Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2007

Oleh: Riwayat 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang. Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam .Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Qs. Al-Alaq:1-5).

Bacalah, itulah firman Allah kepada Nabi Muhammad Saw. Sebuah perintah bermuatan keilmuan, kenapa dikatakan bermuatan keilmuan, karena pada dasarnya berawal dari aktivitas membaca semua rahasia ilmu akan terbuka, dengan membaca akan membuka pintu gerbang pengetahuan, pengetahuan yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui. Membaca menjadi awal dari wahyu ketuhanan, hal ini memberi gambaran dan pemhaman bagi orang yang berfikir, bahwa aktivitas membaca sangat penting di hadapan Tuhan, hal ini dapat kita cermati  kenapa Allah menurunkan firmannya tidak dengan kalimat yang lain?, seperti salatlah, atau puasalah, atau bekerjalah, tetapi Allah lebih memilih satu kata, yaitu bacalah. Tentunya aktivitas membaca  memberi makna dan manfaat yang dahsyat bagi manusia yang membiasakannya.

            Makna yang mungkin akan diterima bagi yang suka membaca adalah kearifan, kebijaksanaan dan keilmuan, tentunya perintah membaca bukan sekedar apa yang tertulis dalam Al-Quran yang telah dibukukan, tetapi dapat juga membaca yang tersirat. Membaca fenomena alam kata orang bijak. Namun yang pasti dengan membaca Al-Quran akan mendapatkan pahala,  pahala yang didapatkan dari aktivitas membaca Al-Quran pada dasarnya adalah sebuah daya tarik dan motivasi yang tujuannya adalah agar manusia suka membaca, jadi sebenarnya pahala yang didapatkan dari membaca Al-Quran bukan tujuan utama, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana manusia menumbuhkan dalam diri manusia sebuah kepribadian dan kebiasaan membaca.

Dengan  membaca manusia akan banyak mendapatkan banyak ilmu yang telah Allah rancang untuk kebutuhan dan kebahagiaan manusia. Ilmu hanya dapat diperoleh melalui aktivitas membaca, tanpa membaca sebenarnya kita telah memulai pembodohan terhadap diri sendiri, padahal, kita diciptakan Allah secara sempurna, dan yang membedakan kita dengan makhluk lain adalah akal dan pikiran kita, dan pikiran kita akan terbuka dan terpelihara secara kualitas intelektual hanya dengan aktivitas membaca. Tidak heran jika Nabi Muhammad Saw menjamin bahwa orang yang suka membaca tidak akan pikun.”Pembaca Al-Quran tidak akan pikun”.(HR. Ahmad). Yang lebih penting adalah agar umat Islam menjadi umat yang intelek, umat yang berbudaya dan berperadaban ilmiah, menjadi bangsa yang menjujung tinggi budaya keilmuan. Salah  satu ciri bangsa yang menjunjung tinggi budaya ilmiah dan keilmuan adalah mempunyai kebiasaan membaca.

Kalau di cermati lebih dalam, perintah membaca di atas bersifat umum, keumuman tersebut dapat diperhatikan dari kata di atas, bacalah, kata bacalah mengindikasikan bahwa perintah membaca bersifat umum karena tidak ada kalimat penjelas berikutnya, umpamanya bacalah Al-Quran, atau bacalah buku ilmiah atau bacalah Koran, tetapi yang Allah katakan hanya kata “bacalah”. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas membaca tidak hanya sekedar membaca Al-Quran, tetapi membaca apa saja yang dapat dibaca.

Meskipun demikian aktivitas membaca Al-Quran hendaknya lebih mendapat prioritas, kenapa membaca Al-Quran lebih mendapatkan prioritas karena dengan membaca Al-Quran manusia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat,”beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”.(Qs. Al-Baqarah:185)

Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dalam membaca bacaan yang lain, artinya berawal dari membaca Al-Quran manusia akan mendapatkan berbagai kunci utama dari berbagai pengetahuan yang lebih besar. Tentunya, aktivitas membaca hendaknya dibarengi dengan mengingat nama Allah, dengan mengingat atau mengawali membaca dengan niat ikhlas karena Allah akan membuka jalan bagi manusia untuk memahami berbagai ciptaan, kreasi dan berbagai rahasia tersembunyi yang Allah sediakan. Hal itu akan kita dapatkan tatkala kita tahu dan paham arti serta makna  Al-Quran.

