Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2007

Teologi Keinfakan

Oleh: Riwayat
Berbicara infak tentu bukan sesuatu yang aneh, tetapi sesuatu kata yang sangat familiar di telinga, karena kata infak sering kita dengar diberbagai pengajian keagamaan, berbagai media, baik elektronik maupun media cetak. Pertanyaannya sudah berapa jauh teologi keinfakan itu merasuk dalam diri dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita? Sebagai salah satu perintah Tuhan, seberapa jauhkah infak memberi andil dalam pembentukan spiritual kita?
Bagaimana dengan infak yang telah kita lakukan, atau telah kita bayarkan, apakah telah membawa ke tataran teologis? Apabila belum maka secara tidak langsung kita belum mencapai target teologi keinfakan, teologi keinfakan yang penulis maksud adalah sebuah konsep ideal tentang infak yang dirumuskan oleh Allah. Infak merupakan bagian ajaran agama yang secara langsung berhubungan dengan ketuhanan. Dengan demikian infak pada dasarnya adalah konsep membangun kesadaran social sekaligus kesadaran religi.
Dalam tataran social, obyek dari infak adalah orang yang terkena bencana, orang fakir miskin, anak yatim dan orang yang kurang beruntung, orang miskin, orang terlantar, anak yatim, tidak mampu sekolah karena alasan biaya, sedang pada saat yang sama kita menjadi tetangganya, kita tahu dan kita mampu untuk menolongnya, tetapi kita tidak lakukan maka secara jelas kita belum sampai pada konsep teologi keinfakan. Kita dianggap sebagai pendusta agama.”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna,”(QS. Al-Maun:1-7)
Kita mempunya baju bekas atau makanan yang menurut kita sudah tidak layak, sebagai contoh kita mempunyai pisang, pisang yang kita beli cukup banyak sehingga berlebih, dan akhirnya tidak habis, lalu kita berfikir daripada dibuang lebih baik diberikan kepada pembantu kita, atau kita berikan kepada tetangga kita, jika itu kita lakukan maka sebenarnya secara teologi keinfakan, amal yang kita lakukan akan tertolak dan sia-sia.”Barang siapa bersedekah/berinfak seharga kurma, namun dari hasil yang baik dan Allah tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik, (HR. Bukhari).
Berkorban untuk Allah apakah dengan jalan bersedekah atau berinfak dengan sesuatu yang buruk/tidak berkualitas maka hal itu akan ditolak oleh Allah. Di sisi lain, perbuatan kita yang berlebih/pemborosan menjadikan diri kita berada dalam persekutuan/persaudaraan dengan setan.”Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah Saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”(QS. Al-Isra:27).
Apakah infak yang telah kita berikan kepada para korban gempa, banjir dan tsunami atau bahkan untuk membangun mesjid akan bermanfaat bagi kita, jawabnya bisa ya bisa tidak, bermanfaat dan berpengaruh bagi diri kita apabila infak tersebut kita lakukan karena Allah semata bukan karena ingin dipuji, atau ingin mendapatkan simpati, atau karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi, misalnya agar tercapai tujuan politiknya.
Dalam pandangan teologis keinfakan, infak dapat dianggap bermanfaat dan bernilai pahala di sisi Allah jika infak tersebut, pertama dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, kedua, sesuatu yang diinfakkan berasal dari yang baik dan halal, ketiga dalam berinfak tidak dibarengi dengan menyebut-nyebutnya, kelima, dalam berinfak tidak diiringi dengan tindakan yang menyakitkan.”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”(QS. Al-Baqarah:264).
Sebenarnya, ketika kita keluar dari garis teologis keinfakan di atas, maka akibatnya adalah pada tataran spiritual, akibat tersebut sangat membahayakan bagi kualitas spiritual kita, infak kita akan bernilaiseperti debu di atas batu yang sirna terkena hujan, lebih gawatnya lagi kita tidak akan mendapatkan manfaat dari infak yang kita lakukan, dan infak tersebut tidak mampu menembus tabir kegelapan yang menyelimuti hati kita, karena Allah telah menutup dan tidak memberi petunjuk kepada hati kita.
Akibat teologis kejiwaan dari infak yang tidak sesuai dengan konsep Allah banyak dilupakan. Sehingga terjadi kekosongan spiritual, tidak heran jika banyak orang kaya yang susah, banyak orang kaya yang gelisah, tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, kenapa terjadi yang demikian, karena secara psikologis kejiwaan, hatinya memberontak karena masih banyak saudaranya yang lain yang masih susah, miskin dan sengsara.,”Orang-orang mukmin itu saling menyayangi, saling mencintai dan merekatkan simpati, seprti halnya satu tubuh yang jika salah satu organnya mengaduh kesakitan maka seluruh tubuh akan terpanggil untuk tidak tidur dan merasakan demam,”(HR. Bukhari dan Muslim).
Secara teologis kejiwaan manusia yang tidak berinfak secara benar akan merasa gelisah, dan kehidupanya tidak tenang. Sebaliknya manusia yang berinfak ikhlas karena Allah dan tidak mengiringi infaknya dengan perkataan dan perbuatan menyakitkan serta tidak berkeinginan untuk dipuji orang maka Allah menjanjikan kepada orang tersebut terjauh dari rasa takut dan terbebas dari bersedih hati,” Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(QS. Al-Baqarah:262). Allahu Alam.

