Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘keislaman’ Category

Oleh: Riwayat

Nabi Yusuf adalah putera ke tujuh dari dua belas putera-puteri Nabi Ya’qub. Ia dengan adiknya bernama Benyamin dengan bernama Rahil, saudara sepupu Nabi Ya’qub. Ia dikurniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara- saudaranya yang lain, terutamanya setelah ditinggalkan ibu kandung Rahil semasa ia masih berusia dua belas tahun.

Dalam surat Yusuf diinformasikan berbagai macam cobaan, derita yang dialami oleh nabi Yusuf.

Pertama: kebencian saudaranya sendiri. Ini adalahcobaan pertama dalam hidup nabi Yusuf. Ia dibenci oleh saudaranya sendiri saat masih kanak-kanak. Kebencian  berawal dari rasa iri hati atau dengki para saudara Yusuf yang merasa bahwa ayah mereka lebih menyayangi sang adik.

Kedua: dibuang ke dalam sumur. Api kebencian membaut saudara–saudara Yusuf nekat mencelakakan adiknya sendiri. Mereka pun sengaja membuang Yusuf ke dalam sumur.  Tujuan membuang ini adalah untuk membunuh sang adik.

Ketiga: terpisah dari keluarga: ketika Yusuf As. Dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya, Yusuf dipaksa berpisah dari keluarganya.  Hal ini makin membuat Yusuf menderita karena pada waktu  dibuang ke dalam sumur, Yusuf  usianya baru 12 tahun.

Yusuf dalam kesendirian, jauh dari keluarganya.

Keempat: menjadi budak, setelah Yusuf selamat dari maut, Yusuf diselamatkan oleh kafilah dari lobang sumur kemudian ia dijual sebagai seorang budak. Ia yang semula merdeka dan anak nabi Yaqub dipksa menjadi hamba sahaya yang tidak mempunyai kebebasan.

Kelima: rayuan dan godaan. Ketika Yusuf beranja dewasa, maka cobaan yang dihadapinya menjadi semakin berat. Yaitu , cobaan menghadapi rayuan dan godaan dari lawan jenis. Salah satunya adalah godaan yang dilakukan oleh istri majikannya sendiri yang cantik dantinggal seatap dengannya, Zulaihah. Beratnya cobaan ini semakin terasa karena Yusuf pada waktu itu berada di masa muda yang penuh gejolak.

Keenam: Fitnah. Cobaan keenam yang diterima Yusuf karena ia menolak mengikuti ajakan penuh nafsu sang istri majikan. Maka ketika sang suami memergoki ulah istrinya, dan Yusuf membeberkan kejadian yang sebenarnya, maka anak nabi Yaqub itu pun terpaksa dipenjara dengan tuduhan telah melakukan penghinaan. Tentu saja, tuduhan tersebut palsu demi menyelamatkan nama baik di majikan. Yusuf telah difitnah.

Ketujuh: masuk penjara. Akibat fitnah majikan, yusuf terpaksa menjadi penghuni penjara selama beberapa tahun. Meski ia tidak mendapat perlakuan kejam di dalam penjara, tetapi hidup di dalam penjara tetap saja berat. Terlepas dari itu, yang membuat cobaan ini lebih berat adalah ia harus menerima tuduhanpalsu yang difitnahkan atas dirinya selama di penjara.

Kedelapan: nikmat dan kekuasaan. Setelah didera derita bertubi-tubi, Allah SWT. Kemudian mengubah jalan hidup Yusuf kea rah lebih baik dari sebelumnya. Bahkan Yusuf menjadi orang kaya dan mempunyai kekuasaan. Ia mempunyai kesempatan dan memiliki semua yang ia inginkan. Meski selintas sebagai nikmat, tetapi sesungguhnya ini adalah satu diantara bentuk cobaan Allah SWT. Yusuf hendak diuji apakah ia mampu berpegang teguh pada prinsipnya dan tetap mengingat Allah SWT di tengah gelimang  kemakmuran dan kesenangan.

Kesembilan: memaafkan saudara-saudaranya. Sungguh memaaafkan jauh lebih berat daripada meminta maaf. Yusuf memaafkan saudaranya yang  jahat dan ingin membunuhnya. Tentu hal ini suatu keadaan yang berat kecuali orang yang mempunyai kahlak yang agung. Yusuf bukan sekedar memaafkan saudara-saudaranya yang jahat, akan tetapi membalas kejahatan saudara-saudaranya dengan kebaikan yang tidak terkira.

Kesepuluh: perubahan nasib yang lebih baik.yang dihadapi nabi Yusuf sesungguhnya merupakan rangkaian cobaan yang  berat. Cobaan demi cobaan silih berganti. Perubahanyang cepat dan silih berganti, dari kasih sayang orang tua menuju kesepian diri, dari kesengsaraan  kesenangan, dari kemiskinan menuju ke harta yang berlimpah dan kekuasaan yang tinggi.

Read Full Post »

  1. 1.      Motivasi

Motivasi berasal dari kata motif, yang mempunyai arti alasan seseorang melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi berarti kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak melakukan tindakan dengan tujuan tertentu, dapat juga berarti usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena  ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.[1]

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa motif bersifat batiniah, karena hanya yang bersangkutan yang mengetahui motif yang diniatkan, sedangkan orang lain tidak mengetahui, kalaupun mengetahuai hanya bersifat menebak dan mengetahui gejala-gejala, akan tetapi kebenarannya belum dapat dipastikan. Dengan arti lain, motif masih tersembunyi di dalam diri seseorang. Motif akan dapat diketahui ketika yang bersangkutan mengungkapkannya kepada orang lain. Atau dapat diketahui dengan jalan penyelidikan dan penelitian.