Ironisnya, perintah membaca  masih sedikit mendapatkan perhatian di kalangan umat Islam, hal ini dapat diperhatikan dari kenyataan sehari-hari di masyarakat muslim, banyak waktu lowong tidak digunakan untuk membaca, budaya kumpul-kumpul dan budaya menonton lebih menonjol dibandingkan dengan budaya membaca, bila dicermati lebih jauh, aktivitas membaca mendapat porsi sedikit dihati umat Islam dapat dilihat di atas angkot, sebagai masyarakat awam, pasti sering melihat aktivitas  yang dilakukan oleh para penumpang angkot, bus kota atau angkutan umum lainnya? Sangat jarang dan langka ditemukan penumpang angkot, bus kota, atau bus antar lintas propinsi yang membawa buku untuk dibaca, paling-paling yang terlihat adalah berbicara kesana-kemari yang tidak jelas maknanya, atau terdiam saja, atau ngrumpi dengan teman sebangkunya. Pemandangan berbeda akan kita lihat di belahan dunia lain, jepang misalnya, masyarakat Jepang ketika menunggu bus di halte, atau sedang dalam bus kota tauapun kereta api mereka mengisi waktu luangnya dengan membaca, bahkan di Amerika di kamar mandi/WC ada di sediakan bacaan berupa buku ataupun majalah. Berbeda dengan keadaan negeri kita, budaya baca masih belum menjadi kebutuhan. Membaca di tempat umum akan menjadi aneh dan masih dianggap tabu di negeri ini. Tidak heran jika bangsa ini masih menjadi bangsa penonton. Ironis memang. Tetapi itulah faktanya.

Ironis dan menyedihkan, itulah komentar yang pantas di berikan kepada masyarakat Islam yang enggan membaca.  Menyedihkan karena umat Islam tidak mengindahkan firman Allah yang pertama diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw,  yaitu perintah membaca. Dikatakan ironis karena umat Islam bangga dengan kitab sucinya tetapi tidak paham isinya, orang bijak menyindir orang-orang seperti ini ibarat kera yang bangga memakai mahkota tetapi tidak paham dan tahu apa makna dan kegunaaan mahkota itu. Banyak umat Islam bangga dengan Al-Quran tetapi tidak paham dan mengerti isinya.

Bahkan, kalau kita tanyakan  kepada para  orang  tua, pernahkah memberi hadiah ulang tahun anaknya berupa buku? Jawaban yang akan kita dengar adalah tidak pernah. Kalau kita Tanya kepada para mahasiswa, banyak mana koleksi buku dengan koleksi baju? mereka akan menjawab banyak koleksi baju. Seharusnya sebagai mahasiswa calon intelektual. Sewajarnya mereka lebih banyak punya buku dari pada banyak baju, apa artinya banyak baju kalau otaknya selalu memberi respon jawaban tidak tahu, apa arti berbusana modis kalau pikiran picik dan ilmu yang tipis, apa arti menyandang nama besar mahasiswa kalau buku tidak punya, budaya baca tidak ada. Kita bangga dengan gelar akademis tetapi budaya baca sangat tipis, kita bangga dengan koleksi keramik antic dan mewah, tetapi kita banyak lupa berburu buku-buku baru yang penuh dengan ilmu.

Kita menjadi malu kalau tidak mempunyai koleksi perabot rumah, tetapi kita tidak mau tahu terhadap koleksi buku, kita malu kalau tidak mempunyai bangku, tetapi kita tidak pernah malu tidak punya kumpulan buku, kita merasa rugi dan cemas kalau meninggalkan anak tanpa harta benda, tetapi kita tidak pernah berfikir dan tidak merasa cemas kalau anak kita, generasi kita, tidak mewarisi berbagai koleksi buku dari kita.

Allah secara jelas menyatakan bahwa Allah adalah Maha Pemurah bagi yang telah membudayakan baca, yaitu pembaca yang tidak melupakan Allah dalam setiap aktivitas membacanya, dan Allah menyuruh kita untuk membaca dan menuliskannya. Setelah banyak membaca dan mencoba menuangkannya dalam sebuah karya tulis, maka Allah akan memberikan berbagai rahasia ilmu. “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(Qs. Al-Alaq: 4-5)