Iklan

Read Full Post »

Nabi Muhammad Buta Huruf

Oleh: Riwayat
Umat Islam meyakini bahwa Nabi Muhammad Ummi (buta huruf), benarkah anggapan itu? Kalau keyakinan itu benar, apakah ada dasarnya? Kalau faktanya Nabi Muhammad buta huruf, lalu apa artinya nabi mempunyai sifat fathanah (cerdas)?apa artinya Nabi sebagai uswatun hasanah kalau nabi sendiri tidak melakukan? Keganjilan lain adalah apakah benar Nabi Muhammad hanya menyuruh umatnya untuk menuntut ilmu, sedangkan Nabi Muhammad masih dalam belenggu buta huruf? Padahal nabi Muhammad adalah teladan umat. Aneh, tetapi kenyataannya umat terlanjur percaya dengan anggapan bahwa Nabi Muhammad buta huruf.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah umat Islam yang tidak percaya bahwa nabi Muhammad buta huruf dianggap kafir? Apakah jika seseorang tidak meyakini Nabi Muhammad buta huruf kemudian ia keluar dari Islam? meskipun ia mempercayai bahwa nabi Muhammad utusan Allah? Sebuah dilema yang tidak mudah, sebuah rahasia sejarah yang masih gelap dalam kehidupan Nabi Muhammad. Kita sebagai umat Islam yang beriman tentu meyakini semua yang datang dari Nabi Muhammad, kita meyakini perkataan, perbuatan dan sifat nabi, tetapi sebagai umat kita juga sangat marah dan tidak rela jika Nabi Muhammad disalahkan dan disudutkan sebagai orang yang buta huruf. Apakah mungkin nabi yang mempunyai sifat fathanah dianggap buta huruf, tidak bisa tulis baca?
Padahal, secara konsep keyakinan tentang kerasulan Nabi Muhammad mempunyai sifat yang sangat baik dan menjadi contoh bagi umatnya, sifat itu adalah siddik, amanah, tabliq, fathanah. Kalau konsep ini kita hubungankan atau kita adu dengan pemahaman kita selama ini yang terlanjur meyakini bahwa Nabi Muhammad buta huruf, tentu sangat berlawanan, apakah mungkin seorang Nabi yang fathanah/cerdas dianggap buta huruf? Dari sisi pandang ini saja, sebenarnya dapat kita pahami bahwa anggapan Nabi sebagai buta huruf terbantahkan dengan sendirinya oleh sifat fathanah Nabi Muhammad. Kalau memang Nabi Muhammad fathanah, seharusnya stempel buta huruf/ummi yang kita sematkan kepada Nabi tidak perlu ada, sebab akan menjadi kontradiksi sifat, apakah masuk akal, kalau kita menyematkan sifat fathanah kepada seseorang, kemudian di sisi lain kita menyematkan kepadanya dengan sifat bodoh/buta huruf?
Para pendukung pendapat bahwa nabi ummi beralasan bahwa keummian Nabi Muhammad akan menjadikan Nabi berlaku jujur dan dapat di percaya/siddik. Padahal sifat jujur dan siddik adalah kepribadian bukan akibat dari buta hurufnya Nabi Muhammad. Kemudian timbul pertanyaan, apakah dengan buta huruf menjamin seseorang jujur dan dapat dipercaya? Realitasnya banyak orang yang buta huruf mempunyai sifat penghianat, mempunyai sifat pendusta. Apakah dapat dijamin orang yang buta huruf akan jujur dan terjauh dari sifat penghianat? Jadi alasan yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad buta huruf bertujuan agar Nabi Muhammad jujur dan siddik adalah argumentasi yang tidak berdasar.
Kalau memang benar bahwa Nabi Muhammad buta huruf, lalu masuk kenapa malaikat jibril menyuruh Muhammad membaca? Padahal kalau kita kalau kita umpamakan menyuruh orang untuk mengerjakan sesuatu atau sebagai contoh kita menyuruh orang membaca sebuah buku sudah tentu yang kita suruh adalah orang yang sudah dapat membaca, bukan orang yang buta huruf. Kemudian bagaimana dengan peristiwa Nabi Muhammad ketika menerima wahyu yang pertama, beliau disuruh membaca oleh malaikat Jibril, tentunya Nabi Muhammad bukan manusia yang buta huruf? Apakah mungkin manusia yang tidak dapat membaca disuruh membaca? Mungkin orang yang tidak setuju dengan ini, akan berargumen bahwa Nabi Muhammad dibimbing oleh Allah, sehingga beliau akhirnya dapat membaca Al-Quran seperti yang disuruh oelh malaikat Jibril. Argument ini juga ada kelemahannya, sebab Al-Quran turun dalam bahasa Arab jadi mustahil Nabi Muhammad tidak mampu berbahasa Arab dan tidak mampu membaca, dilain pihak pada masa masyarakat Mekah sebelum Islam sudah mempunyai kebiasaan bersyair dan menuliskannya, di pihak lain Nabi Muhammad berasal dari keluarga ningrat, dan pada waktu itu para keluarga ningrat mempunyai kebiasaan menyusukan anak-anak mereka kepada wanita lain, tidak itu saja para nigrat Mekah mempunyai lembaga pendidikan yang bernama kuttab, kuttab adalah tempat pendidikan bagi kaum nigrat Mekah. Jadi mustahil sebagai seorang ningrat Nabi Muhammad tidak mengecap pendidikan kuttab?
