Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2008

Oleh: Riwayat, S.Pd.I

Menurut Slamet ada enam pentahapan dalam pembelajaran kontektual di tingkat sekolah yaitu: pertama, mengkaji materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa yaitu dengan memilah-milah materi yang tekstual dan materi yang dapat diakitkan dengan hal-hal aktual. Kedua, mengkaji konteks kehidupan siswa sehari-hari secara cermat sebagai salah satu upaya untuk memahami konteks kehidupan siswa sehari-hari. Ketiga, memilih materi pelajaran yang dapat dikaitkan dengan kontek kehidupan siswa. Keempat, menyusun persiapan proses belajar dan mengajar yang telah memasukkan konteks ke dalam materi yang akan diajarkan. Kelima, melaksanakan proses belajar mengajar kontektual yaitu mendorong siswa untuk selalu mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Keenam, melakukan penilaian otentik terhadap apa yang telah dipelajari oleh siswa. Hasilnya dapat digunakan sebagai masukan, perbaikan / penyempurnaan persiapan dan pelaksanaan proses belajar dan mengajar yang akan datang.

Perlu juga disadari bahwa pelaksanaan pendekatan kontektual tidak sama untuk tiap sekolah, namun yang pasti guru dituntut aktif menginternalisasikan, menghayati, memahami, konteks actual dalam proses belajar mengajar. Jadi tidak ada satu resep atau seragam dalam, pelaksanaan pembelajaran kontektual, tetapi pendekatankontektual cenderung mengakomodasi kemajemukan dan perbedaan sesuai kekhususan yang ada pada siswa tersebut.

Dalam mendukung pendekatan kontektual guru dituntut untuk banyak membaca dan mencermati masalah aktual di masyarakat, di sisi lain, guru juga terus berusaha mengenali siswanya, baik dari segi budaya, keluarga, social, adat dan pekerjaan dan lingkungan di mana siswa tinggal, dengan siapa ia bergaul.

Hal ini, perlu dilakukan agar guru mampu menginternalisasikan bahan pelajaran dan proses pembelajaran dengan konteks yang actual dan dekat dengan kehidupan keseharian siswa. Chaedar Alwasilah mengatakan setidaknya ada tujuh strategi yang perlu diperhatikan dalam pendekatan kontektual, yaitu: pengajaran berbasis problem, menggunakan konteks beragam, mempertimbangkan kebhinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui kolaborasi, menggunakan penilaian autentik, mengejar standar tinggi. Dari pendapat itu dapat dikembangkan sebagai berikut:

Pertama, pengajaran hendaknya berbasis permasalahan, merancang pembelajaran bersifat problem solving, sehingga siswa tertantang untuk memecahkan problem tersebut, siswa diajak untuk berfikir kritis, pemecahan ini akan mengajak siswa masuk ke dunianya sendiri, ia menyelami makna dan pengalaman yang iia lakukan sendiri.

Kedua, menggunakan konteks bermacam-macam dan bervariasi. Makna jangan dibatasi pada satu sisi, atau satu titik pandang saja, sebab makna dapat dipandang dari berbagai sisi. Adanya cara pandang yang beragam akan menambah khazanah pemikiran siswa makin kaya dan beragam.

Ketiga, menyadari keragaman yang ada pada siswa. Adanya berbagai keragaman dan perbedaan hendaknya menjadi rahmat yang akan mendukung terjadinya pembelajaran yang mengkayakan imajinasi, daya kreatif dan daya kritis siswa.

Adanya berbagai perbedaan karakter, social, budaya dan keluarga hendaknya menjadi sumber berbagai inspirasi untuk menginternalisasikan materi pelajaran ke dalam kehidupan siswa. Memang perbedaan adalah rahmat, hal ini juga telah diinformasikan oleh Nabi Saw, bahwa,”Perbedaan di antara umatku adalah rahmat”(Hadis).

keempat memanfaatkan kemampuan siswa untuk belajar sendiri, siswa diajarkan untuk mandiri, siswa diajar untuk aktif bukan pasif, siswa dilatih untuk menganalisis berbagai fakta informasi dengan daya imajinasi dan daya kritisnya.

Kelima, hendaknya siswa diajarkan bagaimana belajar dengan orang lain, siswa diberi dorongan dan wacana bagaimana ia sedfapat mungkin mampu bekerja sama den gan orang lain, dengan teman kelasnya, tujuannya adalah agar adanya saling membantu dan mengisi kekosongan kiemampuan di atara kelompok yang sedang kerjasama sehingga siswa yang dianggap mampu secara intelektual diharapkan dapat menjadi pemicu aktivitas dan keaktivan dalam kelompoknya, ia juga dapat dijadikan fasilitator dalam kelompoknya.

Imam Ali mengatakan,”Bertemanlah dengan para ahli hikmah, duduklah,bergaulah dengan para ulama, berpalinglah dari dunia niscaya kamu akan mendapat trempat di surga.” Intinya adalah berteman dengan yang ahli akan menambah kebahagiaan, menambah kemauan untuk menuju kualitas seperti surga, sebuah tempat yang maha indah. Demikian juga jika dalam kerjasama ada satu siswa yang mumpuni secara intelektual, maka temannya yang lain yang agak klurang akan terimbas menjadi seorang yang beruntung secara inteletual dan pengalaman, Ali bin abi Thalib mengibaratkan orang bodoh yang mau bergaul dengan orang pandai akan mendapat sorga. Sorga yang bukan sorga di akherat tetapi sebuah petualangan iintelektual yang penuh dengan keindahan kebahagiaan dan ketentraman, kreatif semangat dan enerjik.

Keenam, menggunakan penialain autentik. Dalam hal ini penilaian diberikan kepad prosesnya bukan hanya pada hasil darinya saja, hal ini akan terasa adil sebab tidak semua siswa sama dalam belajar, berproses. Untuk itu, adanya penilaian autentik akan mempermudah seorang guru mencari dan mengambil data untuk mengamati perkembangan belajar siswa. Nah untuk mengambil penilaian autentik guru dituntut untuk mengambil bermacam sumber belajar, seprti Koran, majalah, radio televise, website, dan lain sebagainya dalam arti guru tidak terpaku pada buku paket saja.”Tidakalah Engkau menciptakan semua ini untuk sesuatu yang sia-sia,”(QS. Ali Imran:191).