Akhirnya, perlu kita renungi kembali makna wahyu pertama (Qs.Al-Alaq:1-5) agar kita mampu menjadi manusia yang intelek, bangsa yang maju, bangsa yang terkenal dengan budaya dan peradaban yang tinggi ditingkat intelektual. Terkenal sebagai umat yang banyak membaca, terkenal sebagai umat yang menjunjung tingi budaya baca. Sudah saatnya kita memanfaatkan waktu luang untuk membaca, membaca apa saja. Semboyan tiada hari tanpa membaca. Semoga semboyan itu menjadi milik kita, menjadi nyata dalam kehidupan kita. Dengan banyak membaca akan membuka jendela dunia, wawasan menjadi terbentang luas tanpa batas, menembus ke berbagai penjuru dunia, pikiran kita dapat terbang, berkelana dan berpetualang ke berbagai peradaban masa lalu dan masa kini, meskipun kita di rumah, tetapi kita dapat berdialog dengan para tokoh dunia, baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup, dan itu dapat kita lakukan dengan membaca buku. Kita dapat berdialog langsung, bertukar pikiran dengan para tokoh dan para intelektual melalui karya-karya tulis mereka. Untuk itu jadikanlah buku teman sejati, teman di kala sepi dan sendiri, teman yang tidak pernah menyakiti, teman yang selalu memberi motivasi, teman yang selalu menunjuki. Allahu Alam.

   

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(QS. Al-Mumtahanah: 8). Berbuat adil adalah sifat mulia yang disukai oleh Allah, Secara konsep keadilah adalah memberikan hak kepada pemiliknya tanpa memihak, tanpa diskriminasi, kemudian meletakkan sesuatu sesuai porsinya. Secara konsep definisi keadilan begitu enak dibaca dan didengar, pertanyaannya adalah apakah keadilan sudah terwujud dalam kehidupan kita? Banyak orang secara konsep mengetahui dan menguasai, bahkan semua yang berhubungan dengan keadilah ia tahu, tetapi dalam tataran  kehidupan ia belum mampu mengejawantahkannya. Yang mengatahui konsep keadilan belum mampu menjalankan, apalagi yang buta masalah hokum tentu akan makin jauh dari sikap adil?

Memang, permasalahan muncul bukan pada tataran pemahaman adil secara konsep, melainkan merujuk kepada aspek aplikasi, terkadang seseorang secara konsep paham dan hafal apa itu keadilan, tetapi perbuatannya jauh dari sikap adil itu sendiri. Kenapa hal ini terjadi? kemungkinan kesengajaan, merasa berat untuk berbuat adil.

Atau,  tidak berlaku adil karena terpaksa, atau terpaksa berpura-pura masa bodoh terhadap tegaknya suatu keadilan? Terkadang, demi keuntungan pribadi, kelompok, kita rela mengadaikan keadilan, kita rela menzalimi orang lain, bahkan dengan bengis dan tanpa perasaan kita korbankan nyawa orang lain untuk menyembunyikan kebusukan kita, orang yang berusaha berjuang demi keadilan kita bungkam dan kita kebiri.

 Tidak itu saja, karena kedengkian dan kebencian kepada suatu kaum atau golongan tertentu membuat seseorang tidak berlaku adil. Ironinya kita sendiri sebagai aparat penegak keadilan, penegak hokum, kita bukan menjadi panutan dalam menegakkan hokum, contoh dalam memancangkan keadilan di bumi ini, malah sebaliknya kita sendiri yang menghianati dan memberangus keadilan di tengah masyarakat, padahal kita di perintahkan oleh Allah untuk berlaku adil dan menjadi saksi yang adil.

Meskipun  demikian, kebencian di hati hendaknya tidak membuat kita tidak berlaku adil, di sisi lain, kita tidak dibenarkan menghianati keadilan, bila kita mampu menegakkan keadilan, mampu menjadi saksi yang adil, maka menegakkan keadilan adalah suatu pilihan meskipun pahit,”Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Maidah: 8).

Terkadang, kita sedih melihat aparat penegak hokum kita, hanya demi keuntungan sedikit, mereka rela menjual hokum, menjual keadilah, membenamkan keadilan dan mengorbankan orang lain demi keuntungan pribadi. Seperti saling suap dan menyuap agar terbebas dari jeratan hokum, padahal penyuap dan penerima suap sama-sama masuk neraka,”orang yang menyuap dan menerima suap sama-sama masuk neraka,”(HR. Bukhari). Dalam hadis yang lain, Nabi Saw. mengatakan bahwa Allah melaknat orang yang menyuap dan meneriam suap,”laknat Allah itu atas orang yang menyuap dan yang menerima suap,”(HR. Al-Khamsah).

Konsep keadilan dalam Al-Quran dan hadis memp[osisikan diri secara jelas tanpa kompromi dan diskriminasi, kita diperintahkan semaksimal mungkin untuk selalu obyektif terhadap keputusan yang akan diambil. Menghindari sikap sentimen  kesukuan, kebencian dalam memutuskan suatu perkara sehingga dapat bersikap adil, apabila seseorang berlaku adil maka ia akan lebih dekat kepada kebajikan yang sempurna, sebaliknya jika tidak berlaku adil maka kebajikan akan makin jauh dari kehidupan kita.