Fakta lain, Abu Thalib paman Nabi adalah orang yang sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka, contoh Ali bin Abi Thalib abu thalib yang dijuluki gudang ilmu, dari sini saja dapat kita pahami bahawa keluarga Nabi Muhammad sangat peduli terhadap pendidikan. Abu Thalib sangat perhatian kepada Nabi Muhammad, hal ini dibuktikan dengan membela Nabi dari ancaman kaum Qurais sampai akhir hayatnya. Abu Thalib sangat sayang kepada Nabi Muhammad, lalu pertanyaan yang timbul adalah apakah orang yang disayangnya akan dibiarkan dalam kebodohan dan buta huruf? Tentu jawabnya adalah tidak, kalau Abu Thalib menyayangi Ali dan menyuruhnya belajar membaca dan menulsi, tentau perlakukan Abu Thalib kepada Nabi juga sama, kenapa sama? Karena Nabi Muhammad juga kesayangan AbuThalib jadi suatu yang mustahil kalau Abu Thalib membiarkan Nabi Muhammad dalam keadaan buta huruf.
Mungkin orang yang tidak kalau Nabi tidak buta huruf akan memberi argument lebih lanjut, bukti Nabi Buta huruf adalah Nabi tidak menulis sendiri wahyu yang turun, tetapi sebaliknya Nabi menyuruh sekretarisnya untuk menuliskannya, jadi hal ini adalah bukti bahwa Nabi Muhammad itu buta huruf. Tetapi argumen ini tidaklah kuat sebab belum tentu orang yang mewakilkan penulisan sesuatu diakibatkan ketidakmampuan menuliskan, tetapi semacam pembagian tugas,atau bahkan Nabi mempunyai pemikiran jauh ke masa depan yang lebih besar. Bisa jadi Nabi Muhammad tidak menuliskan sendiri wahyu yang turun dari Allah agar di kemudian hari tidak ada fitnah dan anggapan bahwa Al-Quran adalah karangan Nabi Muhammad. Bayangkan saja kalau pada saat itu nabi tidak mendelegasikan penulisan wahyu, maka orang Arab Qurais menuduh bahwa Al-Quran adalah buatan Nabi Muhammad, lebih berbahayanya lagi adalah generasi sedudah masa Nabi dan masa sekarang ini. Akan tergoda untuk tidak mengakui keabsahan Alquran, hanya karena Al-quran ditulis sendiri oleh Nabi Muhammad. Hal inilah yang mungkin di antisipasi oleh Nabi Muhammad.
Anggapan Nabi seorang Ummi tidaklah benar, hal ini mungkin bantahan dari orang yang setuju kalau Nabi Ummi/ buta baca/tulis. Namun pihak lain, yang tidak yakin bahwa Nabi Muhamad but abaca tulis akan berpendapat mana mungkin Nabi Muhammad buta baca tulis, sedangkan perintah pertama wahyu Allah adalah perintah membaca dan menuliskannya, jadi mustahil kalau Nabi Muhammad buta baca tulis, apakah mungkin seorang Nabi menyuruh umatnya membaca Al-quran sedangkan Nabi sendiri tidak mampu membaca, apa mungkin seoarang Nabi menyuruh umatnya belajar dan menuntut ilmu, menyuruh para tawanan perang untuk mengajarkan kepada umat pada waktu itu agar mampu membaca dan menulis, sedangkan Nabi Muhammad sendiri tidak mampu membaca dan menulis, sesuatu yang mustahil dan paradok. Nabi Muhammad adalah uswatun hasanah, dinamakan uswatun hasanah karena sebelum memerintahkan kepada umatnya Nabi Muhammad terlebih dahulu melaksanakannya, jadi tidak mungkin Nabi menyuruh orang untuk belajar membaca dan menulis sedangkan Nabi tidak mengerjakan terlebih dahulu/ tidak mengamalkannya. Lalu dimana letak uswatun hasanahnya?
Uraian tersebut makin memperjelas bahwa anggapan nabi Muhammad ummi/buta baca tulis adalah tidak benar, sebab bertentangan sifat kenabian seperti fathanah. Lebih gawatnya lagi adalah bertentangan firman Allah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah uswatun hasanah. Sekali lagi pemahaman kalau Nab iseorang yang Ummi/baca tulis adalah tidak benar, sebab hal itu bertentangan dengan sifat fathanah/cerdas Nabi Muhammad.
Anggapan Nabi Muhammad buta huruf dengan sendirinya terbantah oleh fakta sejarah, fakta tersebut adalah bahwa Nabi Muhammad mampu membaca Al-Quran, dan waktu membaca Al-quran dirumahya, Muhammad Saw sering dikuping oleh pamanya yaitu Abu Jahal dan Abu Syofyan, hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak buta baca tulis.
Meskipun dalam Al-Quran ada ayat yang mengatakan Bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang ummi tetapi hal tersebut tidak berarti Nabi Muhammad buta huruf/ but baca tulis.” (yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Al-Isra).
Meskipun ayat tersebut memberi informasi bahwa Nabi Muhammad adalah ummi, tetapi yang perlu pahami di pertanyakan adalah ummi yang bagaimana? Ummi yang seperti apa? Apakah benar ummi menurut ayat di atas adalah buta baca tulis? Ummi makna yang lain? Sebab AlQuran mempunyai nilai sastra yang tinggi, bisa jadi Allah memberikan sifat ummi bukanlah pemahaman secara tersurat tetapi lebih kepada aspek tersirat dan filosofis. Allahu A’lam.