Ketujuh berusaha terus meningkatkan kualitas untuk menuju standar tinggi. Guru hendaknya tidak bosan untuk memberi semangat kepada siswa untuk terus meningkatkan kemampuan, Imam Ali mengatakan,”Yang mau menyempurnakan kekurangannya berarti memperbaiki dirinya,”sehingga diharapakan nantinya ia akan mampu mencapai puncak kualitas dan standar yang tinggi, biarlah pahit kita katakan kalau nantinya hasilnya manis. Muhammad Saw mengatakan, “Katakanlah kebenaran walaupun terasa pahit,”(HR. Bukhari). Standar tinggi hendaknya dicapai dengan kerja keras berkelanjutan dan terus berusaha memaksimalkan berbagai fasilitas dan sumber daya yang di sekolah. Perbaikan dan penyempurnaan terhadap berbagai kekurangan akan memacu satndar ketercapaian, sehingga keberhasilan bukan lagi sekedar kemenangan dan kesusksesan semu.

Keberhasilan sebuah pendidikan tidak hanya dilihat dari hasil, hasil belum tentu menunjukkan keunggulan dan kebaikan dari suatu pendidikan, bisa jadi anak yang memperoleh nilai tinggi ia dapatkan dari menyontek, atau ia dapatkan dari kolusi dengan temannya yang lain. Ada juga anak yang memperoleh hasil ujian sangat bagus, tetapi hasil itu bukan dari kemampuannya sendiri, namun nilai tinggi itu ia dapatkan dari pertolongan orang lain. Misalnya dalam ujian nasional (UN) anak yang kesehariannya dianggap cukup intelektualnya, kasarnya kurang pandai, karena gurunya merasa perlu untuk menolong siswanya maka sang guru menolong siswanya agar dapat menjawab soal ujian nasional. Maka tidak heran jika ada siswa yang dalam keseharian belajarnya biasa-biasa saja tetapi dalam ujian akhir lebih tinggi dari siswa yang kita anggap mampu dari segi intelektual.

Dalam pandangan agama proses menentukan hasil, sebagai contoh roti dalam pandangan hokum makanan dalam Islam adalah halal, durian, mangga, apel adalah buah-buahan halal dikonsumsi, tetapi apabila roti atau buah-buahan itu didapat dari mencuri maka meskipun hokum Islam memandangnya sesuatu yang halal, tetapi proses mendapatkannya dari hasil curian maka roti dan apel itu dianggap haram.

Hal ini, memberi kita pelajaran bahwa menentukan baiknya sesuatu itu bukan hanya dilihat dari hasil tetapi juga proses, ini artinya perbuatan itu dinilai mulai dari prosesnya, kalau prosesnya baik maka diharapkan hasilnya juga baik. Demikian juga dalam pendidikan, siswa tidak dapat dikarbit seperti memeram buah mangga, siswa tidak dapat dipaksa untuk matang dan pandai secara mendadak, tetapi semua itu memerlukan proses, nah dalam pendekatan kontektual proses dalam belajar sangat menentukan, dikatakan menentukan karena dari proses inilah guru dapat mengamati tahap-demi tahap perkembangan siswanya. Hal ini memberi kita pelajaran bahwa proses belajar dan mendidik siswa membutuhkan waktu.

Dalam pendekatan kontektual proses pembelajaran siswa perlu mendapatkan perhatian dari para guru. Perhatian ini diperlukan untuk mengetahui perkembangan siswa, yang gunanya untuk memberi perhatian dan perbaikan belajar siswa, di sisi lain guru dapat memberi perhatian kepada siswa sesuai dengan kebutuhannya, sesuai dengan keragaman siswa. Cara pendekatan kontektual dalam kelas cukup mudah secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut: pertama, memancing dan mengembangkan sifat ingin tahu, sifat penasaran kepada siswa sehingga memancingnya untuk mengetahui dan bertanya. Kedua, menerapkan pengajaran yang berbasis inkuiri. Pembelajaran inkuiri dapat diterapkan pada semua topic dalam pembelajaran. Ketiga, menghadirkan model untuk contoh dalam pembelajaran. Keempat, melakukan penilaian yang sesungguhnya dengan bermacam cara, agar penilaian mencapai sasartan dan hasil yang tepat. Kelima, mengembangkan pola piker bermakna, serta mengarahkan siswa agar belajar mandiri, menemukan dan membangun pengetahuan dan ketrampilannya sendiri. Keenam, melakukan refleksi pada akhir pembelajaran atau akhir pertemuan. Ketujuh, mengembangkan cara belajar kelompok, agar tercipta suasana belajar bersama.

Langkah tersebut merupakan langkah aplikasi dalam proses pembelajaran berbasis kontektual, juga merupakan rangkaian dalam pendekatan kontektual, dengan mengaplikasikan ketujuh komonen tersebut pendekatan kontektual di sekolah dapat diwujudkan. Allahu Alam.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

Jangan didik anak menjadi penakut, jadkanlah anak-anak kita seorang pemberani, seoarang nakyang taat kepada Allah. Sebagai muslim, sebagai orang tua tidak sepatutnya kita mendidik anak menjadi penakut kepada manusia, karena yang patut ditakuti adalah Allah Swt tidak yang lain. Jika ita menjadikan anak kita penakut kepada manusia, maka telah terjadi kesalahan dalam mendidik, kita salah mendidik anak, karena dalam islam kita dilarang menjadikan anak kita takut kepada manusia, sebab yang patut ditakuti adalah Allah semata.

Mendidik anak menjadi penakut akan membawa dampak buruk terhadp kepribadan anak itu sendiri, anak akan mudah dipengaruhidan di atur oleh orang lain, ya kalau diatur dalam kebaikan mungkin masih dapat diterima, tetapi kalau diatur untuk berbauat jahat dan mungkar, mak hal itu sangat membahayakan.