Namun, banyak orang merasa tidak mendapatkan keadilah hokum dinegeri ini, walaupun banyak pengadilan, tetapi keadilan masih langka, keadilan masih seperti barang langka yang susah untuk dicari, ada juga yang mengatakan hokum dapat dibeli, siapa yang banyak memberi ujang dialah yang akan mendapat keadilan menurut keinginannya sendiri, sesuai versinya sendiri, keadilan hanya menjadi komodititas bisnis dan mesin penghasil uang.

Adil adalah perintah Allah Swt. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,” (QS. An-Nahl: 90). Meskipun berbuat adil bagian dari perintah Allah, tetapi banyak di antara manusia yang mengabaikan berbuat adil, mereka berkecenderungan berbuat kecurangan, kezaliman, kelaliman  demi keuntungan pribadi, kelompok, dan golongan tertentu, bahkan demi  etnis tertentu. Padahal Allah mengancam bagi para pembelot dari kebenaran dan keadilan dengan  ancaman neraka,”Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenran maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam,”(QS. Al-Jin: 15).

Perlu kiranya kita membuka kembali sejarah kehidupan Rasulullah Saw. Ibnu Ishaq menceritakan,” Rasulullah Saw. Telah berlaku adil pada beberapa barisan sahabat di Hari Badar. Beliau memegang sebuah gelas untuk berlaku adil di antara kaum, kemudian lewat di depan sawad bin Ghazyah [sekutu Bani Adi Bin najar yang keluar dari barisan]. Beliau memukul perut Sawad dengan gelas itu dan berkata,’Luruskan, ya Sawad!’ Setelah itu, Sawad berkata,’Ya Rasulullah, saya sakit oleh Engkau, sedang Allah telah mengutu Engkau dengan hak dan adil, maka biarkanlah saya marah, kemudian membalas perbuatan Engkau-Rasul Saw. Membuka perutnya dan berkata,’Balaslah (aku)!’ Maka Sawd memeluk rasulullah Saw. Lalu mencium perutnya maka beliau bertanya kepada Sawad,’Apa yang membuatmu seperti ini, ya Sawad?’ Ia menjawab,’Ya Rasulullah, sebagaimana Engkau lihat, saya ingin menjadikan pertemuan  terakhir dengan Engkau  ini, kulit saya bersentuhan dengan kulit Engkau.’ Maka Rasulullah mendoakan kebaikan bagi Sawad.” (Sirah Ibnu Hisyam, 2:456).

Suatu saat, Makhzumiyah mencuri, kemudian dibela oleh Usamah bin Zaid agar bebas dari hukuman potong tangan. Ketika Rasulullah Saw. mengetahui  peristiwa tersebut, Rasulullah marah dan berkhotbah,”Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa. Jika orang yang terhormat yang mencuri, mereka membiarkannya, sedangkan bila yang mencuri orang lemah mereka tegakkan hokum kepadanya. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya,”(HR. Muslim).

Sebagai seorang Rasul Allah, Nabi Muhammad Saw. memberi contoh bagaimana berbuat adil, Beliau melindungi sahabatnya agar tidak terpukul, melindungi darah agar tidak tercecer, melindungi  harta mereka agar tidak dijarah, melindungi kehormatan agar tidak dilecehkan, diambil, melindungi hak-hak mereka agar tidak dirampas. Contoh-contoh tersebut hendaknya menjadikan kita lebih dekat kepada sikap untuk konsekuen di jalan keadilan.

Di antara bidang keadilan yang dapat kita temui dalam  Al-Quran adalah sebagai berikut sebagai berikut:

Pertama, adil terhadap diri sendiri, dengan cara tidak  berbuat yang menjerumuskan diri mendapat azab Allah.”Dan barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri,”(QS. Ath-Thalaq: 1). Padahal kezaliman adalah suatu perbuatan yang bertentangan dengan keadilan. Nabi Ibrahim  As dan Hawa berbuat zalim terhadap dirinya, mereka berdua mengakui kalau diri mereka telah berbuat zalim.”Mereka berdua berkata,”Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri,”(QS. Al-araf: 23). Sebenarnya ketika kita berbuat zalim terhadap diri sendiri, maka sikap zalim kita tersebut termasuk perbuatan tidak adil.