Read Full Post »

Khauf

Oleh :Riwayat
Khauf adalah semacam cambuk Allah untuk melecut manusiaagar menuju kepada Allah dengan ilmu dan amal yang baik, dengan ilmu dan amal yang baik akan mengantarkan manusia kepada kebaikan di sisi Allah.
Khauf adalah semacam ungkapan keritan hatii terhadap apa yang dihadapi, khauf adalah usaha terhadao diri untuk mencegah diri dari berbuat maksiat dan menggantinya dengan berbagai amal baik dan bentuk ketakwaan kepada Allah.
Oramg yang tidak mempunyai rasa khauf atau rasa takut akan terjerumus dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.sebaliknya terlalu banyak khauf akan menyebabkan putus asa.
Kauf dapat lahir dari rasa berdosa dan karena dosa yang dilakukan oleh seseorang, tetapi berarti kalau ingin mempunyai rasa khaufharus berdosa, tidakseprti itu, tetapi adalah upaya.
Orang yang takut kepada Allah bukan orang yang hanya menangis saja setiap hari, bukan orang yang selalu bercucuran air mata, tetapi orang yang khauf adalah orang yang eminggalkan perbuatannya yang ia khawatir mendapatka hukuman atas apa yang dilakukannya.
Dzunun al-Misri pernah ditanya,” kapan seoarang hamba itu takut kepadaAllah? “ Ia menjawab,”jika ia mendudukkan dirinya sebagai orang sakit yang menahan diri darai berbagai hal Karen khawatir jika sakitnya berkepanjangan.
Abul Qasim al-hakim mengatakan orang yang takut kepada sesuatu biasnya akan segera lari menjauh dari yang diikutinya sebalikny takut keoada Allah jutru ia lebih dekat kepada Allah.
Orang yang mempunyai sifat khauf akan mempunyai pengetehauan tentang diri dan Tuhan-Nya.khauf akakn membakar sahwat mereka, dan berbagai keinginan buruk lainnya, hal ini sangat berbea dengan manusia yang tidak mempunyai rasa khauf kepada Allah ,manusia seperti ini akan cenderung ber buat sesuai dengan hawa nafsunya..
Orang yang takut kepada Allah adalah orang alim/ orang berilmu. Dengandemikian mempunyai ilmu akancenderung mengantarkan si pemiliknya untuk lebih dekat kepada Allah. “Bahwa yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Ku aalah para ulama,”(father:28).
Di anatara keutamaan takut/khauf kepada Allah adalah mendapat rahmat, petunjuk, ilmu dan keridhaannya. “petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Allah/rabb,”(al-Araf:156). Allah berfirman”Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Demikian itu untuk sipa saja yang takut kepada Allah,”(al-bayinah:8).

Fudhail bin Iyad berkata,” barang siapa takut kepada Allah, maka rasa takutnya itu akan menunjukkan segala kebaikan kepadanya.”
Dengan demiikian bersikap khauf adalahsesuatu yang baik danberakhlak di sisi manusia..