Ketika anak hanya takut kepada manusia dan tidak takut kepada Allah, maka hal tersebut merupakan bencana besar. Kenapa dikatakan sebagai bencana besar, diantara jawabannya adalah anak akan berbuat semaunya, berbuat sekehendak hati asal tidak diketahui oleh orang lain, tidak maling kalau diketahui oleh manusia, tidak berzina jika diketahui oleh manusia lain, tetapi mereka akan berzina jika tidak diketahui oelh orang laian, mau maling dan merampok jika tidak diketahui oleh orang lain.

Sedangkan Allah mereka lupakan Allah tidak ditakutinya. Mereka tahu bahwa Allah Maha Melihat, Maha mendengar, tetapi hal itu tidak menyurutkan mereka untuk berbuat mungkar dan maksiat.

Anak yang dididik hanya takut kepada Allah akan kehilangan control ketuhanan, tuhan hilang dalam hati dan pikirannya. Mak tak heran jika orang-orang seperti ini akan berbuat melanggar aturan aturan Allah. Karena dalam dirinyatelah terpatri ketakutan yang sangat terhadap manusia sedangkan takutnya kepada Allah tidak ada.

Ketika anak hanya didik takut kepada manusia, maka keribadiannya akan cenderung berkepribadian munafik, kepribadian ganda, kepribadain orang-oarang yang riya, mereka berbuat bukan untuk Allah dan Rasul-Nya, tetapi berbuat agar namanay tenar, namanya dikenal banyak orang, ingin dipuji oleh orang lain.

Maka tidak heran jika mereka mempunyai kerpbadian ganda, bermuak dua, ingin dipuji dan dihormati. Orang seperti ini lebih suka mendapat pujian di mata manusia disbanding mendapatkan pujian Allah karena mereka merasa pujian dari Allah bersiaft abstrak dan tidak jelas, sedangkan pujian dari manusia dapat dinikmati dan dirasakan pada saat itu juga. Kalaupun mereka beriman, mereka hanya pura-pura, mereka hanya ingin menipu manusia, kalaupun mereka beriman itu dikarenakan ingin sesuatu yang bersifat duniawi belaka,”Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[22],” pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(QS. Al-Baqarah:8-9).

Ibnu Katsir menyatakan orang munafik adalah orang yang perkataannya bertentangan dengan perbuatannya, isi hatinya bertentangan dengan dengan realitasnya,masuknya berbeda dengan keluarnya, adanya bertentangan dengan tidak adanya. Dalam surat An-Nisa dinyatakan,”. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa:142).

Dalam ayat ini terlihat jelas bahwa pribadi munafik, pribadi yang hanya berpura-pura, pribadi yang hanya takut kepada manusia, salatnya dilakukan hanya untuk menghilangkan jejak kalau ia termasuk orang munafik, orang seperti ini salat hanya sebuah tameng, hanya sebuah kepalsuan belaka.

Itulah diantara akibat yang akan terjadi jika kita mendidik anak takut kepada manusia, untuk itu menjadikan anak takut kepada manusia harus diubah menjadi anak hanya takut kepada Allah saja, bukan takut kepada manusia.

Read Full Post »

Oleh:Riwayat

Seorang pendidik sejati akan menanamkan tauhid yang baik dan kokoh kepada anak didiknya. Apapun mata pelajaran yang mereka emban, sehingga tidak ada ceah bagi si anak untuk membangkang terhadap eprintah Tuhannya. Sikap dan perilaku peserta didik akan terkontrol degan sendirinya, tanpa perlu satpam, polisi dan hansip. Dengan pribadi yang matang dari segi keilmuan dan tauhid, maka akan secara otomatis memberi pengaruh yang positif bagi diri n lingkungannya.

yang pasti pendidikan dan penanaman akidah yang kuat harus menjadi prioritas utama. Apalah arti ilmu riman yang kuat. Maka dari itu perlu kiranya para pendidik berfikir kembali terhadap perlakuannya selama in yang hanya mencekoki siswanya hanya dengan materi keilmuan murni saja, tanpa ada nilai-nilai religius. Maka sudah sewajarnya mulai saat ini untuk menyadari kembali betapa penting pendidikan yang berbasis spiritual mulai digalakkan ke semua peserta didik.

Pendidikan merupakan contoh yang telah diberikan Allah kepada semua manusia di alam raya ini. Allah adalah pendidik pertama, pendidik yang Maham Adil dan Maha Tahu. Pendidik yang mengerti kebutuhan jasmani dan rohani peserta didik. Artinya adalah Pendidik sadar dan mengertibahkan memahami kebutuhan anak didiknya, apa yang baik untuk anak didiknya dan mana yang tidak baik terhadap kepribadian anak didik.

Maka dari itu sangat pentin bagi para guru untuk mulai menyadari bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu mendidik merupakan upaya untuk menanamkan nilai- nilai kebaikan, nilai- nilai religius.

Mengingat pentingnya meramu materi pendidikan non agama, maka perlu semacam sosialisasi, sosialisasi dilakukan untuk mengenalkan pentingnya nilai- nilai ketuhanan dalam dunia pendidikan saat ini.Ada anggapan sebagain pendidik bahwa masalah religius merupakan tanggungjawab guru agama, anggapan ini masih ada mengakar ke dalam jiwa para pendidik. Sehinga tidak heran jika ada siswa pandai fisika, matematika tetapi mereka kosong dengan nilai- nilai religius.

Akibat salah pemahaman terhadap hakekat pendidikan anak , maka berakibat kepada buruknya perilaku peserta didik, peserta didik menjadi manusia cerdas secara otak tetapi kering dengan nilai-nilai ketuhanan, maka tidak heran jika mereka korupsi, kolusi dan hidup menyimpang dari aturan Allah. Keadaan ini diperparan oleh system yang mendukung untuk melakukan hal tersebut.

