berbagai aktivitas filsafat Islam, pada waktu Persia menjadi ajang pengembangan filasafat islam, periode ini filsafat Ibnu Sina dikembangkan, dibangkitkan kembali oleh Nasir al Din al-Tusi, beliau adalah tokoh paripatetik Islam terkenal. Komentarnya tentang isyarat wa i-tanbihat dan reponnya terhadap kritik-kritik Fakhr al- Din al -Razi terhadapa Ibnu Sina, memberi pengaruh besar terhadap filsafat Islam.

Tusi dianggap sebagai terkenal kalangan filosof, termasuk Qutb al-Din Syirazi, Dabiran i Khatibi Qazwani(w.675/1276) dengan karyanya Hikmat al-ayn (Wisdom from Surce). Filososf terkenal lainya adalah Amir al-Din al-Abhari (w.663/12264), dengan karyanya Hidayat al-Hikmat (Guide of Philosophy). Bahkan karya ini menjadi popular pada era berikutnya, hal ini terjadi berkat peran Mula Sadra yang mengomentari karya tersebut. Sehingga karya itu diketahui oleh kalangan filosof dan masyakat luas.

Entry Filed under: filsafat. Tag: .

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kategori

Halaman

Top Posts

Blogroll

Komentar Terakhir

riwayat di About
masbadar di About
riwayat di About
Oktovianus Pogau di About
riwayat di Pembelajaran Contextual

Arsip

Meta