Read Full Post »

Mu’tazilah

Oleh: Riwayat
Kalam muncul dalam lingkungan ulama tradisional pada tahun kedua hijriyah yang kemudian dikenal dengan nama mu’tazilah. Pendirinya adalah Wasil bin Ata’ (w.131/748). Ia mempunyai murid terkenal bernama Hasan al-Basri. Hasan Basri terkenal ahli dalam bidang sufisme dan hadis. Hasan absri tinggal di Basra.
Mu’tazilah dikenal dalam sejarah sebagi aliran yang mengusung pemikiran bebas dan rasional . hal tersebut diakui oleh para ilmuwan Islam maupun Barat. Aliran pemikiran ini berkembang pesat di Irak. Di antara ulama pendiri mu’tazilah dari Basra adalah Abul Hudhayl al-Alaf (w.226/840), Abu Ishaq al Nazzam(w.231/845), Amr ibn Bahr al-Iahiz(w.255/869). Ada juga pendiri mu’tazilah yang berasal dari Bagdad yaitu Abu Ali al-Jubbai (w.303/915), Bisyr al-Mu’tamir (w.210/825).
Pada awal abad ke 3/9, mu’tazilah mulai kurang beruntung, karena kedudukannya sebagialiran pemikiran mulai digeser oleh aliran kalam pada waktu itu, yaitu aliran Asyariyah. Meskipun demikian aliran Mu’tazilah tidak hancur atau mati tetapi masih berkembang meskipun tidak terlalu menjadi mainstream di tengah masyarakat. Aliran ini mampu bertahan hingga dua abad berikutnya.
Dalam sejarah pemikiran Islam, Mutazilah menjadi terkenal dengan lima prinsipnya (al Usul al khamsah), yang kelima prinsip tersebut merupakan ringkasan dasar dari jaran mu’tazilah. Kelima prinsip tersebut adalah, keesaan, keadilan, janji dan ancaman, dalam posisi di antara orang Muslim yang berbuat dosa, mendesak manusia untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat. Mu’tazilah mengatakan pentingnya transendensi Tuhan dalam suatu cara menempatkan Tuhan pada ide yang abtrak.
Mu’tazilah berusaha menghindari penafsiran nama nama Allah yang bersifat antrophosentrisme. Sebab Tuhan adalah Esa. Mu;tazilah mengklaim bahwa manusia tidak dapat mengerti makna sesungguhnya tentang sifat-sifat ilahi., seprti penglihatan pendengaran kaki, tangan, dan sifat Ilahi tidakm mempunyai fakta realitas pada pandangan mu’tazilah. Mu’tazilah meyakini bahwa al-Quran tidak kekal, bahkan mengatakan bahwa al-Quran sebagai kalam Tuhan tidak kekal.
Mu;tazilah menekankan pentingnya keadilan, keadilan menurut mutazilah adalah bahwa Tuhan adalah Maha Bijaksana, dengan demikian Tuhan harus mempunyai tujuan dalam menciptakan alam semesta ini. Di lain pihak harus juga memberi bekal keadilan, kebaikan, keburukan yang obyektif dalam ciptaan Tuhan. Tuhan harus adil kepada siapa saja. Meskipun orang itu tidak patuh kepada-Nya. Tuhan Maha baik sehingga tidak dapat melawan sifat-sifatnya, Tuhan harus selalu melakukan keadilan dan berbuat yang terbaik. Mu’tazilah percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah berbuat jahat. Sebaliknya kejahatan dan keburukan diciptakan oleh manusia, yang menurut Mu’tazilah manusia telah diberi kemerdekaan utnuk melakukan perbuatan baik dan buruk. Oleh karena itu menusia harus bertanggung jawab terhadap perbuatannya.
Janji dan ancaman, berhubungan dengan kelompok manusia yang beriman, fasiq dan mereka yang inkar. Menurut Mu’tazilah iman saja tidak cukup, tetapi iman harus menghindari dari dosa yang menyakitkan.Muta;zilah menyatakan bahwa manusia yang “berada di antara” posisi sebagai orang yang berbuat dosa. Orang-orang muslim yang melakuklandosa berada di posisi antara mukmin dan kafir, manzilah bayn al manzilataayn,. Prinsip terakhir Mu’tazilah adalam prinsip menyuruh orang berbuat baik,sekaligus melalarng mereka berbuat buruk. Allah Alam.

Read Full Post »