Kedua, adil dalam keluarga, laki-laki  menikah lebih dari satu, syarat yang harus dipenuhi  adalah sikap adil terhadap mereka, jika sikap adil tidak terpenuhi maka menurut konsep Al-quran, lebih baik menikahi seorang istri saja (QS. An-Nisa: 3). Dalam berkeluarga, beristri keadilan juga menjadi acuan, terutama bila seseorang ingin berpoligami, dalam memberi nafkah keluarga dan anak-anak kita-pun dituntut untuk berlaku adil..

 Ketiga, adil terhadap anak  yatim.”Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu  senangi,”(QS. An-Nisa: 3). Ketika kita dekat dengan anak yatim atau bahkan mengurus kepentingan anak yatim di situ godaan untuk menghianati  harta dan amanh-amanah orang lain untuk anak yatim terbuka lebar, untuk Allah berpesan kepada kita agar berhati-hati dan selalu ÿÿngutamakan keadilan dfalam mengurus anak yatim.

Keempat, adil terhadap ahli kitab, Ketika para ahli kitab dalam keraguan, kita sebagai umat Islam disuruh oleh Allah  untuk menyeru mereka, dan kita disuruh untuk mengatakan beriman pada semua kitab-kitab Allah dan berlaku adil terhadap mereka.(QS. Asy-Syura: 14-15). Kita juga tidak dilarang untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangi kita (QS. Al-Mumtahanah: 8). Meskipun kita berbeda dalam keyakinan dengan mereka, tetapi semua itu tidak menyurutkan kita untuk tidak berlaku adil, sebab berlaku adil kepada mereka adalah perintah Allah yang wajib kita laksanakan, memang akan terasa berat untuk melakukannya, tetapi disitulah letak perjuangan kita dalam menegakkan keadilan.

 Kelima, adil dalam transaksi perdagangan.”Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil,”(QS. Al-An-am: 152). Terkadang kita meremehkan tentang keadilan dalam menakar dan menimbang, padahal Allah menyuruh kita untuk berlaku adil terhadap hal tersebut. Banyak masyarakat kita terutama yang berdagang dan sering mengguanakan alat Bantu berupa timbangan, mereka sering tergoda untuk mengambil keuntungan dengan mengurangi timbangan dan takaran. Bahkan demi keuntungan yang sedikit kita rela mengorbankan konsumen dengan mengurangi kualitas dan takaran, padahal perbuatan itu dilartang oleh agama kita.

 Keenam, adil dalam memutuskan perkara,”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah keduannya…dengan (keputusanyang ) adil. Dan berlaku adillah sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil,”(QS.Al-Hujarat: 9). Ketujuh, Adil dalam hokum.”Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil,”(QS. Al-Maidah: 42). Allahu a’lam bisawwab.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

            Psikoterapi adalah pengobatan menggunakan pengaruh kekuatan batin, dalam arti pengobatan yang dilakukan tanpa menggunakan obat-obatan, tetapi lebih menekankan pada aspek nasihat, sugesti, hiburan danhipnosisi. Para  psikiater menyatakan bahwa unsure kejiwanmanusia dapat diubah menjadi pribadi yang lebih baik. Islam sebagai agama wahyu mempunyai peran penting dalam mengentaskan belenggu penyakit kejiwaan yang dialami oleh manusia. Diantaranya adalah belenggu kesombonan, kebodohan, kesesatan, akhlak yamg buruk, dan penyakit hati.

Islam sebagai agama seluruh manusia berperan dalam mengubah pola pikir, peradaban dan kejiwaan manusia menuju kejiwaan yang bahagia, jauh dari kegelisahan, keputus asaan dan kehampaan hidup. Aspek perubahan yang dilakukan oleh Islam adalah meliputi aspek akhlak,akidah, ibadah, pola pikir, kebiasaan. Perubahan disegala aspek memungkinkan  adanya kesempatan yang besar dalam rangka memerdekkan manusia dari kungkungan gangguan  penyakit kejiwaan.

            Iman sebagai upaya menyelamatkan jiwa dari kesedihan dan kehampaan hidup, iman yang ditanamkan oleh Allah dalam jiwa manusia pada hakekatnya untuk melindungi manusia dari serangan keinginan yang liar dan melawan fitrah ketuhanan yang telah Allah berikan semasa dalam alam roh.. kalaupun ada manusia yang terjerembab dalam carut –marut dunia kegelapan, itu disebabkan oleh acuhnya manusia pada Al-Quran sebagai pengendali dan rujukan jiwa-jiaw aga rtidak liar dan lepaskendali ketuhanan. Yang pada dasarnya sebagai fitrah manusia .