Tidak hanya itu saja, ketika pendidik mengesampingkan pentingnya penanaman akidah yang benar kepada, anak akan cenderung berfikir parsial dan sektoral, anak akan terpaku kepada hal-hal yang bersifat duniawi, sedangkan akherat bagi mereka hanya omong kosong dn hayalan belaka.tidak

Bagi mereka Tuhan itu hanya ada di alam yang lain, yang tidak mempunyai hubungan dengan manusia lagi, tuhan telah parker di tempatnya sehingga tidak mempunyai pengaruh terhadap perbuatan manusia. Lebih parahnya lagi peserta didik yang kering dengan nilai-nilai religius, nilai-nilai ketuhanan akan cenderung sekuler bahkan ateis.

Realitas seperti ini telah menjangkiti kalangan Islam sendiri, terutama para orang tua dan pendidik yang pernah belajar tanpa ada pondasi keimanan dan tauhid yang kuat, atau tidak pernah mengecap pendidikan yang meramu aspek keilmuan duniawi yang di bumbui atau diberi ruh-ruh semangat ketuhanan.

Akibat tidak pernah mendapatkan pendidikan tersebut akhirnya para orang tua menjadi manusia yang miskin pengetahuan religius dan spiritual, kepribadiannya tidak terbentuk secara sempurna dengan tauhid yang lengkap dan mumpuni untuk menghadapi kehidupan duniawi, dalam keadaan ini para orang tua akan kelabakan dan tidak tahu arah dalam mendidik anak-anak mereka sendiri.

Maka tidak heran jika dewasa ini banyak generasi muda yang memuja kehidupan glamour,hedonisme, lebih ironis lagi mereka lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Di antara buktinya adalah keberanian mereka untuk berbuat maksiat di temapt-tempat kos, kamar-kamar hotel, mobil-mobil pribadi dan tempat-tempat rekreasi. Mereka beranggapan melakukan maksiat di temapt tersebut aman dari mata manusia, aman dari penglihatan manusia, tetapi mereka tidak pernah menyadari bahwa di samping itu ada Yang Maha Melihat, yaitu Allah Swt.

Berdasarkan hal tersebut perlu kiranya kita memulai pendidikan yang tidak melupakan Allah, pendidikan yang menyatukan antara konsep ilmu duniawi dengan nafas religius, pendidikan yang bernuansa spiritual. Dengan menerapkan pendidikan yang diwarnai oleh nilai- nilai spiritual ketuhanan akan dimungkinkan menghindarkan peserta didik dari sikap acuh terhadap Tuhannya sebagai pencipta alam raya ini.

Pendidikan yang tidak melupakan Allah akan membentuk peserta didik menjadi generasi yang tangguh, generasi yang tahu dan mau untuk mengubah diri dan masyarakatnya menuju keridhoaan Allah, pendidikan yang selalu menyertakan nilai- nilai ketuhanan akan lebih mungkin untuk melakukan perubahan-perubahan yang positif,perubahan yang lebih baik dan bermanfaaat bagi orang banyak.

Untuk itu sudah saatnya umat Islam meninggalkan pendidikan yang dibangun dengan konsep sekuler, pendidikan yang hanya mengedepankan kehidupan duniawi, pendidikan yang hanya mengejar kehidupan sementara ini. pendidikan sekuler hanya akan menjerumuskan anak didik ke dalam kubangan kehinaan di dunia dan akherat. Pendidikan sekuler dan terkesan ateis akan menjerumuskan anak didik kepada sikap hidup yang atheis dan sekuler, tidak peduli terhadap akhlak dan moral, yang penting bagi mereka adalah bagaimana mengembangkan keilmuan tanpa harus menimbang efek baik dan buruk berdasarkan timbangan agama dan nilai-nilai Ilahiyah.

Pendidikan yang selalu menyertakan Allah dalamsetiaplagkah dan proses pendidikan akan lebih utama dan lebih memberi bekas yang positif dan berdaya guna. Pendidikan yang tidak melupakan Tuhan akan membentuk pribadi yang soleh, pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan jaman. Pendidikan yang memberi peluang untuk menyatunya keilmuan dengan nilai- nilai kebenaran yang diususng oleh wahyu akan lebih memberi peluang berhasilnya anak didik dalam kehidupan dunia dan akherat.

Pendidikan yang selalu terhubung dengan nilai-nilai ketuhanan akan cenderung memabwa peserta didik kepada kehidupan yang baik, kehidupan yang jauh dari murka Allah. Pendidikan yang selalu di nafasi dengan ruh-ruh ketuhanan akan memberi peluang bagi peserta didik untuk selalu bermohon kepada Allah, ia akan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Ia tidak akan takut kepada manusia, ia berbuat baik bukan ingin dipuji, tetapi ia berbuat baik karena Allah semata.

Read Full Post »

Oleh Riwayat Attubani

Pendidikan merupakah hal penting bagi manusia. Dikatakan penting karena pendidikan berkaitan dengan nilai diri manusia, terutama daam mencari nilai itu sendiri. Dengan pendidikan manusia akan mempunyai banyak ketrampilan dan kepribadian. Ketrampilan dan kepribadian merupakan sekian banyak dari proses yang dialami manusia untuk menjadi makhluk yang bekualitas baik fisik maupun mental. Pribadi berkualitasdan berakhlak mulai tidak datang dengan sendirinya, tetapi ada semacam latihan-latihan/ riyadhah. Kebiasaan yang baik akan berakibat baik dan menjadi bagian dari kepribadian keseharian, sebaliknya kepribadian dan kebisaan sehari-hari yang buruk juga akan berakibat buruk terhadap kepribadaian dan perbuatan dirinya sendiri.

Maka pendidikan dalam keseharian manusia menjadi penting artinya dalam rangka mengwala manusia menjadi manusiayang berbudi dan berperadaban yang luhur.