Berdasarkan  arti tersebut dapat dimengerti motivasi terkait erat dengan psikologis, gejala-gejala psikologis yang pada akhirnya menjadi semacam kekuatan dan semangat untuk melakukan sesuatu tindakan dalam mencapai yang diinginkan. Motivasi juga  terkait erat dengan sikap kepemimpinan, didalam pengertian tersebut tersirat bahwa manajer mempunyai peran untuk membangkitkan, menggerakkan bawahannnya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatau. Dengan kata lain  manajer mempunyai peran sebagai motivator bagi bawahannya dalam rangka meningkatkan kinerja.

Hikmat menyatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan terjadinya tindakan atau disebut dengan niat.[2] Hal ini memberi kesan bahwa motivasi merupakan awal dari respon seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Terry sebagaimana dikutip Marno dan Triyo Supriyatno mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang merangsang untuk melakukan tindakan-tindakan.[3] Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa motivasi berasal dari dalam diri seseorang, atau bisa juga berasal dari luar diri.

Bagaimana  hubungannya dengan manajerial dan motivasi  dalam kepemimpinan? Apakah dorongan-dorongan yang mereka lakukan kepada anak buahnya mempunyai pengaruh atau sebaliknya tidak memberi efek signifikan? Jika halnya demikian, maka pada  dasarnya munculnya motivasi kemungkinan ada dua sumber pertama dari diri sendiri, kedua dari luar diri. Jika hal ini benar, maka peluang untuk memotivasi dari luar mendapatkan tempatnya.

Nancy Stevenson mendefinisikan motivasi sebagai insentif, dorongan, atau stimulus untuk bertindak, semua hal yang verbal, fisik atau psikologi yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respon.[4]Muhammad Utsman Najati menyatakan motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup. Motif akan melahirkan perilaku dan mengantarkan makluk hidup pada suatu tujuan.[5] Dapat dipahami bahwa motivasi merupakan sesuatu hal yang menjadi energy pendorong seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Kalau halnya demikian, maka setiap perbuatan  patut diduga ada motif-motif tertentu yang membuat seseorang termotivasi melakukan sesuatu.

Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab mendefinisikan segala sesuatu  yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan. John Adair mendefinisikan motivasi  kemampuan umum untuk menggerakkan atau menggairahkan orang agar bertindak.[6] Eugene J. Benge menyatakan motivasi adalah apa saja yang perilaku. Seperti manajer memberikan motivasi dengan cara mengambil tindakan-tindakan yang menyebabkan karyawan penyelia, pelanggan berkelakuan dengan yang yang menguntungkan.[7]

Dari pembahasan sebelumnya dapat dipahami bahwa motivasi adalah kegiatan apapun yang mampu memberi pengaruh terhadap kinerja yang mempunyai kaitan erat dengan tercapainya tujuan bersama. Jika dihubungan dengan pendidikan Islam, maka manajer atau pemimpin dalam lembaga pendidikan hendaknya mampu memberi ruang dan memberi peluang munculnya motivasi dalam diri bawahannya.  Jika bawahan dan semua komponen dalam sebuah institusi mempunyai motivasi yang sama dalam melakukan sesuatu, maka tujuan dari lembaga, organisasi akan terwujud.


[1]Tim Reality,Kamus terbaru Bahasa Indonesia,(Surabaya: Reality Publisher, 2008), h.456

[2]Hikmat,Manajemen Pendidikan,( Bandung: Pustaka Setia,2009), h. 271

[3]Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam,(Bandung, PT. Refika Aditama,2008), h. 21

[4]Nancy Stevenson, Seni Memotivasi, ( Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2001), h. 2

[5]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Quran, (Badung: Pustaka Setia, 2005), h.23

[6]John Adair,Menjadi Pemimpin Efektif, judul asli,”Effective Leadership, A Self Development,”penerjemah Lembaga PPM dan  PT Pustaka Binaman Pressindo,(Jakarta:PT Binaman Pressindo,1994), h.177

[7]Eugene J. Benge, Pokok-Pokok Manajemen Modern,judul asli,”Elements of Modern management,penerjemah Rochmulyati Hamzah,”(Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo, 1994), h. 98

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.(QS. Al Isra:1-4).

Isra dan miraj merupakan tonggak kebangkitan umat Islam, dikatakan sebagai sebuah kebangkitan karena peristiwa itu membuat takjub dan sekaligus membuat kecut bagi mereka yang tidak punya iman, atau iman mereka yang lemah.

Tetapi bagi mereka yang kuat imannya, tentu peristiwa Isra dan miraj merupakan penguat sekaligus ujian keimanan umat Islam. Adanya Isra Miraj merupakan bukti bahwa sebenarnya manusia dapat mencapai ketinggian dalam batas ketentuan Tuhan. Batas yang tidak semua manusia dapat mendapatkannya.Isra Miraj merupakan bukti bahwa manusia mempunyaikesempatan untuk bertemu dengan Tuhan-Nya. Pertemuan manusia dengan Tuhannya, pertemuan yang menyiratkan keilahian dan sekaligus lahut dalam diri manusia.

Peristiwa Isra dan Miraj merupakan bukti nyata bahwa antara manusia dengan Tuhan dapat bertemu dalam kurun waktu tertentu, di mana manusia telah melenyapkan unsure kemanusiaannya, kemudian ia lebur dalam diri Tuhan.

Manusia dapat lebur dalamTuhan karena pada saat itu tidak sesuatu kecuali Allah Tuhan sekalian alam.

Manusia dapat berjumpa dengan Tuhan-Nya dengan cara melenyapkan semua esensikemanusiaannya mengosongkan berbagai entitas, yang ada hanya entitasAllah yang tunggal tidak yang lain.