Iman kepada  Allah merupakan puncak dari kebenungan jiwa, kebeningan jiwa didapatkan manusia ketika telah menyatakan dan memproklamirkan diri bahwa tidak yang berkuasa di alam ini kecuali Allah,  Hanya Allah tempat menumpahkan harapan tidak yang lain. Apabila sikap dan perilaku ini telah terptri dalam jiwa seseorang maka akan timbul optimis dalam hidup, tidaka ada rasa pesimis, tidak  ada lagi keinginan mencari ketenangan jiwa kepada selian Allah. Iman kepada Alah berhubungan eratdengan sikap pasrah, tunduk dan patuh kepada Allah,. Jiaw manusia yang telah terbentengidengan pola iamn yang baik dan memenuhi kriteria ketuhanan akan mengantarkan manusia pad aspek keridhaan yang selalu menjadi dambaan orang beriman. Tidak itu saja iakanmendapatakan semacam kekuatan spiritual yangm ampum embebaskan dari efek buruk yang melemahkan atau mungkin  menghancurkan jiwa dan raganya..

Raul Saw  sebagai manusia  mempunyaikeimanan kuat, sehingga dengan keimanan yang kuat ituRasul mempunyai kekuatan spiritual yang dahsyat. Sehinggapadasuatausaat beliau utarakan dan ungkapkan kepada para sahabat,”Aku tidak sepertikaliansemua,sebab Tuhan-Ku senantiasa memberiku makan dan minum,”(Hadis). Ibnu Qayyim alJauzi sebagai pakar kejiwaanmemngungkapkanbahw dalam hadis tersebut bahwa makna makan dan minuman  tersebut bukianlah maknan yang dimakan atau diminum melaluai mulut.