Pendidikan bukan hanya sekedar transfer ilmu, tetapi juga trans fer nilai, dengan adanya transfer ilmu dan nilai-nilai yang baik dimungkinkan manusia menjadi pribad yang tidak hanya crdasotaknya, tetapi juga cerdas akhlaknya.tidak heran jika Allah menyatakan bahwa kepribadain saja belum cukup, ilmu saja juga belum ada artinya, tetapi jika keduanya, antara ilmu dan iman sudah menyatu ,maka kepribadian dan ketinggian derajat akan diperoleh manusia. Hal ini dapat dipahami dari ayat 11 surat Mujadalah,”

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al Mujadalah: 11).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa antara kecerdasan intelektual/ ilmu pengetahuan dan spiritual/keimanan menjadi kesatuan yang tuh dalam rangka mencapai tujuan mulia, pencapaian derajat yang tinggi di hadapan Allah. Artinya adalah ilmu saja tidak cukup untuk mengantarkan manusia menjadi makhluk yang berperadaban dan mempunyai derajat tertinggi di hadapan Allah. Maka dalam ayat tersebut secara eksplisit dapat dipahami bahwa untuk mencapai derajat yang tinggi dibutuhkan paling tidak dua variable yaitu ilmu pengetahuan dan kedalaman keimanan seseorang. Jika kedua variable tersebut telah ada dalam diri seseorang, maka sangat dimungkinkan derajatnya akan dimuliakan oleh Allah Swt.

Dengan demikian pendidikan pada dasarnya mempunyai dimensi keilahian, karena semua makhluk yang ada di alam ini adalah murid Allah, dikatakn murid karena semua makhluk di ala mini diajarkan dan di didik oleh Allah sebagai pendidik utama di jagad ini. Oleh karena itu pendidikan pada awalnya adalah berasal dari Yang Maha Mendidik yaitu Rabb alam semesta ini. Tidak hanya itu selain Allah mendidik, Allah juga memelihara makhluknya diantaranya dengan menurunkan kitab-kitab suci sebagai bahan bacaan, bahan referensi dalam menyikapi berbagai kejadian dan fenomena alam raya.

Allah mengutus para rasul-Nya juga untuk mendidik manusia menjadi makhluk yang baik, makhluk yang mau dan tahu akan Tuhannya, makhluk yang paham kepada siapa harus mengabdi dan menyembah. Kesemua itu dapat ditemukan dalam pendidikan islam, pendidikan Islam bertujuan membebaskan manusia darai belenggu dunia, belenggu kesyirikan dan menuju keikhlasan dalam berbuat dan beribadah. Pendidikan dalam islam bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi lebih dari itu pendidikan dalam islam berusaha mewujudkan manusia yang berkualitas dan beriman dan tahu siapa yang berhak disembah dan dijadikan tempat bergantung.

Selain berusaha mewujudkan manusia yang ikhlas dan tahu Tuhannya,pendidikan Islam juga di dukung oleh adanya kitab-kitab Allah, yang dibawa oleh para Rasul-Nya, yang kesemua itu bertujuan untuk mendidik manusia menjadi makhluk yang berperadaban. Dengan adanya para Rasul dan adanya Kitab yang dibawanya, kemudian diajarkan, maka manusia akan terbebas dari kesesatan dan mendapatkan hikmah, karena kitab-kitab tersebut, diajarkan oleh para Nabi dan rasul dengan hikmah, maka manusia yang menerima pengajaran dan dididik juga akan mendapatkan hikmah tersebut. Allah berfirman,” Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,(QS. Al-Jumuah:2).

Pendidikan dalam islam bertujuan untuk membentuk dan mewujudkan peserta didik yang berkualitas, beribadah dengan ikhlas karena Allah, dan menjadikan Alah satu-satunya tempat menyembah dan bergantung.

Pendidikan dalam islam mempunyai arti penting karena merupakan ruh dari awal turunya wahyu Allah, perintah pertama dalam Islam adalah untuk membaca, membaca dalam arti lebih luas, termasuk di dalamnya adalah meneliti, mengkaji,memahami, melakukan observasi, melakukan proses pembelajaran dan peruses pendidikan.dengan demikian pendidikan merupakan tonggak awal dari kewahyuan, hal ini dapat dicermati dari firman Allah surat Al-Alaq,” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS.Al-Alaq:1-5).

Pendidikan dapat berarti penyucian/ tazkiyah, penyucian manusia darai hal kesyirikan, kedzaliman dan dosa. Pendidikan dalam tataran ini sudah melampaui pendidikan awal, dalam arti pendidikan dalam konotasi tazkiyah lebih mempunyai tingkat yang lebih tinggi jika disbanding dengan mendidik secara konsep keilmuan dan peruses menuju kesucian diri., tazkiyah dalam konotasi pendidikan merupakan sebuah proses menuju akhlak mulia, membebakan manusia dari kekotoran jiwa, pendidikan dalam Islam berusaha meluruskan tujuan manusia yang sesungguhnya, tujuan tersebut adalah mencapai keridhoan Allah. Disisi lain pendidikan dalam islam merupakan sebuah langkah preventif agar terhindar dari neraka dunia dan neraka akherat,” hal ini dapat dicermati dari firman Allah dalam surat Tahrim ayat 6,”

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim: 6).

Dalam ayat tersebut mengandung tangungjawab penuh orang tua untuk mendidik anak mereka. Mendidik anaknya agar menjadi anak yang soleh, anak yang berbakti kepada Allah dan orang tuanya. Dalam ayat tersebut mengandung sebuah proses pendidikan dan pembelajaran, dengan demikian realitas ini memberi kesan bahwa pendidikan tama awal bagi anak adalah pendidikan dan pembelajaran yang diterimanya ketika di rumah. Pendidikan dan pembelajaran di rumah sangat penting, dikatakan pentung karena mempunyai pengaruh besar bagi anak kelak kalau mereka sudah bergaul dan bermasyarakat.