Isra Miraj merupakan bukti bahwa manusia mampu menembus batas kemanusiaannya, batas tersebut akan mampu dilewati manusia ketika ia telah mampu menyingkirkan semua hal kecuali Allah.

Manusia tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali atas izin Allah, termasuk Nabi Muhammad Saw sendiri, beliau tidak akan mampu jika Allah tidak memperjalankan beliau. Ini memberi kesan akan kelemahan manusia, yang pada dasarnya manusia diciptakan mempunyai sifat yang lemah, tetapi dalam kelemahan manusia Allah tidak membiarkan manusia terjebur dalam kelemahannya.

Bukti Allah tidak membiarkan manusia dalam kelemahannya adalah diberinya manusia akal. Dengan akalnya, manusia dapat menutupi kelemahannya. Dengan akal manusia mampu mengatasi kelemahan, kelemahan yang ada dalam dirinya.

Akal yang diberikan Allah kepada manusia merupakan alat untuk memikirkan, memahami segala fenomena yang ada di alam ini.

Isra Miraj seharusnya makin memacu umat islam untuk berfikri rasional, dengan berfikir rasionalmaka umat akan maju dari segi pemikiran, dengan majunya oemikiran dimungkinkan kebangkitan intelektual umat islam akan terbentuk dan mengapung ke permukaan.