Makanan dan  minuman tersebut lebih cenderung kepada aspek spiritual, dengan keimanan yang kuat maka spiritual akan lebih mantap dan menjadisumber nergi kejiwaan yang besar bagi seseorang. Kekuatana spiritual yang dimilikiolehRasul Saw memberi pengaruh kepada jiwa dan raga beliau, tidak heran jika beliau mampu menhgan lapar dan haus berhari-hari, tanap berpengaruh kepada fisik. Dari kenyataan ibni dapatkita ambil pokok pikiran bahwa kekuatan jiwa mempu memberi kekutan secara fisik.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat
Ziaul Haque mengatakan bahwa tujuan dari misi dan revolusi para Nabi revolusioner adalah menyuarakan kebenaran dan membangun masyarakat kebenaran, dalam arti harus terjadi perubahan total atas struktur social lama yang terbagi dalam kelas sosial yang bertentangan. Revolusi yang terinspirasi dari wahyu Tuhan menjadi tonggak dasar gerakan revolusi ini, perjuangan Muhammad saw. menemukan momentumnya ketika formasi social pra-kapitalis dan pra industri, perjuangan Muhammad saw hadir di saat semua realitas kehidupan itu dapat dilihat dari kaca mata religi. Gerakan revolusi atau perubahan yang dibawa oleh Muhammad saw dikemas dalam bingkai keagamaan, yang merealitas dalam bentuk perilaku, pemikiran sensitivitas emosi dan moral, hal ini juga diperkuat oleh penelitian Ziaul Haque, bahwa “perubahan social yang dibawa para nabi Revolusioner, terjadi dalam bingkai keagamaan, katagori pemikiran, bentuk perilaku, serta sensitibvitas emosi dan moral yang kesemuanya dikesankan dan dikondisikan dalam mentalitas dan karakter keagamaan.”
Muhammad saw di utus untuk melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan masyarakat Mekah, Muhammad saw adalah manusia pilihan yang berdiri di jalan kebenaran, keadilan dan egalitas social, membangun masyarakat berdasarkan keimanan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, persaudaraan dan egalitas social. Muhammad saw membawa wahyu Tuhan untuk membebaskan manusia dari kegelapan akhlak moral dan berbagai kesesatan dan kemusrikan di dunia ini.
Muhmmad saw menjadi ikon masyarakat Mekah yang sudah terbuka hatinya untuk menerima kebenaran wahyu Allah, kepribadiannya yang menawan membuat sebagian masyarakat Mekah yang masuk Islam terkesima dan salut terhadap akhlak beliau, meskipun demikian Muhammad Saw tidak pernah merasa bangga dan angkuh terhadap keistimewaan yang ada pada dirinya, Muhammad saw tidak pernah merasa tersanjung bahkan melarang umatnya untuk mengkultuskan dirinya.
Muhammad Saw tidak ingin umatnya terjebak dalam kultus yang menjerumuskan umatnya dalam kemusrikan. Muhammad Saw tidak ingin penganutnya menjadi pemeluk agama yang memandang tokoh pendirinya atau tokoh pembawa agama tersebut, sebab Islam memang tidak didirikan oleh Muhammad Saw, tetapi Islam adalah dari Allah sedangkan Muhammad Saw adalah manusia biasa yang di pilih Allah umtuk membawa dan menyampaikan wahyu kepada manusia.
Meskipun demikian, umat Islam tetap menghormati Nabi Muhammad saw layaknya manusia biasa, tetapi perbedaannya hanya pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah pilihan Allah untuk menyampaikan wahyu, yang terbebas dari dosa(maksum), Muhammad saw sebagai manusia biasa yang menikah, sakit, makan, minum, tidur, dan meninggal, tetapi dibalik kesamaan dalam sifat kemanusiaannya, Muhammad saw tetap manusia pilihan yang punya keistimewaan dibanding manusia lainnya.
Sebagai Nabi terakhir Muhammad terlahir dari keluarga biasa, yang pernah mengembala domba, berdagang, pernah dianiaya, dari keluarga biasa yang menjaga martabat dan disegani karena kepribadiannya, sehingga masyarakat Mekah waktu itu memberi gelar “Al-Amin” terpercaya, kepercayaan inilah yang menjadikan beliau disegani dipercayai untuk menyelesaikan berbagai masalah social yang tidak dapat dipecahkan oleh pemuka masyarakat Mekah kala itu. Bahkan bila ada penduduk Mekah yang ingin bepergian jauh, mereka selalu menitipkan barangnya kepada Muhammad saw.
Tetapi Muhammad saw tidak pernah memanfaatkan harta titipan tersebut untuk kepentingan diri sendiri, meskipun ada kesempatan untuk itu, di sini kelihatan jelas bahwa Muhammad saw benar-benar manusia terpercaya sejati yang tidak pernah terbetik dihatinya untuk berkhianat dan memanfaatkan kesempatan dan kepopulerannya. Meskipun Muhammad Saw dalam kesusahan dan hidup dalam keluarga yatim, tetapi Muhammad tidak pernah berubah untuk konsekuen dalam jalan kebenaran.
Muhammad saw sebagai nabi terkhir memngentaskan manusia dari kegelapan menuju peradaban yang gemilang dan berperikemanusiaan,”yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh dari kegelapan kepada cahaya,”(QS. At-Thalaq: 11). Muhammad saw sebagai Nabi revolisioner dihadapkan kepada kondisi masyarakat yang carut-marut, penindasan, perbudakan, kesenjangan social, masyarakat yang berperadaban pagan, penindas dan keji dan tidak berperasaan. Meskipun Muhammad saw hidup dan tinggal dalam masyarakat seperti itu, Ia tidak ikut larut meskipun Beliau juga manusia biasa, inilah salah satu yang membedakannya dengan orang lain, beliau selalu terjaga dari sifat tercela dan dosa.