Di sisi lain pendidikan di rumah mempunyai arti penting bagai anak untuk mendapatkan pengalaman, pengalaman yang berharga, pengalaman yang kan menjadi tolak ukur, sebagai pola utama dalam memandanag dunia luar. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan dalam Islam, pendidikan yang dianggap utama dan diutamakan, dikatakan diutamakan karena berdasarkan perintah Allah , agar setiap orang tua bertanggungjawab untuk menyelamatkan anak-anak mereka dariapi neraka, baik neraka dunia maupun nereka akherat. Tidk heran jiika Muhammad Saw menyatakan bahwa pemberian pendidikan dan pembelajaran di rumah lebih baik daripada hanya sekedar berbuat baik kepada anak. “Pemberian perhatian(pendidikan dan pembelajaran) dari orang tua kepada anaknya, lebih baik daripada hanya besikap baik kepada mereka.”( HR. Ahmad).

Read Full Post »

Oleh: Riwayat Viviti
Seandainya Buya Hamka Tahu, berandai-andai ah, sudah basi kali? tapi tiulah Buya Hamka anak nagarimu telah lari dari jalan yang pernah engaku rintis, kalau engaku tahu Buya Hamka tentu engakau akan menangis dan geram melihat tingkah polah anak nagari di Ranah Minangmu yang telah membesarkanmu. Buya Hamka yang terhormat, kini ranah Minangmu telah menjadi dunia tanpa makna, dunia yang suka glamour, suka hidup bebas dan suka materialisme. entah lah Buya,kini harapan yang pernah engaku torehkan telah habis dan kini hanya tinggal puing, nama besarmu tidak mampu memberi pengaruh, nama besarmu tidak lagi mereka kenang, mereka tidak segan berbuat maksiat di Ranah Minang wahai Buya Hamka. Buya Hmka seandainya engkau tahu tentu sifat  tegas, lugas dan tanpa tedeng aling-alingmu, akan menentang mereka, engaku tidak akan membiarkan mereka larut dalam maksiat ini wahai Buya Hamka. Buya Hamka seandainya engkau tahu tentu engkau akan memberi nasihat, engkau akan memberi petuah untuk anak ranah Minang ini. petuahmu dan kharisme yang engaku miliki mampu memberi mereka kesan malu, dan segan mereka tidak akan mengotori ranah Minangmu dengtan seks bebas, seks diluar nikah, pencurian,perampokan dan pembunuhan.
Buya Hamka, engkau pasti akan sedih ketikabanyak ninik mamak tidak peduli lagi dengan kemenakannya,engkau akan marahmelihat mamak memerkosa kemenakannya, bapak memperkosa anaknya sendiri. Seandainya engkau tahu pasti engkau akan terpaku.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.(QS. Al Isra:1-4).

Isra dan miraj merupakan tonggak kebangkitan umat Islam, dikatakan sebagai sebuah kebangkitan karena peristiwa itu membuat takjub dan sekaligus membuat kecut bagi mereka yang tidak punya iman, atau iman mereka yang lemah.

Tetapi bagi mereka yang kuat imannya, tentu peristiwa Isra dan miraj merupakan penguat sekaligus ujian keimanan umat Islam. Adanya Isra Miraj merupakan bukti bahwa sebenarnya manusia dapat mencapai ketinggian dalam batas ketentuan Tuhan. Batas yang tidak semua manusia dapat mendapatkannya.Isra Miraj merupakan bukti bahwa manusia mempunyaikesempatan untuk bertemu dengan Tuhan-Nya. Pertemuan manusia dengan Tuhannya, pertemuan yang menyiratkan keilahian dan sekaligus lahut dalam diri manusia.

Peristiwa Isra dan Miraj merupakan bukti nyata bahwa antara manusia dengan Tuhan dapat bertemu dalam kurun waktu tertentu, di mana manusia telah melenyapkan unsure kemanusiaannya, kemudian ia lebur dalam diri Tuhan.

Manusia dapat lebur dalamTuhan karena pada saat itu tidak sesuatu kecuali Allah Tuhan sekalian alam.

Manusia dapat berjumpa dengan Tuhan-Nya dengan cara melenyapkan semua esensikemanusiaannya mengosongkan berbagai entitas, yang ada hanya entitasAllah yang tunggal tidak yang lain.

Isra Miraj merupakan bukti bahwa manusia mampu menembus batas kemanusiaannya, batas tersebut akan mampu dilewati manusia ketika ia telah mampu menyingkirkan semua hal kecuali Allah.

Manusia tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali atas izin Allah, termasuk Nabi Muhammad Saw sendiri, beliau tidak akan mampu jika Allah tidak memperjalankan beliau. Ini memberi kesan akan kelemahan manusia, yang pada dasarnya manusia diciptakan mempunyai sifat yang lemah, tetapi dalam kelemahan manusia Allah tidak membiarkan manusia terjebur dalam kelemahannya.

Bukti Allah tidak membiarkan manusia dalam kelemahannya adalah diberinya manusia akal. Dengan akalnya, manusia dapat menutupi kelemahannya. Dengan akal manusia mampu mengatasi kelemahan, kelemahan yang ada dalam dirinya.

Akal yang diberikan Allah kepada manusia merupakan alat untuk memikirkan, memahami segala fenomena yang ada di alam ini.

Isra Miraj seharusnya makin memacu umat islam untuk berfikri rasional, dengan berfikir rasionalmaka umat akan maju dari segi pemikiran, dengan majunya oemikiran dimungkinkan kebangkitan intelektual umat islam akan terbentuk dan mengapung ke permukaan.

