Oleh : Riwayat
Benarkah akhlak menjadi kunci sukses seseorang dunia akherat? Apakah akhlak mempunyai eksistensi penting dalam Islam? Apakah akhlak menjadi penentu bagi seseorang untuk masuk surga? Bukankah cukup hanya dengan iman, dan banyak beribadah kita dapat masuk surga? Apakah benar tujuan dari berbagai ibadah dalam Islam, seperti puasa, zakat, salat dan haji untuk membentuk akhlakmulia? Apakah tanpa akhlak mulia ibadah kita sia-sia?
Untuk menjawab semua pertanyaan di atas, perlu kita telusuri dalam Al-Quran dan hadis, ternyata banyak hadis dan ayat yang secara langsung maupun tidak langsung menghubungkan antara ritual/ibadah pembentukan pembentukan akhlak mulia, hal ini dapat kita perhatikan dari berbagai ritual dalam Islam, ternyata semuanya selalu berhubungan dengan pembentukan akhlak mulia. Allah mengutus Rasulullah untuk menyempurnakan akhlak manusia,”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak,”(HR. Ahmad).
Hadis tersebut dapat dipahami bahwa Rasulullah Saw di utus untuk memperbaiki akhlak manusia, mungkin kita akan bertanya apakah Rasulullah Saw di utus hanya untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak? Tentu tidak hanya untuk itu saja, tetapi pada dasarnya syariat yang dibawa para Rasul bermuara pada pembentukan akhlak. Apakah manusia tidak mampu memperbaiki akhlaknya sendiri, sehingga perlu diutus seorang Rasul? Bukankah manusia dibekali akal? Dengan akalnya manusia dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk? Mungkin di satu sisi argument tersebut ada benarnya, tetapi akal manusia terbatas, kalau akal dapat menentukan baik dan buruk tentunya Allah tidak perlu lagi menurunkan kitab-kitabnya, tidak perlu mengutus para Nabi untuk menjelaskan ayat-ayat-Nya?
Allah sangat peduli kepada manusia, Allah sangat tahu kemampuan manusia, meskipun diberi akal manusia tetap makhluk yang lemah, pengetahuannya terbatas. Sehingga Allah perlu mengutus Nabi dan Rasul untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya dan menunjukkan manusia jalan yang lurus, dan akhlak yang mulia.
Buktinya, Rasulullah Saw di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam,”Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam,”(QS. Al-Ambiya : 107). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Rasulullah di utus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, rahmat tidak akan dirasakan oleh makhluk di bumi kecuali dengan akhlak mulia, untuk mewujudkan rahmat itu Allah menurunkan kitab-kitabnya, dan mengutus para Rasul dan Nabi untuk menjelaskan kitab-kitab-Nya. Konsekuensi dari turunnya kitab-kitab Allah dan di utusnya para Nabi dan Rasul adalah adanya hokum/ Syariat yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Berbagai ritual diperintahkan Allah melalui para Nabi dan Rasul ternyata banyak bermuara pada pembentukan akhlak, seperti dalam perintah salat,”Dan dirikanlah salat sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar,”(QS. Al-Ankabut : 45). Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa muara dari ibadah salat adalah terbentuknya pribadi yang terbebas dari sikap keji dan mungkar, pada hakekatnya adalah terbentuknya manusia berakhlak mulia, bahkan kalau kita telusuri proses ritual salat selalu dimulai dengan berbagai persyaratan tertentu, seperti harus bersih badan, pakaian dan tempat, dengan cara mandi dan berwudhu, intinya salat dipersiapkan untuk membentuk sikap manusia selalu bersih, patuh, taat peraturan dan melatih seseorang untuk tepat waktu.
Dalam hadis qudsi Allah Swt. Berfirman,”Sesungguhnya Aku menerima salat dari seseorang yang mengerjakannya dengan khusuk karena kebesaran-Ku, dan ia tidak mengharapkan anugrah dari salatnya karena sebagai hamba-Ku, ia tidak menghabiskan waktu malamnya karena bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan waktu siangnya untuk berdzikir kepada-Ku, mengasihi orang miskin, ibnu sabil, mengasihi diri, dan menyantuni orang terkena musibah,”(HR. Azzubaidi).