Oleh Riwayat
Menarik didiskusikan tulisan Samsul Nizar,”Membangun Konsep Pendidikan Berwawasan Kebudayaan Minangkabau,”(Singgalang, 22 /10/07), Samsul Nizarmengatakan bahwa keberadaan surau di Miangkabau tidak hanya sekedar tempat Ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai pengaruh besar terhadap dinamika intelektual umat Islam pada waktu itu. Lebih lanjut Samsul Nizar merinci pergeseran dan kendala dalam perubahan pendidikan Islam di Minangkabau, diantara kendala tersebut adalah kendala dari dalam, yaitu sikap kelompok tradisional yang bertahan dengan sistem ortodoksi pendidikan Islam.
Latar belakang ketidakmauan untuk merubah sistem pendidikanIslam kala itu dipengaruhi oleh sikap kemapanan yang telah dinikmati oleh ulama-ulama Minangkabau(generasi tua) pada waktu itu. Mereka tidak ingin mengambil resiko terlalu besar. Mereka beranggapan sistem pendidikan yang merekaterapkan sudah cukup untuk mengatasi problema keilmua dan kebutuhan akan pendidikan pada waktu itu. Sehingga belum perlu untuk mengubah atau mengganti dengan sisitem pendidikan lain.
Kecurigaan kaumm pembaharu (intelektual muda) pada waktu itu terlalu berlebihan, para pembaharu menuduh bahwa ulama-ulama sebelum mereka telah mengajarkan kepada umat untuk hidup condong kepada keakheratan, sehingga menurut mereka ulama-ulama pendidik pada waktu itu mengabaikan hal-hal yang bersifat kekinian atau keduniaan. Alasan mereka menuduh ulama generasi tua sebagai biang dari ketidakpedulian umat Islam terhadap masalah duniawi. Ulama generasi tua dianggap mendoktrin umat dengan materi-materiyangbersifat ketarekatan, sehingga umat terjebak kepada ibadah saja,sedangkan untuk bekerja secara keduniaan sangat sedikit kalau tidak dianggap hampir tidak ada.
Anggapan seperti ini sebenarnya kurang berdasar, sebab kalau ditilik ke belakang ternyata yang diajarkan oelah ulama generasi tua adalah mengajarkan al-Quran, sehingga sangat mungkin diajarkan keseimbangan hidup, anatar kebutuhan akherat dan keperluan duniawi. Dalam al-Quran di katakana bahwa kita disuruh untuk mencvari kebahagiaan akherat, tetapi jangan lupa bahagianmu untuk kebahagiaan didunia (Qs. Al-Qasas: 77). Dari ini dapat dipahami bahwa al-Quran secara tegasmengajarkan keseimbangan hidup antara dunia dan akherat. Jadi sebenarnayapa yang dituduhkan terhadap ulama generasi tua adalah kurang berdasar. Apakahmungkin seorang ulama yang tahu agama dan ilmu tafsirakan memberikan ilmu kepada murid-muridnya asal-asalan saja? Di sisi lain, ulama-ulama generasi tua juga menyadaribahwakehidupan dunia juga penting sedangkan kehidupan akherat juga penting, maka tidakadaalasan bagi ulama tua untuk menyesatkan umat dengan mendoktrin sesuatu ajaran al-quran yang tidak seimbang.
Ketertutup umat Islam pada waktu itu bukan karena paradigma pendidikan tardisional, tetapi lebih karena rasaaman yag telah mereka lalui selama mengelola sistem pendidikan pada waktu itu, rasa aman inilah yang sebenarnya menjadikan ulama-ulam generasi tua enggan untuk merubah sistem pendidikan yang telah ada dan sedang dijalankan.

Read Full Post »

ZUHUD TERHADAP DUNIA

Oleh : Riwayat

(Mhs. Pasca sarjana IAIN Imam Bonjol Padang

 

Wamaa hadihil hayatud dunyaa illa lahwu wala’ibu wainnad daa ral akhirata lahiyal hayawaanu lau kaa nuu ya’lamuuna.

 

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan kelengahan dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akherat, dialah kehidupan sempurna, kalau mereka mengetahui.(Al-Ankabut: 64).

Sayyid Quthub mengatakan bahwa kehidupan dunia dengan segala rejeki dan kenikmatannya adalah kelengahan dan permaian jika dibandingkan dengan kehidupan negeri akherat.

Prof Dr. Qurais Shihab, menyakan bahwa ayat ini menyatakan bahwa kehidupan dunia ini adalah rendah dan kelengahan. Kegiatan yang menyenangkan, hati tetapi tidak/kurang penting sehingga melengahkan pelakunya dari hal-hal yang penting.

Permainan maksudnya adalah ativitas yang sia-sia tanpa tujuan.

Thahir Ibnu Asyur, menyatakan bahwa kata hadzihi dalam ayat tersebut mengandung isyarat kerendahan nilainya.

Thabathabai menjelaskan bahwa kata laib adalah satu kegiatan atau aneka kegiatan yang teratur tetapi bersifat khayali (tidak ada wujudnya dalam kenyataan) dan untuk tujuan khayali seperti halnya permaian anak-anak.

Kehidupan dunia dikatakan laib karena ia akan lenyap, segera hilang seprti halnya anak-anak, berkumpul bermain dan bergembira sesaat, kemudian berpisah.Yang mereka persaingkan/perebutkan adalah bersifat wahan (sangkaan tidak berdasar/tanpa wujud nyata). Seperti harta benda, pasangan, anak-anak, kedudukan, kepemimpinan.

Qurais Shihab,  menyatakan bahwa ayat di atas bukan berbicara tentang kehidupan bagi semua manusia, tetapi ia menggambarkan bagaimana kehidupan dunia dalam pandangan,sikap dan perilaku orang-orang kafir. Orang kafirmenganggap kehidupan dunia adalah satu-satunya kehidupan.