Isra Miraj seharusnya menjadi momen penting bagi umat Islam, momen untuk segera bangkit dan mengembangkan pola pikir yang kritis dan rasional. Dengan akal rasionalnya umat islam akan bangkit dari keterpurukan, karena dengan akal pikiran tersebut manusia mampu membuat jalan untuk membuang segala rintangan kejumudan, kebekuan ijtihad di masa kini, masa keemasan umat Islam harus diulang, di tersukan lagi. Umat islam hendaknya mampu menyadari dirinya yang terpuruk dalam kubangan keterbelakangan di bumi ini. Maka momen Isra miraj merupakan langkah awal dan penting untuk membangkitan semangat meneliti, semangat berfikir dan mengembangkan diri.Sehingga umat islam tidak tertinggal dari umat yang lain dari segi ilmu dan teknologi. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Mujadalah:11). Allahu A’lam.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

(Mhs. Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)

Nama lengkapnya adalah Rifa’ah badhawi Rafi’ al-Thahthawi terkenal dengan sebutan Al-Thahthawi. Lahir di Tanta pada tahun 1801 H.[1] Berasal dari keluarga miskin,sehingga keluarga Al-Thahthawi pergi ke Mesir untuk mencari penghidupan dalam bidang pertanian. Pada usia remaja al-Thahthawi hafal al-Quran dan telah mempelajaridasar-dasar hukum Islam. Pada usia 16 tahun, al-Thahthawi pergi ke Kairo untuk belajar di Universitas al-Azhar. Keadaan ekonomi yang tidak mendukung menjadikan al-Thahthawi bekerja sambilan sepulang kuliah yaitu menjadi guru privat, gaji sebagai guru privat ternyata tidak mencukupi untuk biaya kuliah. Keadaan ini memaksa ibunya menjual perhiasan untuk menambah kekuarangan biaya kuliah at-Thahthawi. Meskipun dengan susah payah at-Thahthawi akhirnya at-Thahthawi menyelesaikan pendidikan di al-azhar selama delapan tahun.[2]

Al-Thahthawi meninggal pada hari Selasa, 27 Mei 1873 M, umurnya pada waktu itu 73 Tahun. Ribuan masyarakat mesir mengiringi jenazahnya.[3]

Kutipan di atas memberi pelajaran bahwa kemiskinan dan kesusahan tidak membuat at-Thahthawi putus asa dalam perjuangan hidup. Meskipun serba kekurangan tetapi pendidikan tidak dilupakan. Semangat seperti ini memberi inspirasi bagi generasi sesudah al-Thahthawi untuk meniru, meneladani, atau setidaknya tidak menyerah dalam hidup walaupun dalam keadaan miskin yang mendera. Tidak itu saja, meskipun dalam kubangan kemiskinan al-Thahthawai pantanag mundur, pendidikan masih merupakan sesuatu yang harus diperjuangankan apapun kondisinya.

Pada umur 24 tahun al-Thahthawi menjadi pegawai Bina Mental dan Imam padasebuah kelompok pasukan negara Mesir yang dibangun oleh Muhammad Ali, penguasa Mesir. Pada 25 tahun al-Thahthawi dicalonkan pemerintah untuk bergabung dalam delelgasi mahasiswa Mesir ke Perancis. Pengiriman mahasiswa Mesir Ke Perancis ini adalah gelombang pertama.[4]

Al-Thahthawi dimanfaatkan oleh Muhammad Ali untuk kepentingan pemerintah, termasuk juga untuk kemajuan bangsa Mesir secara umum.[5] Meskipun dimanfaatkan tetapi al-Thahthawi tidak merasa dimanfaatkan, bahkan dengan keadaan tersebut al-Thahthawi mengambil hikmah dan pelajaran dari keadaan tersebut. Digunakan kesempatan itu untuk menempa diri dengan berbagai pengalaman dan ilmu pengetahuan, bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk bangsa Mesir.

Hal ini dapat diketahui dengan semangat al-Tahahthawi untuk terus menempa diri, menjadi pribadi pemberontak terhadap kenyataan bangsa Mesir. Suatu saat al-Thahthawi berkata,”Kondisi negeri kita harus berubah, dan ilmu pengetahuan yang tidak kita punyai harus segera kita miliki.”[6]

Tekad yang besar untuk membangun bangsanya menjadikan al-Thahthawi pemuda yang berbeda dengan pemuda mesir yang sebaya dengannya. Meskipun ke Perancis hanya sebagai imam tetapi al-Thahthawi tidak hanya sebagai imam salat bagi para mahasiswa, tetapi dengan kemamuan besar untuk maju al-Thahthawi melakukan hal-hal diluar tugasnya.al-Thahthawi bertekad mempelajari ilmu-ilmu bangsa perancis. Hal ini dibuktikan dengan usahanya untuk mencari guru privat bahasa Perancis yang ia gaji sendiri. Selama tiga tahun ia rela memotong gajinya sebesar 250 Piaster untuk guru privatnya.[7]

Setelah lima tahun di Perancis al-Thahthwi kembali ke mesir sekitar akhir tahun 1831. Ia diangkat sebagai penerjemah dan guru Bahas Perancis di Institut Kedokteran Abu za’bal dengan gaji 1.2223 Piaster.[8] Kepalasekolah, pimpinan penterjemah Undang-Undang perancis.[9]

Dengan latar belakang pendidikannya, baik ketika di al Azhar, dengan gurunya Syekh Hasan al-Attar, pengalaman intelektualnya di perancis, buku-buku yang dibaca dan diterjemahkannya menjadikanal-Thahthwai sosok yang mumpuni dalam bidang pendidikan.

Pemikiran at-Thahthawi Tentang Pendidikan

Al-Thahthawi mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk karakter kepribadian, kecerdasan, dan menanamkan rasa patriotisme/Hubb al-wathan.[10] Kutipan tersebut dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan tidak sekedar membentuk siswa yang cerdas secara inteketual tetapi juga cerdas dari segi emosi dan spiritual, hal ini dapatdicermati dan dipahami dari tujuan pendidikan di atas yang tidak sekedar membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga membentuk siswa yang matang emosi dan akhlaknya. Di sisi lain, tujuan pendidikan hendaknya tidak sekedar membentuk siswa pandai, tetapi juga membentuk siswa yang mempunyai jiwa-jiwa patriotisme, sebab tidak ada manfaatnyamempunyai siswa yang cerdas tetapi tidak mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa patriotisme terhadap negaranya sendiri. Pendidikan hendaknya tidak membentuk siswa cerdsa, tetapi berjiwa penghianat terhadap negara dan bangsa sendiri. Penulis sepakat dengan al-Thahthawi terutama dalam tujuan pendidikan. Pendidikan yag tidak ada tujuan membentuk rasa patriotisme hanya akan mempersiapkan generasi-generasi penghancur negara, generasi yang memanfaatkan bangsa dan negara untuk kepentingan sendiri.