Ternyata, Allah menerima salat seseorang bukan karena sebagai hamba, tetapi lebih kepada kemuliaan akhlaknya, seperti ikhlas tanpa pamrih, tidak bekerja karena atasan, menyantuni anak yatim, orang miskin, orang yang terkena musibah, tidak bermaksiat. Bila akhlak kita belum baik, maka salat belum di terima, bahkan ada kemungkinan kita termasuk orang-orang tidak berakhlak, lebih dari itu, jika kita belum mampu mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar, sebenarnya kita telah gagal dalam ritual salat, dan kepribadian kita diragukan.
Tujuan membayar zakat selain membersih harta juga mendidik kita berjiwa social, ’Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka,”(QS. At-Taubah : 103). Bahkan kalau kita mengahardik anak yatim, malas dalam mengerjakan salat, riya dalam mengerjakan, tidak memberi makan orang miskin, serta tidak memberi pertolongan dengan barang berharga kita dianggap sebagai pendusta agama (QS. Al-Maun : 1-7).
Bila kita sudah dianggap sebagai pendusta agama, sia-sialah ibadah kita, kesia-siaan itu akibat kita tidak berakhlak, dikatakan tidak berakhlak karena kita menghardik anak yatim, tidak memberi pertologan dengan barang berguna. Ternyata akhlak sangat menentukan keagamaan seseorang, kalau akhlaknya baik maka baik pula ritual agamanya, sebaliknya jika akhlaknya buruk maka buruk pula ibadah ritual agamannya. Sebagai contoh meskipun kita salat, tetapi suka menghardik, zalim terhadap anak yatim, tidak menolong orang miskin, maka Allah menganggap kita sebagai pendusta agama.
Ritual puasa bertujuan membentuk akhlak mulai, bila sedang berpuasa, kita dilarang mencaci, bergunjing, berbohong, berbuat maksiat, berkata kotor,”Jika salah seorang di antaramu melaksanakan puasa, maka janganlah berkata kotor, menipu, jika seseorang mencelamu atau hendak membunuhmu, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang puasa,” (HR. Muslim). Ternyata ritual puasa disiapkan untuk mendidik dan membentuk kita agar berperilaku terpuji, sebuah kepribadian yang mencerminkan sebagai muslim berakhlak mulia.
Ibadah haji sebagai ritual dalam Islam mempunyai peran penting dalam pembentukan akhlak mulia, hal ini dapat kita ketahui dari berbagai larangan selama pelaksanaan haji berlangsung, seperti larangan membunuh binatang, berkata kotor, berbuat keji, fasik, bertengkar, bergunjing, saling berbantahan, mencuri dan berbagai tindakan maksiat lainnya, demikian juga hikmah ritual haji di antaranya adalah saling pengertian, ras tanggung jawab, persamaan hak, saling menghargai, berfikir universal,persaudaraan universal dan bersabar dalam berbagai situasi,“Haji adalah bulan yang dimaklumi, siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas, berbuat fasik, dan berbantahan di dalam masa mengerjakan haji,” (QS. Al_Baqarah : 197). Dalam haji kita didik untuk meninggalkan perbuatan asusila, maksiat, dan berbagai tindakan amoral lainnya, ini semua merupakan bukti bahwa ibadah haji dipersiapkan untuk membentuk manusia berakhlak mulia. Bila dalam ibadah haji berperilaku tercela maka ibadah haji kita secara spiritual akan sia-sia. Tidak bernilai spiritual di sisi Allah, haji kita hanya menjadi sebuah plesiran untuk menghilangkan kejenuhan sehari-hari tanpa memberi arti.