Nabi bersabda, Dunia ini terkutuk dan terkutuklah segala isinya, kecuali yang ditujukan kepada Allah.

 Nabi bersabda, Cinta dunia adalah induk segala dosa.

Ali bin abi Thalib berkata. Perumpamaan dunia adalah seperti ular yang lunak ketika disentuh, sedangkan racunya mematikan (Ihya Ulumuddin).

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(Al-Hadid: 20)

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Imran:14)

 

Nabi bersabda“ barang siapa keinginannya adalah dunia, maka allah menceraiberaikan pikiran dan harta bendanya serta sebagian besar kemiskinannya ada didepan matanya. Dan dunia tidak datang kepadanya kecuali yang ditetapkan baginya. Siap yang keinginannya adalah akherat, maka allah menyatukan pikiran dan memelihara harta bendanya serta menjadikan kekayaannya di dalam hatinya serta dunia pun datang kepadanya. (ihya Ulumuddin)

 

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.(Syura:20)

 

Perumpamaan orang meninggalkan dunia untuk akherat seperti orang yang dihalangi anjing untuk memasuki pintu raja, lalu ia melemparkan sepotong roti kepada anjing, sehingga melalaikan anjing itu.ia pun masuk pintu dan mendapat keududukan di sisi raja. Setan adalah anjing di pintu raja. Dunia ibarat sepotong roti.

Addunya sijnul mukmin wajannatul kafir (HR. Muslim)

Unduruu ila man asfala minkum wa laa tan dzuruu man huwa fauqokum (HR. Muslim)

Tiga yang mengikuti kepergian mayit, yaitu keluarga, harta dan amalnya. Dua di antaranya kembali dan yang tetap menyertainya hanya satu. Harta dan amal kembali dan yang tetap menyertai adalah amalnya.(HR. Muslim)

Maddunya fil akhirati illa misla maa yajalu aha dukum ash ba ahu filyammi falyandur bima yarjiu.

Tiadalah perumpamaan dunia dengan akhirat itu melainkan laksana seseorang di antara kamu yang memasukkan jarijarinya ke dalam lautan, maka coba perhatikan apa yang dapat ia peroleh? (HR. Muslim).

Zuhud

 

Iijhad fiddunyaa yuhibbukallahu.(Ibnu Majah)

 

Zuhud  adalah berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya.

Yunus bin Maisarah mengatakan bahwa zuhud terhadap dunia itu bukan dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula dengan membuang harta, tetapi zuhud terhadap dunia adalah

pertama kamu lebih yakin dan percaya kepada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada ditanganmu.

Kedua,keadaan dan sikap yang sama, baik ketika ditimpa musibah ataupun tidak.

Ketiga, dalam pandanganmu orang lain itu sama, baik yang memujimu atau yang mencelamu karena kebenaran.

Fudhail bin Iyad, Pondasi zuhud adalah ridha terhadap segala yang datang dari Allah.

Hasan Al-Basri berkata, seorang yang zuhud adalah yang jika melihat seseorang, ia mengatakan, dia lebih zuhud daripada diriku.

 

Imam ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta banyak, apakah orang itu bisa berzuhud?, beliau menjawab, apabila ia tidak bangga ketika harta itu bertambah dan tidak bersedih ketika berkurang.

 

Fuhdail bin Iyad, berkata,“ orang yang selalu qanaah adalah orang yang zuhud.

 

Yadkhulul fuqaraul jannata qoblal  agniya’ i bikhomsi  mi ati amin

(Orang-orang miskin akanmasuksurga 500 tahun lebih dulu daripada orang-orang kaya.(HR. Turmudzi).

Inna li kulli ummatin fitnah  wafitnatu  ummatil maalu(sesungguhnya setiap umat itu mempunyai cobaan dan cobaan umatku adalah harta benda) (HR. Turmudzi).

I’mal li dunyaka ka annaka taisu abada wa’mal li akhirata ka annaka tamutu ghodan(HR. Muslim).

 

Anta’budallah ka annaka taraa hu faillam takun taraa hu fainna hu yaraa ka (HR. Muslim).

 

Dosa membawa kegelisahan, amal baik membawa ketenangan.

 Orang takut mati berarti ia sedikit amal dan banyak dosa

Orang berani mati berarti ia banyak amal dan sedikit dosa. Tidak berlaku bagi orang yang bunuh diri.

 

 

 

Read Full Post »

Filsafat Isyraqiyah

Oleh: Riwayat

(Mhs. Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)

 

Isyaq mempunyai iluminasi dapat berarti cahaya awal pada saat pagi hari, seperti cahaya matahari dari arah timur. Cahaya dari “timur”  bukan tempat secara geografis, tetapi  awal cahaya. Filsafat isyraqiyah dapat berarti filsafat ketimuran, ada mengatakan sebagai filsafat iluminatif. Filsafat isyaraqiyah adalah pengetahuan dan pertolongan, ketika manusia tertolong dan tercerahkan maka ia dapat menyesuaikan diri dalam semesta alam dan akhrinya bermuara kepada  kehidupan atau tempat kediaman azali. Menurut   Seyyed Hossein Nasr jagad bayangan kegelapan keberadaan kehidupan manusia berada di barat yaitu dunia yang wujud. Tidak memperhitungan  dimana manusia menetap secara georafis.