Ziaul Haque dalam buku,”Revolusi Islam” mengatakan sebagai berikut,”Ia (Muhammad) juga disebut sebagai nabi Revolisuoner pertama pada masa modern, karena dialah yang pertama kali melihat secara jelas pertentangan berkepanjangan antara kebijakan dan kebathilan yang ada dalam formasi social-ekonomi, perjuangan kelas, perlawanan antara kaum tertindas dan penindasan, tertekan dan penekan, budak dan majikan, pekerja tanah dan tuan tanah, dan antara yang kuat dengan yang lemah.” Penjelasan ini makin memperjelas bahwa misi Muhammad saw selain membawa wahyu Allah, juga membawa misi kemanusiaan universal yang bebas dari penindasan dan kezaliman.
Walaupun sebagai Nabi revolusioner, Muhammad saw tidak pernah memaksa manusia untuk mengikuti ajarannya, bahkan beliau termasuk manusia paling sabar di dunia, paling santun di jagad ini, beliau bersifat lembut, santun dan ramah kepada kawan maupun lawan. Tidak pernah ditemukan dalam sejarah hidupnya beliau menggunakan senjata untuk memaksa seseorang masuk agama Islam. Ketika Muhammad saw menaklukkan Mekah, beliau tidak menggunakan senjata, ketika beliau telah secara pasti menang beliau berkata,”Pergilah kalian ke mana saja yang kalian sukai! Kalian tetap hidup bebas!” Islam sangat mendorong umatnya untuk berlaku ramah dan santun serta lembut dalam dalam menyelesaikan masalah.”Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam setiap urusan,”(HR. Bukhari). Dalam hadis lain dikatakan,”Siapa yang tidak diberi kelembutan sungguh telah dihalangi dari mendapatkan kebaikan,”(HR. Muslim).
Dengan ajaran kelembutan dan kasih sayang Muhammad saw sebagai Nabi revolusioner mengangkat derajat perempuan, perempuan disejajarkan setara dengan laki-laki, tetapi pensejajaran ini tidak menghilangkan sifat keperempuanan seorang wanita, sebuah emansipasi benilai keislaman yang melindungi hak-hak perempuan yang menjaga kehormatan dan kemuliannya sebagai seorang perempuan. Emansipasi yang memberi peluang sama bagi para perempuan untuk mencapai ridha Allah, punya kesempatan dan waktu yang sama untuk mendapat pahala dan kemuliaan di sisi Allah.
Para penguasa Mekah, baik saudagar kaya, dan para konglomerat mencibir dan menghina Muhammad yang berasal dari keluarga miskin, gembel, yatim dan buta huruf tampil menjadi seorang manusia pilihan dan mengaku sebagai Nabi Allah. Mereka tidak mempercayai Muhammad sebagai Nabi pilihan Allah, para pemuka Mekah berharap yang menjadi Nabi adalah dari kalangan mereka juga, yaitu dari para pembesar, kongklomerat Mekah, mereka merasa lebih pantas untuk menjadi pilihan karena mereka merasa terhormat kaya dan terpandang dari segi fisik dan harta benda.
Meskipun begitu, Muhammad saw selalu tabah dan sabar, Ia terus menjalankan dakwahnya meski harus dicaci-maki, dihina dan dianggap gila,”Maka tetaplah memberi peringatan(hai Muhammad), dan kamu, dengan nikmat Tuhanmu, bukanlah seorang tukang tenung atau orang gila. Bahkan mereka berkata, Ia adalah seorang penyair yang kami harapankan kecelakaan menimpanya,”(Qs. Ath-Thur:29-30). Ketabahan dan keuletan beliau dalam berdakwah juga dilatarbelakangi akan tugas suci yang beliau pikul, Ziaul Haque mengatakan Nabi revolusioner mempunyai tugas sebagai berikut: Supremasi hukum, pembebasan kaum lemah dan tertindas, membangun komunitas atas dasar egalitas social, cinta kasih, keadilan dan persaudaraan.
Untuk mewujudkan hal di atas, Muhammad Saw berusaha mengambil hati umatnya dengan akhlak yang baik, dan ajaran-ajaran yang disampaikan sesuai dengan tingkat pemahaman dan dapat diterima oleh akal manusia, maka tidak heran jika Allah menerangkan bahwa Muhammad saw sebagai Nabi Revolusioner pembawa rahmat.”Tidaklah kami mengutus engkau(wahai Muhammad), melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam,”(QS. Al-ahzab: 21). Rahmat ini bukan saja dinikmati oleh orang yang percaya kepada beliau tetapi juga bagi mereka yang tidak mempercayainya, Nurcholish Madjid dalam buku,”Pesan-pesan Takwa”, mengatakan,” Maka kalau Muhammad Rasulullah saw itu disebut sebagai rahmat bagi seluruh alam, dengan sendirinya manfaat serta hikmah dari kehadiran beliau tidak hanya dinikmati oleh mereka yang kebetulan percaya kepada beliau, dalam bahasa Al-Quran selalu diindentifikasi sebagai orang-orang yang beriman. Tetapi, diakui atau tidak beliau juga membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.
Revolusi yang dilakukan Nabi Muhammad saw adalah revolusi menyeluruh yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia, beliau berusaha merubah perilaku jahat menjadi perilaku baik, dari pertentangan menuju kesepakatan, dari perbudakan menjadi persaudaraan, dari kecurangan menuju kepercayaan dari kesewenang-wenang menuju keadilan, mengkikis habis penindasan terhadap kaum perempuan dan menyuruh manusia hidup bebas dalam bingkai kepatuhan terhadap Allah Tuhan Yang Maha Esa, mengentaskan manusia dari penghambaan terhadap thogut, budak harta dan nafsu.
Sebuah revolusi tanpa darah, air mata dan nyawa, sebuah revolusi damai, menyejukkan, memberi harapan dan kebahagiaan bagi seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk yang ada di bumi ini. Muhammad saw adalah revolusioner sejati yang membawa manusia kepada jati diri yang memberi arti bagi kemanusiaan dan peradaban dunia. Allahu A’lam*

Read Full Post »