Buku Erosi Moralitas di Minangkabau adalah buku yang fenomenal penjualannya di Minangkabau, buku tersebut membahas tentang pergaulan bebas, seks bebas , kumpul kebo dan amoralitas lainnya yang terjadi di Minangkabau, buku tersebut di jual dengan harga Rp.30.000, dapat dibeli di toko buku Sari Anggrek Padang
Pemilik Blog
BUKU BEST SELLER
-
Komentar Terakhir
-
Top Posts
- Teori Belajar, Program Dan Prinsip Pembelajaran
- KEPEMIMPINAN RASULULLAH SAW DAN ABU BAKAR SHIDDIQ, RA
- Perencanaan dalam Lembaga Pendidikan Islam
- Khauf
- Metode Mendidik Akhlak Anak
- Urgensi Akhlak dalam Ritual Islam
- Sejarah perkembangan Ilmu dan Filsafat
- Nabi Muhammad Buta Huruf
- Pemikiran Ali Asraf Tentang Konsep Pendidikan Islam
- (DESENTRALISASI, OTONOMI DAN PENINGKATAN SEKOLAH)
Arsip
-
Top Clicks
- Tidak ada








membaca buku adalah kebutuhan. membaca adalah perintah Tuhan untuk semua manusia. membaca akan memperkaya wawasan, membaca menunjukkan kepatuhan kepada Tuhan. buku di atas adalah salah satu bacaan untuk menambah wawasan terutama tentang perkembangan amoralitas di Minangkabau. penasaran silahkan miliki buku itu.
suatu ketika aku baca buku itu terasa bahwa aku merasa sedih sebagai orang Minangkabau, sebab betapa anak nagari ini telah melupakan adat dan nilai-nilai agama. semoga generasi yang suka ngeseks, gaul bebas cepat tobat.
membaca buku erosi di minangkabau membuat aku jatuh terduduk lesu dan mengurut dada. betapa tidak pemerkosaan di Minangkabau makin hari makin meningkat, menurut buku itu, paling tidak setiap tahun pemerkosaan di Minangkabau meningkat lima puluh persen.
membaca buku erosi moralitas di Minangkabau membuat kita sedih dan marah kepada para pemerkosa tersebut. semoga yang kena korabn perkosaan segera sembuh dan melupakan pengalaman hidup yang getir. semoga pemerkosannya diberi hukuman yang setimpal.
sering orang tua membiarkan anak gadisnya kelayapan sendiri, anak gadisnya dibiarkan pergi dengan lelaki yang bukan muhrim. orang tua biasanya membiarkan anak gadisnya pergi dengan alasan pacaran itu biasa. tapi apa yang terjadi ank gadisnya zina di luaran, ortu bilang ah biasa kan mereka sedang saling kenal? jaman sudah kali maksiat dianggap biasa? itulah kira-kira yang dapat aku cermati dari buku tersebut
wow…
wong tuban bisa buat buku best seller…
salut pak…
mungkin kalo sama-sama pulang kampung kita bisa kopdar bareng…
terima kasih atas kunjungannya, maaf yo mas kaspo, komentar pertamanya salah klik sehingga terhapus, tetapi yang pasti tidak membuat hilang penghargaan saya kepada mas kaspo, masih tersisa satu komentarnya, sekali lagi saya minta maaf atas ketidak sengajaan ini. sakam kenal juga, tuabnnya dimana ya mas kaspo? kalau saya Tuabnnya di Ngino semanding.
hmmm jadi pgn baca ttg kampung halaman sy itu..
laa ba’tsa mas (saya panggil mas aja ya) riwayat…
saya di Kecamatan Rengel…kalo dari Semanding ke arah selatan…
oh ya…
sedikit crita…beberapa tahun yang lalu sempet juga ke Sumbar…
ke Bukittinggi dalam rangka tour gunung2 di Sumatra…
saya takjub dengan kemauan daerah sana untuk menerapkan syari’at…
saya liat anak2 SMA disana wajib pake Jilbab…
trus di jalan2 banyak tulisan “Haram Berpacaran”
saya lebih takjub lagi saat melihat jilbab anak SMA itu berhiaskan sebuah pin buesar dengan tulisan “Keparat”
dan diatas bangku-bangku di sekitar Jam Gadang yang bertuliskan “Haram Berpacaran” itu terdapat sejoli yang sedang asyik masyuk…yang saya pikir mereka bukanlah mahrom…
yah..tak selamanya usaha baik itu berbuah mulus…
hendaknya penerapan syari’at juga dibarengi dengan dakwah yang pebuh hikmah…
terima kasih atas kunjungannya. yah memang kalau ada keinginan baik selalu ada hambatan. tapi ana salit dengan pak wali kota Padangnya, beliau itu sangat ulet dan kebijakannya dekat dengan agama, seprti kewajiabn pakai jilabb bagi naka SMP dan SMa, trus ada juga kebijakannya yang lain, seperti didikan subuh, subuh barokah dan wirid remaja. namun yang pasti hasil itu semua tidak dapat dilihat hasilnya saat ini, paling tidak untuk lima atau sepuluh tahun mendatang, semoga.
mengenai ada anak sma pakai jilbab trus pacaran dan pakai pin yang gak enak di lihat, itulah kenyataan hasil awal dari usaha baik pak wali kota padang. mungkin lambat laun keterpaksaan itu menjadi sebuah keikhlasan. memang ana juga pernah mengomentari realitas tersebut, dalam sebuah media lokal, dengan judul, memakai jilab keihklasan atau keterpaksaan.
terima kasih atas kunjungannya ukhti afraafifah, memang buku itu ditulis dengan latar belakang kegalauan ana, melihat dan mencermati pergaulan remaja di Minangkabau yang tidak sesuai dengan adat ketimuran, adat Minangkabau, seprti pacaran kelewat batas, seks di luar nikan, berdua-duaan yang tiadk semuhrim, trus kahir-akhir ini banyak juga generasi muda/ mahasisiwa yang ketangkep basah di rumah kos sedang mesum, atau tertangkap basah sedang mesum di hotel melati.
boleh juga nih buar referensi