Isra Miraj seharusnya menjadi momen penting bagi umat Islam, momen untuk segera bangkit dan mengembangkan pola pikir yang kritis dan rasional. Dengan akal rasionalnya umat islam akan bangkit dari keterpurukan, karena dengan akal pikiran tersebut manusia mampu membuat jalan untuk membuang segala rintangan kejumudan, kebekuan ijtihad di masa kini, masa keemasan umat Islam harus diulang, di tersukan lagi. Umat islam hendaknya mampu menyadari dirinya yang terpuruk dalam kubangan keterbelakangan di bumi ini. Maka momen Isra miraj merupakan langkah awal dan penting untuk membangkitan semangat meneliti, semangat berfikir dan mengembangkan diri.Sehingga umat islam tidak tertinggal dari umat yang lain dari segi ilmu dan teknologi. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Mujadalah:11). Allahu A’lam.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat
(Guru PAI SMPN 21 Padang)
Dakwah adalah perbuatan mengajak,menyeru ke jalan yang benar. Mengajak ke pada perbuatan, sikap, sifat dan perilaku yang diridhoi oleh Allah. Dakwah merupakan kerja aktif umat Islam, dakwah merupakan kegiatan mudah tanpa harus menjadi ustad, buya maupun kyai. Tetapi selama ini dakwah masih dirancukan dan di konotasikan dengan ceramah, khutbah, kalau tidak ceramah dan khutbah atau adanya wirid maupun ceramah ramadhan maka dakwah itdak ada. Padahal dakwah tidak terbatas kepada ceramah di mesjid, khutbah jumat dan ceramah ramadhan. Dakwah mencakup beberapa hal seperti dakwah dengan lisan, tulisan, dan dakwah dengan perbuatan yang baik, positif dan diridhoi oleh Allah.
Dakwah dapat berbentuk lisan, seperti memberi nasehat yang baik, ceramah kutbah, wirid-wirid dan lain sebagainya, ada juga dakwah lewat tulisan, seperti mengarang buku, membuat artikel, membuat resensi buku yang bermanfaat bagi manusia. Dakwah dapat berupa tingkah laku, seperti memberi contoh yang baik. Realitas di masyarakat Islam dakwah masih di konotasikan dengan ceramah sehingga kesannya dakwah dimonopoli oleh para ustad, buya, kyai, dan para penceramah lainnya. Sehingga yang terjadi adalah banyak umat Islam yang engan menyeru, enggan berdakwah karena beranggapan dawah itu ceramah, dakwah itu menjadi khatib jumat, dakwah itu milik buya, milik ustad dan kyiai.
Padahal dalam Islam kewajiban berdakwah itu adalah tugas setiap muslim, bahkan Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa kita disuruh untuk menyampaikan walau hanya satu ayat. Anjuran Nabi Muhammad Saw tersebut memberi kesan bahwa dawah itu mudah, dakwah itu tidak harus dengan tenaga, dengan uang, dengan kepintaran yang lebih, tetapi dengan hafal sepotong ayat kit dapat berdakwah sesuai dengan kemampuan kita.”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imran:110).
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa sebagai umat terbaik adalah umat yang suka dan selalu memberi nasehat, memberi masukan positif, memberi ide brilian agar manusia lain bangkit dari keterpurukan dirinya dan kembali ke jalan Allah. Sebagai umat terbaik sebagai ayat tersebut adalah manusia yang aktif umat yang aktif dalam segala lini kehidupan. Aktif dalam konotasi yang positif, dengan jalan memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut serta dalam kehidupan yang lebh baik, kehidupan yang diridhoi oleh Allah. Di antara kehidupan tersebut adalah berdakwah, baik dengan lisan, tulisan maupun dengan perbuatan.
Dengan memposisikan dakwah dalam dimensi lisan, tulisan dan kerja aktif positif, maka dakwah tidak terpaku dan terjebak dalam pengertian dakwah secara sempit, yaitu mengkerdilkan ladang dakwah hanya pada posisi ceramah, dan khutbah saja, atau menyempitkan pelaku dakwah hanya terbatas ustad, buya dan kyai selain ustad, buya dan kyai tidak wajib dakwah. Dakwah akan mempunyai kesan yang baik, bukan monopoli, tetapi sebuah kegiatan positif yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Dakwah tidak menjadi sesuatu yang sulit. Dakwah tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, karena dakwah elah menyatu dalam kehidupan keseharian. Dakwah menjadi bagian dari rutinitas kerja aktif, dimana pun dan kapan pun. Dengan memposisikan dakwah secara benar dimungkinkan semua orang dapat melakukan dakwah secara aktif tanpa harus menjadi ustad, buya maupun kyai terlebih dahulu.
Kemudian, apakah dakwah seperti ini, atau dakwah tanpa menjadi ustad, buya atau kyai dapat memberi hidayah kepada orang yang didakwahi? Apakah orang akan menerima dakwah kita?apakah nanti tidak menjadiolok-olokan orang lain? Berbagai pertanyaan mungkin timbul, rasanya msutahil untuk berdakwah, sebab kita bukan ustad, buya apalagi kyai. Perlu diketahui bahwa untuk berdakwah dalam Islam tidak di batasi dengan atribut social keagamaan, tidak terbatas hanya kepada para ustad, buya maupun kyai, tetapi semua umat islam, hal ini dapat dicermati dari surat Ali Imran ayat 110 yang telah di kutip sebelumnya, dalam hadis Nabi Muhammad Saw pun telah dinyatakan bahwa “sampaikanlah dari kumeskipun hanya satu ayat,”[balligu anni walau ayah]. Dari ayat dan hadis tersebut dapat dipahami bahwa dakwah itu tugas semua muslim, tidak ada kecuali da tidak ada katagori.
Lebih dari itu, dalam dakwah kita tidak dituntut untuk berhasil, tetapi kita hanya di suruh oleh Allah untuk menyeru kepada kebaikan, menyeruke jalan yang benar, masalah tobat atau tiadk , mengenai dapat hidayah atau tidak itu bukan urusan kita, sebab yang akan memberi hidayah adalah Alllah Swt. Ustad, buya,kyai, dan semua muslim hanya diperintah untuk berdakwah. Dengan demikianlkalau kita sudajh berdakwah kemudian yang kita dakwahi tidak bertobat, atau tidak berubah maka kita jangan bersedih dan memaksa agar ia berubah, sebab yang memberi hidayah adalah Allah Swt. Yang memberi petunjuk dan menyesatkan hanyalah Allah Swt.” Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi.”( QS. Al-A’raf:178). Dari ayat tersebut makin jelas bahwa hidayah bukan urusan manusia, hidayah adalah hak paten Allah manusia tidak berhak ikut campur. Hidayah adalah kepunyaan Allah, sedangkan manusia hanya menjadi semacam jembatan penghubung kepada seseorang untuk menuju hidayah Allah tersebut. Dakwah adaah satu bentuk untuk mengingat manusia kepada Allah, menjadi semacam alat untuk menempuh hidayah tersebut. a
Untuk itu, sebagai manusia, sebagai orang beriman kewajiban kita hanya berdakwah, mengenai hasil itu kita kepada Allah Swt. Dengan menyerahkan semua hasilnya kepada Allah akan membawa diri kita kepada ketenangan batin,sebab kita tidak lagi memikirkan hasil dakwah, sebaliknya yang kita pikirkan adalah bagaimana dakwah kita diterima oleh orang kita dakwahi. Bagaimana dakwah kita menyentuh perasaan dan hati mereka,menyentuh dengan ayat-ayat Allah dan hadis Rasulullah saw. Allahu A’lam.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Mujadalah:11).
Allah akan mengangkat derajat orang berilmu dan beriman,berilmu dan beriman hanya dimiliki secara konsep oleh orang Islam, kenapa secara konsep dimiliki oleh orang Islam? Karena pada dasarnya Islam menghargaia ilmu dan sekaligus memberi kepercayaan dan keungulan kepada orang beriman yang berilmu. Kenapa orang beriman diberi keunggulan karena dengan ilmunya dan imannya pengetahuan dan keahliannya akan bermanfaat bagi diri dan orang lain. Kenapa harus bermanfaaat bagi diri dan orang lain? Jawabnya adalah karena Allah menyuruh untuk yang demikian,. Dengan ilmu dan imanlah pengetahuandan keahlian seseorang akan berdaya guna. Dengan ilmu dan imannya banyak orang mengambil manfaat dan sekaligus memberi manfaat bagi kebaikan dirinya.
Kenapa harus demikian kenapa orang berilmu harus mempunyai iman? Untuk menjawab hal tersebut perlu mencermati ayat tersebut sebelumnya (Mujadalah:11), dalam ayat tersebut digambarkan secara jelas bahwa hanya orang berilmu dan beriman yang akan diangkat derajatnya secara hakiki, bukan ilusi, derajat yang diberikan Allah kepada orang berilmu dan beriman merupakan sebuah penghargaan yang tinggi di sisi Allah. Berbeda halnya dengan orang berilmu tanpa iman, ia akan mendapatkan manfaat sedikit dari ilmu yang dikuasainya tanpa ada nilai tambah secara spiritual keakheratan, hal ini terjadi diantaranya adalah karena ia melepaskan antara ilmu dengan iman, sehingga secara konsep ia telah keluar dari Kriteria surat Mujadalah ayat 11 tersebut.
Maka jangan heran kalau orang berilmu tanap ada iman akan bertindak, berbuat dan berkata dan semua gerak geraiknya selalu membawa bencana, baik untuk diri dan lingkungnya. Kenapa selalu membawa bencana karena pada hakekatnya ilmu yang ia punya tidak mampu memberi cahaya kepada diri dan orang lain. Kenapa ilmunya tidak membawa cahaya? Karena ilmunya tanpa ada ruh iman, tanpa ada semangat iman sehingga ilmu menjadi redup dari esensi cahaya Ilahi. Maka tidak heran jika ilmu yang dikuasainya hanya membawa nestapa semua. Nestapa untuk diri dan orang sekelilingnya.
Nestapa diri dan orang lain akibat ilmu yang tidak ada ruh iman berakibat lebih lam dan tak berkesudahan, hal ini sangat mungkin terjadi karena ilmu yang ditularkan dan di berikan kepada orang laian tidak membawa esensi cahay Ilahi, esensi tauhid telah mati dalam jiwa imunya, ilmunya telah menjad sesosok mayat , yang dingin tanpa ada kesejukan salju iman.salju dalam ilmu hanya ada pada orang yang berilmu dan beriman. Ilmu yang dibalut dengan iman akan membawa rasa aman bagi diri dan orang lain.rasa aman ini timbul kaibat pancaran cahaya Tuhan yang ada pada ilmu itu. Pancaran tersebut akan selalu bersinar dikala yang memberi ilmu yang menerima ilmu selalu dalam koridor ketuhanan. Ketiak orang berlmu selaludalam kamar ketentuan Tuhan maka, segala perbuatan, tingkah laku, tutur kata dan segala aktifitasnya akan membawa sejuta angin surga, membawa salju kesejukan bagi semua. Kenapa salju ada dalam ilmu? Karena ilmu tersebut disertai cahaya Tuhan, esensi kebenaran dan keagungan Ilahi terpancar dan menjadi semacam ruh ilmu.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