Dalam bidang kurikulum al-Thahthawi membaginya berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk tingkat pendidikan dasar (SD) terdiri atas: pelajaran membaca dan menulis yang bersumber dari al-Quran, ilmu nahwu, dan dasar-dasar berhitung. Sedangkan untuk tingkat sekolah menengah (SMP), terdiri atas, pendidikan jasmani beserta cabangnya, ilmu bumi, sejarah, biologi, mantiq, fisiska, kimia, manajemen, ilmu pertanian, mengarang, peradaban, bahasa asing. Untuk kurikulum tingkat atas (SMA) terdiri atas mata pelajaran kejuruan. Di antara mata pelajaran tersebut adalah kedokteran, fiqih, ilmu bumi dan sejarah.[11]

Dari kurikulum diatas, tersirat bahwa al-Thahthawi sudah memikirkan tentang pentingnya skill bagi siswa/anak didik, sehingga ia memuat materi pelajaran kejuruan. Di sisi lain, terlihat jelasbahwa al-Thahthawi memperhataikan kebutuhan pada masa itu, kebutuhan bangsa Mesir yang masih jauh tertinggal dengan bangsa lain, sehingga perlu membuat kurikulum yang menghasilkan peserta didik yang dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi masyarakat pada saat itu. Dalam hal ini dapat di duga bahwa sebenarnya al-Thahthawi sudah mempunyai ilmu tentang pengembangan kurikulum. Yang di antaranya dalam mengembangkan kurikulum adalah memperhatikan kebutuhan masyarakat di sekitar tempat institusi pendidikan berada. Dari kurikulum di atas dapat diketahui bahwa secaratidak langsung al-Thahthawi telah membuat semacam struktur/jenjang pendidikan, yaitu pendidikan awal / SD, pendidikan menengah /SMP, kemudian pendidikan tingkat atas / SMA. Tetapi ada yang mungkin terlupa oleh al-Thahthawi yaitu pendidikan untuk anakusia dini, sepertinya hal ini terabaikan, padahal pendidikan usia dini mempunyai peran penting dalam rangka mempersiapkan anak didik menuju jenjang pendidikan lanjutan, atau setidaknya sebagai wahana untuk bersosialisasi bagi anak didik usi dini.

Sedangkan dari pola pendidikan, al-Thahthawi menawarkan pola pendidikan sebagai berikut: pendidikan yang bersifat universal. Yaitu pendidikan yang di tujukan kepada semua golongan masyarakat tanpa membedakan gender dan umur. Pendidikan yang ditujukan untuk memajukan perempuan agar mampu menggali dan memfungsikan perannya secara maksimal, apakah sebgai istri, sebagai ibubagi anak-anak, atau sebagai bagian dari masyarakat,dengan tidak melupakan kodratnya sebgai perempuan. Ketiga, pendidikan yang ditujukan untuk kepentingan bangsa. Pola pendidikan hendaknya harus membentuka anak didik yang mempunyai rasa memiliki terhadap negaranya, rasa bangga terhadap negaranya, pendidikan hendaknya di arahkan untuk membentuk peserta didik yang mau berkorban untuk bangsa dan negaranya.[12]

Karya Ilmiah al-Thahthawi

Sebagai ilmuan al-Thahthawi mempunyai kebiasaan membaca dan menulis, di antara buku yang telah ditulisnya adalah:

1. Takhlis al Ibriz fi AkhbarBariz, buku ini menjelaskan tentang kehidupan bangsa Perancis,terutama Paris, tentang adat sitiadat,budaya, kebiasaan ilmiah, politik, demokrasi, yang inti dari tujuan penulisan buku tersebut adalah agar bangsa Mesir sadarakan ketertinggalan, sebagi perbandingan dalam segala hal, dengan harapan setelah membaca buku ini bangsa Mesir berubah paradigma.[13]

2. Manahij al-Albabal-Misriyyat fi manahij al-Adab al-Ashriyyat,buku ini membahas tentang pembaharuan bidang ekonomi, dengan buku ini al-Thahthawiberharap bangsa Mesir termotivasi untuk mengwembangkan perekonomian berdasarkan peran dan fungsi agama.[14]

3. al-Qoul al-Sadiq fi al-Ijtihada wa al taqlid dan Anwar al-Taufiq al-Jalil fi Akhbar Mishr wa Tautsiq Bani Ismail,kedua buku ini memuat tentang pentingnya ijtihad bagi bangsaMesir demi kemajuan bangsa mesir, hukum-hukum islam harus diinterpretasi ulang/ baru agar sesuai dengan kehidupan modern. Buku ini juga bersisi anjuran bagi para ulama agar menyadari dan mengetahui kehidupan modern, sehingga masyarakat Islam menjadi dinamis dan membuka diri dengan dunia luar, dengan batas-batas syariat/ hukum Islam.[15]

4. al-Mursyid al-Amin li al-Banat wa Banin,buku ini membahas tentang pentingnya pendidikan bagi laki-laki dan perempuan agar nantinya diharapakan keduanya nanti mampu membina keluarga yang harmonis. Buku ini juga membahas pentingnya pendidikan bagi perempuan, agarperempuan mampu mengimbangi ilmu pengetahuan, pola pikir kaum laki-laki, intinya agar perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki.[16]

5. Manahij al al-Albabal-Mishriyyah fi Mabahij al-Adab al-Mishriyyah,buku ini membahas metode pendidikan untuk kemajuan bangsa Mesir, dalam buku ini berisi tentang anjuran kepada organisasi kemasyarakatan, masyarakat Mesir dan pemerintah mengerahkan harta dan modal hidupnya untuk kemaslahatan bangsa Mesir dan di titik beratkan dalam bidang pendidikan dan penyebaran ilmu pengetahuan.[17]

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa at-Thahthawi menganggap bahwa kemajuan hanya dapat diperoleh dengan mensejahterakan rakyat, menumbuhsuburkan rasa peduli sosial dan perhatian yang penuh terhadap dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Read Full Post »

Older Posts »