Akhlak juga dapat menentukan beriman atau tidaknya seseorang,”Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman. Para sahabat bertanya,’siapakah mereka wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab : orang yang tidak menyimpan rahasia kejelekkan tetangganya,’ (HR. Muslim). Hadis tersebut secara nyata mengandung arti bahwa secara meyakinkan orang yang berakhlak buruk kepada tetangganya oleh Rasulullah dianggap tidak beriman, selama ini mungkin kita menganggap perbuatan jahat kita kepada orang lain atau tetangga sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang tidak akan berpengaruh pada eksistensi keimanan, padahal kalau kita mengetahui, ternyata berakhlak jelek sangat besar pengaruhnya terhadap keimanan.
Bahkan, manusia paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah manusia berakhlak jelek,”Sesungguhnya manusia paling jelek di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang ditinggalkan orang lain karena menghindari kejelekannya,”(HR. Bukhari). Ternyata Allah mengolongkan manusia yang tidak berakhlak termasuk manusia yang paling jelek di hadapan-Nya. Sebaliknya orang paling dicintai oleh Rasulullah adalah yang paling baÿÿÿÿkhlaÿÿyaÿÿSeÿÿngÿÿhnya orang yang paling aku cintai daÿÿpaling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya,”HR. At-Tirmidzi).
Ternyata, orang mukmin yang sempurna imannya bukan karena banyak ibadahnya, tetapi yang baik akhlaknya,”Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya,” (HR. Abu Daud). Dalam ayat lain, Allah menyatakan bahwa kita belum sampai kepada kebajikan yang sempurna sebelum kita menafkahkan harta yang kita cintai, menafkahkan harta kepada orang yang sangat memerlukan adalah wujud dari kesantunan dan kedermawanan seseorang, dan sikap itu merupakan bukti kemuliaan akhlaknya,”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan yang sempuran sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” (QS. Ali Imran : 92).
Demikian juga, orang bertakwa dan berakhlak mulia dijamin masuk surga,”Penyebab utama masuknya manusia ke surga karena bertakwa kepada Allah dan kemulian akhlaknya,” (HR. Tirmidzi). Biasanya orang bertakwa akan berbuat dan bersikap baik dan mengutamakan akhlak mulia, perbuatan baik merupakan wujud kemuliaan akhlaknya, sedangkan perbuatan baik akan menghapus perbuatan-perbuatan buruk,”Sesungguhnya, perbuatan-perbuatan (Akhlak) yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk,”(QS. Hud : 114). Ternyata keberhasilan ritual seseorang di sisi Allah dilihat dari sejauh mana ia telah menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.
Untuk mengakhiri tulisan ini perlu kita merenungi salah satu contoh akhlak mulia yang mengantarkan seorang hamba dekat dengan khaliqnya,”Orang yang suka berderma dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, serta jauh dari neraka,”(HR. At-Tirmidzi). Allahu A’lam**








punten mas, boleh tidak artikel2 anda saya kopi paste ke blog saya, dan saya tidak akan menghilangkan nama blog anda sebagai sumber pengambilannya. oh ya, mas boleh tw kan referensi yang anda gunakan dalam menulis artikel2 ini. salam ukhuwah dari apud ismail
salam ukhuwah kembali dari riwayat, boleh saja, mengenai sumber artikel ini, pertama Al-quran dan Hadis, Buku, “Semulia Akhlak Nabi” karya Dr. Amru Khalid penerbit Aqwam. untuk artikel yang lain disesuaikan dengan bahasan yang relevan. kalau boleh tahu alamat blognya. ok di tunggu
oh ya, mksh banget ya as. kapan-kapan boleh mas main ke sini iaibstudent
begitu penting nya akhlak dalam islam..
akhlak pun berkaitan dengan bagaimana kita bersikap dalam lingkungan kemasyarakatan..
bgitulah islam, mengedepankan hubungan kemasyarakatan daripada amal pribadi.. lebih mengedepankan hablum minannas daripada hablum minallah…
Islam memang sangat manusiawi dan peduli kepada nasib manusia. tidak heran jika hablum minannas menentukan hablumminallah.