Hidupkanlah hatimu dengan sedikit tertawa dan sedikit kenyang dan sucikanlah ia dengan lapar, pasti hatimu menjadi bersih dan lembut.”(Hadis). Lapar merupakan satu dari cara para sufi untuk melemahkan syahwat atau keiginan-keinginan. Termasuk juga untuk membersihkan hati dan melembutkannya. Mengosongkan perut merupakan jalan untuk menghambat laju keinginan-keinginan/syahwat. Rasulullah selalu mengutamakan lapar daripada kekenyangan, Rasulullah makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tetapi kalau kita rujuk pada sejarah Rasulullah, kita dapat menemukan fakta bahwa Rasulullah banyak laparnya daripada kenyangnya, kalaupun makan Rasulullah tidak sampai kekenyangan.

Tetapi, Kalau kita perhatikan di sekitar kita banyak orang tidak sabar menghadapi cobaan lapar, makanan dan minuman lezat, manusia banyak tergoda dan terjebak, sehingga ada kecenderungan mengabaikan norma agama. Demi makan dan minum orang bertengkar, berkolusi, korupsi, merampok, mencopet dan masih banyak lagi usaha manusia yang kotor untuk memenuhi isi perut dan keinginan-keinginannya (Syahwatnya). Orang miskinpun terkadang tidak tahan dengan kemiskinannya, lapar yang ia rasakan tidak dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal Allah menyukai orang-orang lapar, yang dengan kelaparannya itu ia ikhlas dan tetap berusaha tanpa mengeluh dan selalu berusaha berdoa dan mendekatkan dirinya kepada Allah, dijadikannya lapar yang menimpa dirinya sebagai jalan memperbaiki jiwanya, sehingga Allah ridho dan berbangga kepadanya.

Allah berbangga kepada manusia lapar, lapar merupakan cobaan besar bagi manusia. Cobaan dilewatinya dengan penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah, maka Allah akan bangga kepada manusia tersebut, bahkan Allah akan memberi derajat-derajat yang tinggi di dunia apalagi di akherat,”Sesungguhnya Allah Taala berbangga kepada para malaikat dengan yang sedikti makanannya dan minumnya di dunia. Allah Swt berfirman: Lihatlah kepada Hamba-Ku! Aku telah mencobanya dengan makanan dan minuman di dunia, lalu ia sabar dan meninggalkan makanan dan minuman itu. Saksikanlah hai malaikatKu! Tidaklah satu makan yang ia tinggalkannya melainkan Aku menggantinya dengan derajat-derajat di surga,”(HR. Ibnu Adi).

Hadis di atas, memberi harapan dan kesempatan bagi mereka yang suka lapar dan mencoba diri untuk menahan diri untuk tidak kenyang, makan dan minum hanya sekedar untuk hidup, makan dan minum bukan tujuan utama, sebab memenuhi perut adalah keburukan, kegelapan dan kebuntuan spiritual, tabir yang akan menghalangi kita bermunajat kepada Allah, untuk itu lebih baik sedikit saja kalau mampu, kalau tidak makan sekedarnya, minum sekedarnya sehingga perut kita mampu menampung sesuai kebutuhan dan ada tersisa ruang untuk bernafas.”Tiadalah anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap kecil yang menegakkan tulang pungunnya. Kalau tidak mampu, maka sepertiga perut untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan seprtiga untuk nafanya.”(HR. Turmudzi).

Orang yang lapar karena Allah, haus karena Allah kesedihan karena lapar tetapi ia tetap bertakwa kepada Allah, maka orang tersebuit pada hari kiamat akan menjadi manusia yang dekat kepada Allah.”Orang yang dekat di sisi Allah kelak di hari kiamat adalah orang yang ketika di dunia lapar, dahaga dan kesedihannya lama yang berjalan tanpa alas kaki, yang bertakwa..”(HR.Al-Khatib dari Said bin Zaid).

Bahkan, ketika kita mati dalam keadaan lapar, maka Allah memberi kemulian dan kedudukan tinggi bersama para Nabi Allah, malaikat menyambut dengan gembira, serta mendapat rahmat Allah,”Mudah-mudahan kematian datang kepadamu dalam keadaan perutmu lapar dan hatimu hatimu haus, maka lakukanlah. Sesungguhnya kamu dengan demikian itu memperoleh kemuliaan kedudukan dan tempat tinggal bersama para nabi, para malakat bergembira menyambut kedatangan ruhmu, dan Tuhan Yang Maha Perkasa melipahkan rahmat kepadamu.”(HR. Al-Khatib dari said bin Zaid).