Manusia spiritual iluminatif, menyadari akan asal keberadaannya, yaitu dari “timur”. Sehingga menjadi manusia yang tidak di kenal dan bahkan dianggap asing di negeri sendiri. Negeri itu adalah dunia ini. Para isyaqiyah terasing dan dianggap asing keberadaannya di dunia ini. Adanya keterasingan tersebut filosof Suhrawardi  dalam bukunya Qissat al _Ghurbat al- Gharbiyyah mentakan manusia mempunyai ingatan akan kediaman yang kekal, abadi, manusia mempunyai kediaman yang sebenarnya, rumah yang benar, dengan bantuan iluminatif manusia mampu menjangkau kediamannya.

Nasr mengatakan pengetahuan iluminatif dimungkinkan berhubungan dengan tatanan–tatanan malaikat, mentrasformasi kebaradaan manusia dan menolongnya. Malaikat adalah instrument iluminasi karena malaikat dianggap penyelamat. Manusia telah mengalami semacam kelengseran dari duna icahaya sinyal dan dikembalikan kepada dunia dan menyatu kembali dengan sifat kemalaikatan. Malaikat dianggap sebagai karib terpercaya, dimana posisi manusia menjadi bagian tidak terpisahkan, dipercaya dan dianggap suci dari campuran dan tergolong murni sempurna.

Filsafat isyraqiyah menggambarkan sebuah bahasa simbol secara imanen, suatu dunia sangat luas, berdasarkan simbol cahaya dan “timur” meruntuhkan batas-batas kosmologi Aristotelian dan termasuk batas-batas akal rasional didefinisikan Aristotelian. Suhrawardi mempnyai kemampuan membuat sesuatu metafisika cahaya/nur secara esensial dan dalam bentuk kosmologi, yang sulit dideteksi padanan kemuliaannnya dan keindahannya. Suhrawardi menghadapkan pencari yang gigih dan tanggguh, melalui media ruang kosmik dan mengantarkan seseorang kepada realitas nur sejati, nur sejati itu adalah keberadaan “timur”.

Perjalanan bersifat filosofis dan spiritual manusia dibimbing oleh suatu pengetahuan, yang merupakan cahaya itu  sendiri, hal ini didasarkan bahwa ilmu adalah cahaya, Nabi Saw mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya, orang bersih akan mendapatkan cahaya ilmu. Suhrawardi mengatakan bahwa ilmu adalah cahaya dan tidak semua orang akan mendapatkannya. Dalam karya terakhirnya Suhrawardi menyatakan bahwa tidak semua manusia dapat menerima  cahaya ilmu tersebut, hal ini dijelaskan dalam bukunya Hikmah al-Isyaq, Manusia dapat mengetahui setelah jiwa  manusia bersih, suci, batinya suci, berlatih dengan keras, latihan-latihan bersifat filosofis secara terus-menerus dengan tingkat latihan keras dan sungguh-sunguh., latihan tersebut untuk menundukkan hawa nafsu dan nafsu batin ruhani.

Untuk orang-orang terpilih ajaran isyraqiyah menampakkan suatu pengalaman dan pengetahuan batin, kebijaksanaan kekal/shopiaperennis, memancar dan tertransformasikan, menghilangkan dan membangkitkan manusia mencapai tingkat pleroma dan dunia cahaya kosmik. Pada abad VII/XVI di tandai dengan penyesuaain besar berbagai aktivitas filsafat Islam, pada waktu Persia menjadi ajang pengembangan filasafat islam, periode ini filsafat Ibnu Sina dikembangkan, dibangkitkan kembali oleh Nasir al Din al-Tusi, beliau adalah tokoh paripatetik Islam terkenal. Komentarnya tentang isyarat wa i-tanbihat dan reponnya terhadap kritik-kritik Fakhr al- Din al -Razi terhadapa Ibnu Sina, memberi pengaruh besar terhadap filsafat Islam.

Tusi dianggap sebagai terkenal kalangan filosof, termasuk Qutb al-Din Syirazi, Dabiran i Khatibi Qazwani(w.675/1276) dengan karyanya Hikmat al-ayn (Wisdom from Surce). Filososf terkenal lainya adalah Amir al-Din al-Abhari (w.663/12264), dengan karyanya Hidayat al-Hikmat (Guide of Philosophy). Bahkan karya ini menjadi popular pada era berikutnya, hal ini terjadi berkat  peran Mula Sadra yang mengomentari karya tersebut. Sehingga karya itu diketahui oleh kalangan filosof dan masyakat luas.

         

 

Read Full Post »

Older Posts »