Ironisnya, dalam hidup ini sering menyalahartikan bahwa hidup akan bahagia kalau sudah makan dan minum dengan kenyang, apakah dengan cara menipu atau dengan cara haram lainnya, padahal kalau manusia menyadari hikmah dan keutamaan lapar, tentu hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Ia hidup apa adanya, meskipun kaya tetapi tidak pamer harta, tidak tebar pesona, biar semua orang melihat dan berdecak kagum, sebab ia sadar bahwa kesederhaan dan kedermawanan akan memberinya peluang untuk memasuki hikmah langit,”pakailah kain bulu sisingkanlah lengan bajumu dan makanlah setengah perut, nisaya kamu memasuki kerajaan langit.”(HR.Al-Hasan dari Abu Hurairah).

Kenyang tidak menjamin spiritual manusia menjadi baik, kenyang tidak menjamin hidup dan jiwa manusia tenang, tetapi dengan mengatur makan dan banyak lapar karena Allah yang akan mengantarkan manusia kepada ketenganan jiwa, kenyang hanya akan menjadi jalan bagi setan untuk masuk ke dalam aliran darah kita, sebaliknya dengan lapar akan menghambat laju dan pintu masuk bagi setan,”Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh manusia melalui jalan darah, maka sempitkanlah jalan-jalanya itu dengan lapar dan dahaga.”(Hadis)

Orang kenyang susah berfikir dan terkadang mengantuk, dalam pandangan sufi orang seperti ini tergolong orang tercela sebab dengan mengantuk dan tidak dapat memfungsikan otanya dengan baik, maka secara umur ia merugi karena tidak mampu mengoptimalkan potensinya dengan baik dan maksimal, lebih bahayanya lagi orang yang selalu kenyanag akan masuk pada jajaran orang munafik, sebab orang munafik itu selalu memenuhi tujuh ususnya, sedangkan orang mukmin hanya memenuhi satu ususnya, dalam artian ia lebih mementingkan makanan atau urursan dunianya daripada akherat, atau setidaknya menyeimbangkan keduanya.”Orang beriman itu makan dalam satu usus, dan orang munafik itu makan dalam tujuh usus.”(HR. Bukhari Muslim).

Hadis di atas, mengandung makna bahwa orang munafik itu lebih mementingkan makan atau mementingkan urusan dunia. Dengan banyak makan tentunya keinginannya makin tinggi (Syahwatnya), jadi orang munafik mempunyai tujuh kali keinginan/ syahwat dibanding orang yang beriman. Kata usus merupakan kiasan dari nafsu syahwat, karena pada hakekatnya nafsu syahwat menampung semua makanan manusia.

Kita hendaknya mencontoh Rasulullah, Rasullullah pernah sampai tiga hari tidak makan, dan pada hari ketiga baru makan itupun ketika fatimah ra. Memberikan sepotong roti kepada Rasulullah.”Fatimah ra. Datang dengan membawa sepotong roti untuk Rasulullah Saw. Lalu Rasululah bertanya,”Apa. Ini? Fatimah menjawab,”sepotong roti yang kubuat dan hatiku tidak enak sehinga aku membawa sepotong roti ini untukmu ,ayah.”Rasulullah Saw. Bersabda, ”Ketahuilah, sesungguhnya inilah makan pertama yang masuk ke dalam mulut ayahmu sejak tiga hari.”(HR. Al-Harits bin Abi Usamah).

Dari hadis di atas, dapat kita pahami bahwa kehidupan Rasululah lebih banyak lapar daripada kenyangnya, bahkan dalam hadis lainya Rasulullah tidak pernah mengenyangkan keluarganya selama tiga hari berturut-turut dari rioti dans ekalipun sampai ia meninggal dunia,”(HR. Muslim)..

Kesadaran dalam kelaparan hendaknya menjadi bagian dari kehidupan kita, dengan laparlah kita mendekatkan diri kepada Allah, dengan lapar kita akan dekat kepada Allah, ridho Allah , hikmah akan dapat kita miliki, namun sebaliknya jika kenyang saja yang kita perturutkan, maka kehidupan akan menjadi gelap, sempit, kegelisahan batin, kekasaran hati dan terjauh dari hikmah dan nikmat ketenangan batin, bahkan kita dibenci oleh Allah, sebaliknya orang yang lapar dicintai oleh Allah, orang yang kenyang di dunia diakherat akan menjadi orang yang lapar, sebaliknya orang yang lapar di dunia akan kenyang di akherat, dan mendapatkan surga,”Sesungguhnya orang yang lapar didunia adalah mereka yang kenyang di akherat dan sesungguhnya orang-orang yang paling dibenci Allah adalah orang-orang yang banyak makan serta penuh perutnya. Dan tidaklah seorang hamba meninggalkan suatu makanan yang diinginkan melainkan ia mendapatkan derajat surga,”(HR. Thabrani).

Menjadi orang yang lapar, makan sekedarnya adalah lebih utama, sebab dengan lapar kita akan dicintai oleh Allah, mungkin selama ini kita merasa lapar adalah suatu kesusahan, kesedihan dan ketersiksaan badan dan jiwa, tetapi itu hanya sesaat saja, itu semua akan hilang ketiak kita menyadari bahwa lapar membawa hikmah yang sangat besar, dan hikmah itu tidak dirasakan oleh siapapun kecuali orang yang lapar.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa lapar mempunyai sepuluh hikmah yaitu, pertama, menjadikan hati bersih, bercahaya yang tercermin dari akhlak, serta mampu menajamkan mata hati. ”Hiduplahkanlah hatimu dengan sedikti tertawa dan sedikit kenyang dan sucikanlah ia dengan lapar, pasti hatimu menjadi bersih dan lembut.”Nabi juga bersabda, Barang siapa melaparkan perutmnya, pasti pikirannya luas dan hatinya cerdas,”. Barangsiapa kenyang dan tidur, pasti hatinya keras.”kemudian beliau bersabda lagi,”Setiap itu mempunyai zakat dan zakatnya badan adalah lapar.”(HR. Ibnu Majah). kedua, membuat hati menjadi lembut dan bersih, sehingga dengan kebersihan dan kelembutan hatinya ia siap untuk berdzikir kepada Allah dan menikmati serta merasakan nikmatnya berzikir kepada Allah. Ketiga, dapat menghancurkan sifat kesombongan. Keempat, dengan lapar ia tidak melupakan bencana Allah dan siksa-Nya, dan tidak melupakan orang-orang yang menerima siksaan. Sehingga ia akan hati-hati dalam hidup ini. Kelima, menghancurkan nafsu syahwat dan mengendalikan hawa nafsu. Keenam, lapar dapat mencegah seseorang tidur sehingga dapat membantunya untuk selalu beribadah di malam hari. Ketujuh, lapar dapat memudahkan seseorang untuk beribadah. Kedelapan, dengan lapar akan menyehatkan seseorang dan tidak mudah terkena penyakit. Kesembilan, dengan lapar orang akan menjadi hemat, ia akan hidup sederhana, sehingga hartanya dapat dialihkan untuk bersedekah. Kesepuluh, dengan lapar akan mendorong seseorang lebih mementingkan orang lain, gemar bersedekah, memberi makan orang miskin dan anak-anak yatim. Allahu Alam.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat
(Guru PAI SMPN 21 Padang)
Radikalisme keagamaan sering disebut dengan at-tatharuf ad-diny. At-tatharuf secara bahasa mengandung arti berdiri di ujung, atau jauh dari pertengahan. Dapat juga diartikan berlebihan dalam berbuat sesuatu. Pada awalnya kata at-tatharuf di artikan untuk hal hal yang bersifat konkrit kemudian dalam perkembangan bahasa makna at-tatharuf juga bermakna hal-hal yang bersifat abstrak.seperti berlebihan dalam berfikir, berbuat, beragama. Dengan demikian at-tatharuf ad-diny adalah segala perbuatan yang berlebihan dalam beragama. Kalau ditilik darai segi ajaran Islam, ternyata Islam lebih menyukai kehidupan, alur pemikiran moderat. Atau dalam istilah Al-Quran disebut dengan wasathiyah. Wasatiyah dalam beragama lebih disukai oleh di banding dengan sikap berlebih-lebihan. Sikap moderat dalam Islam didasarkan kepada firman Allah,” Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.(QS. Al-Baqarah:143).
Ayat ini mengandung pokok pemikiran bahwa umat Islam hendaknya menjadi penengah yang adil, menjadi saksi dengan adil, menjadi umat yang moderat, tidak terlalu keras, tidak terlalu lunak, tidak terlalu ke kanan Islam maupun ke kiri Islam. Dalam hadis dinayakan bahwa Rasulullah melarang sikap berlebihan dalam beragama, karena yang berlebihan dalam beragama akan hancur.” Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, sesunggguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam beragama.(HR. Ahmad).
Meskipun dalam ayat ersebut dicontohkan umat terdahulu, tetapi untuk umat Islam sekarang hal itu tentu juga berlaku. Karena berlebihan dalam beragama akan menghancurkan diri mereka sendiri. Kemudian bagaimana dengan radikalisme dalam beragama di Indonesia. Gerakan radikal di Indonesia di pengaruhi oleh gerakan wahabi dan dan gerakan modernisme Muhammad Abduh. Gerakan Wahabi diilhami oleh pemikiran Ibnu Taimiyah, Ibnu Taimiyah sebagai pencetus ide gerakan salaf, kemudian dikuatkan dengan pemikiran Ahmad bin Hanbal. Kemudian pada kurun berikutnya Muhammad Abduh membidani Modernisme di Mesir pada abdad ke -19. Muhammad Abduh dikenal sebagai tokoh pembaharu di dunia Islam dan Mesir pada khususnya. Muhammad Abduh melakukan gerakan modernisme bukan radikalisme, tetapi dalam perkembangan berikutnya, tjuan modernisme dipersempit oleh murid-murid Muhammad Abduh, menurut Jajang Jahroni dan Jamhari murid-murid Abduh terjebak kepada semangat salafi yang sempit. Sehingga akhirnya muncul varian-varian baru yang bertolak belakang dengan ide modernisme Muhammad Abduh. Tidak heran jika ada pakar yang menyatakan bahwa Ali Abdurraziq adalah “Abduh kiri” dan Hasan Al-Banna “Abduh kanan.”
Ketika gerakan gerakan tersebut berkembang ke dunia Islam, dunia Islam pada waktu itu masih dalam cengkeraman penjajah. Umat Islam masih berjuang untuk menentukan nasib mereka dari tangan penjajah. Di sisi lain, umat Islam menghadapi kemiskinan kebodohan dan kegelapan peradaban. Hal ini terus berlangsung mulai akhir abad 19 sampai awal abad 20, kolonialisme, modernisme dan sekulerisme, serta dominasi Barat atas dunia Islam. Menghadapi perubahan yang begitu cepat umat Islam kewalahan, akhirnya umat Islam etrpuruk di ingir-pinggir peradaban dunia. Baik secara politik, ekonomi, mapun social. Ketidakmampuan mengadapi keadaan dan realitas tersebut umat Islam larut dalam keberagamaannya. Berpaling kepada agama merupakan sikap melarikan diri karena ketidakmampuan mengikuti perkembangan tersebut dan ketidakmampuan menghadapi dan melenyapkan kolonialisme, sekulerisme dan modernisme yang di bawa peradaban Barat.
Berbagai ketakutan dan kekhawatiran menyerang hati umat Islam. Keadaan ini memberikan semacam kesadaran beragama, dan mereka berusaha mencari legitimasi terhadap keberagamaan mereka, karena mereka beranggapan melawan peradaban yang rusak dan bertentangan dengan alur pemikiarn mereka adalah keharusan. Dengan lari kepada agama mereka merasa lebih nyaman, dan mereka juga mencoba mencari legitimasi terhadap ekapisme yang dilakukannya.
Menurut Jamhari dan Jajang Jahroni gerakan salafi radikal di Indonesia selain factor-faktor pemikiran pemikiran Abduh dan gerakan Wahabi juga di sebabkan oleh gagalnya Negara memberi pelayanan terhadap masyarakat. Factor lainnya adalah ada keinginan untuk mendirikan kekhalifahan, dipihak lain ada keinginan untuk menegakkan syariat Islam, diantara gerakan radikal Islam di Indonesia adalah Fron Pembela Islam (FPI), yang menginginkan formalisasi syariat islam, termasuk juga Laskar Jihad, meskipun demikian Laskar Jihad agak berbeda dengan Front Pembela Islam, Laskar Jihad lebih kea rah idiologi salaf. Kemudian ada juga Hizbuttahrir yang menginginkan seluruh dunia Islam berada dalam satu kekhalifahan yang gerakan politiknya bersifat trans nasional.
Kemudian muncul pertanyaan apa sebenarnya idiologi yang mereka usung, menurut John L. Esposito, paling tidak ada beberapa landasan idiologi yang di ususng oleh gerakan-gerakan radikal tersebut, pertama, gerakan radikal memandang bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh dan bersifat totalitas. Dengan sifat totalitas dan komprehensif tersebut berarti Islam meliputi segala aspekkehidupan, seprti politik, budaya, ekonomi hokum dan kemasyarakatan. Kedua, mereka mengklaim bahwa idiologi Barat adalah sekuler dan materialisis sehingga perlu ditolak. Ketiga, gerakan ini cenderung kembali kepada ajaran Islam, dengan kembali kepada Islam segala perubahan social dapat dilakukan. Keempat, karena idiologi Barat ditolak mentah-mentah, maka semua produk hokum dari Barat juga harus ditolak. Kelima, gerakan ini menginginkan aturan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dan Sahabat serat masa-keemasan Islam, tetapi kelompk ini juga tidak menolak modernisme. Keenam, gerakan ini berkeyakinan bahwa islamsasi masyarakat tidak akan erwujud jika tidak ada wadah gerakan dan organisasi yang kuat.
Dari paparan tersebut tergambar dengan jelas bahwa pada dasarnya idiologi yang mereka bawa adalah baik, tetapi ironisnya dalam realitas keseharian radikalisme lebih menjurus kepada keberagamaan yang negatif dan penuh kekerasan? Padahal yang mereka inginkan adalah gerakan yang menginginkan umat Islam kembali kepada ajaran Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw, tetapi di sisilain, perbuatan melawan ajaran islam juga dilakukan?. Adanya penyimpangan makna radikal dalam beragama yang negative inilah yang memprihatinkan, karena pada dasarnya umat Islam hendaknya beragama secara radikal dalam konotasi positif, yaitu beragama yang menyeluruh, dan fanatik. Keadaan ini diperparah oleh para orientalis yang mengkonotasikan fundamentalisme, radikal dan fanatisme beragama dengan kekerasan, kebrutalan. Radikal dan fundamental dalam konotasi negative inilah yang berkembang dan di masyarakat luas, di sisi lain, ada gerakan yang menyalahartikan radikalisme dan fundamentalisme dalam beragama indentik dengan pemaksaan dan kekerasan. Penyalahgunaan fundamentalisme dalam beragama juga mendapatkan kritik dari Yusuf Qardhawi, beliau menyatakan bahwa fundamentalisme hendaknya jangan diterjemahkan secara feksibel dan disalahgunakan untuk melegimitasi perbuatan atas nama agama., sehingga muncul radikal kanan, radikal kiri, Islam kiri islam kanan.
Lebih lanjut Yusuf Qardhawi menyatakan bahwa umat Islam, baik salaf maupun khalaf radikal pada dasarnya adalah kembali kepada ajaran Allah dan Rsul-Nya, Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. An-Nisa:59). Jika berselisih dalam suatu permasalahan maka tempat kembalinya adalah Al-Quran dan Hadis. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada masalah yang tidak terselesaikan, dan yang tidak pernah berakhir adalah masalah itu sendiri.
Jika radikalisme dan fundamentalisme dalam beragama hanya berdasarkan pikiran dan hawa nafsu maka hal itu akan banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam pengejawantahannya. Di lain pihak gerakan-gerakan dalam Islam akan bermacam-macam coraknya sesuai dengan kehendak nafsunya sendiri. Kalau hal ini terjadi maka kebinasaan, kesengsaraan dan kerusakan akan timbul.” Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.”(QS. Al-Mu’minun:71).
Apabila Front Pembela Islam(FPI) dianggap radikal, fundamental itu boleh-boleh saja, itu hak siapa saja untuk berpendapat, kalaupun ingin mengklaim bahwa FPI adalah gerakan keras, radikal, itu sesuatu yang wajar, yang tidak wajar adalah menyalahkan FPI tanpa melihat latar belakang kenapa hal itu terjadi, mengapa terjadi, untuk apa kekerasan? Peristiwa monas merupakan akumulasi saja darai berbagai dilemma bangsa ini yang tidak kunjung ada penyelesaian yang adil. Kejadian monas merupakan implikasi dari rapuhnya kesetiaan dan ketaatan kepada hokum. /www.hariansinggalang.co.id

Read Full Post »

Older Posts »