Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Pendidikan’ Category

Oleh: Riwayat

Nabi Yusuf adalah putera ke tujuh dari dua belas putera-puteri Nabi Ya’qub. Ia dengan adiknya bernama Benyamin dengan bernama Rahil, saudara sepupu Nabi Ya’qub. Ia dikurniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara- saudaranya yang lain, terutamanya setelah ditinggalkan ibu kandung Rahil semasa ia masih berusia dua belas tahun.

Dalam surat Yusuf diinformasikan berbagai macam cobaan, derita yang dialami oleh nabi Yusuf.

Pertama: kebencian saudaranya sendiri. Ini adalahcobaan pertama dalam hidup nabi Yusuf. Ia dibenci oleh saudaranya sendiri saat masih kanak-kanak. Kebencian  berawal dari rasa iri hati atau dengki para saudara Yusuf yang merasa bahwa ayah mereka lebih menyayangi sang adik.

Kedua: dibuang ke dalam sumur. Api kebencian membaut saudara–saudara Yusuf nekat mencelakakan adiknya sendiri. Mereka pun sengaja membuang Yusuf ke dalam sumur.  Tujuan membuang ini adalah untuk membunuh sang adik.

Ketiga: terpisah dari keluarga: ketika Yusuf As. Dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya, Yusuf dipaksa berpisah dari keluarganya.  Hal ini makin membuat Yusuf menderita karena pada waktu  dibuang ke dalam sumur, Yusuf  usianya baru 12 tahun.

Yusuf dalam kesendirian, jauh dari keluarganya.

Keempat: menjadi budak, setelah Yusuf selamat dari maut, Yusuf diselamatkan oleh kafilah dari lobang sumur kemudian ia dijual sebagai seorang budak. Ia yang semula merdeka dan anak nabi Yaqub dipksa menjadi hamba sahaya yang tidak mempunyai kebebasan.

Kelima: rayuan dan godaan. Ketika Yusuf beranja dewasa, maka cobaan yang dihadapinya menjadi semakin berat. Yaitu , cobaan menghadapi rayuan dan godaan dari lawan jenis. Salah satunya adalah godaan yang dilakukan oleh istri majikannya sendiri yang cantik dantinggal seatap dengannya, Zulaihah. Beratnya cobaan ini semakin terasa karena Yusuf pada waktu itu berada di masa muda yang penuh gejolak.

Keenam: Fitnah. Cobaan keenam yang diterima Yusuf karena ia menolak mengikuti ajakan penuh nafsu sang istri majikan. Maka ketika sang suami memergoki ulah istrinya, dan Yusuf membeberkan kejadian yang sebenarnya, maka anak nabi Yaqub itu pun terpaksa dipenjara dengan tuduhan telah melakukan penghinaan. Tentu saja, tuduhan tersebut palsu demi menyelamatkan nama baik di majikan. Yusuf telah difitnah.

Ketujuh: masuk penjara. Akibat fitnah majikan, yusuf terpaksa menjadi penghuni penjara selama beberapa tahun. Meski ia tidak mendapat perlakuan kejam di dalam penjara, tetapi hidup di dalam penjara tetap saja berat. Terlepas dari itu, yang membuat cobaan ini lebih berat adalah ia harus menerima tuduhanpalsu yang difitnahkan atas dirinya selama di penjara.

Kedelapan: nikmat dan kekuasaan. Setelah didera derita bertubi-tubi, Allah SWT. Kemudian mengubah jalan hidup Yusuf kea rah lebih baik dari sebelumnya. Bahkan Yusuf menjadi orang kaya dan mempunyai kekuasaan. Ia mempunyai kesempatan dan memiliki semua yang ia inginkan. Meski selintas sebagai nikmat, tetapi sesungguhnya ini adalah satu diantara bentuk cobaan Allah SWT. Yusuf hendak diuji apakah ia mampu berpegang teguh pada prinsipnya dan tetap mengingat Allah SWT di tengah gelimang  kemakmuran dan kesenangan.

Kesembilan: memaafkan saudara-saudaranya. Sungguh memaaafkan jauh lebih berat daripada meminta maaf. Yusuf memaafkan saudaranya yang  jahat dan ingin membunuhnya. Tentu hal ini suatu keadaan yang berat kecuali orang yang mempunyai kahlak yang agung. Yusuf bukan sekedar memaafkan saudara-saudaranya yang jahat, akan tetapi membalas kejahatan saudara-saudaranya dengan kebaikan yang tidak terkira.

Kesepuluh: perubahan nasib yang lebih baik.yang dihadapi nabi Yusuf sesungguhnya merupakan rangkaian cobaan yang  berat. Cobaan demi cobaan silih berganti. Perubahanyang cepat dan silih berganti, dari kasih sayang orang tua menuju kesepian diri, dari kesengsaraan  kesenangan, dari kemiskinan menuju ke harta yang berlimpah dan kekuasaan yang tinggi.

Iklan

Read Full Post »

  1. 1.      Motivasi

Motivasi berasal dari kata motif, yang mempunyai arti alasan seseorang melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi berarti kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak melakukan tindakan dengan tujuan tertentu, dapat juga berarti usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena  ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.[1]

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa motif bersifat batiniah, karena hanya yang bersangkutan yang mengetahui motif yang diniatkan, sedangkan orang lain tidak mengetahui, kalaupun mengetahuai hanya bersifat menebak dan mengetahui gejala-gejala, akan tetapi kebenarannya belum dapat dipastikan. Dengan arti lain, motif masih tersembunyi di dalam diri seseorang. Motif akan dapat diketahui ketika yang bersangkutan mengungkapkannya kepada orang lain. Atau dapat diketahui dengan jalan penyelidikan dan penelitian.

Berdasarkan  arti tersebut dapat dimengerti motivasi terkait erat dengan psikologis, gejala-gejala psikologis yang pada akhirnya menjadi semacam kekuatan dan semangat untuk melakukan sesuatu tindakan dalam mencapai yang diinginkan. Motivasi juga  terkait erat dengan sikap kepemimpinan, didalam pengertian tersebut tersirat bahwa manajer mempunyai peran untuk membangkitkan, menggerakkan bawahannnya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatau. Dengan kata lain  manajer mempunyai peran sebagai motivator bagi bawahannya dalam rangka meningkatkan kinerja.

Hikmat menyatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan terjadinya tindakan atau disebut dengan niat.[2] Hal ini memberi kesan bahwa motivasi merupakan awal dari respon seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Terry sebagaimana dikutip Marno dan Triyo Supriyatno mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang merangsang untuk melakukan tindakan-tindakan.[3] Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa motivasi berasal dari dalam diri seseorang, atau bisa juga berasal dari luar diri.

Bagaimana  hubungannya dengan manajerial dan motivasi  dalam kepemimpinan? Apakah dorongan-dorongan yang mereka lakukan kepada anak buahnya mempunyai pengaruh atau sebaliknya tidak memberi efek signifikan? Jika halnya demikian, maka pada  dasarnya munculnya motivasi kemungkinan ada dua sumber pertama dari diri sendiri, kedua dari luar diri. Jika hal ini benar, maka peluang untuk memotivasi dari luar mendapatkan tempatnya.

Nancy Stevenson mendefinisikan motivasi sebagai insentif, dorongan, atau stimulus untuk bertindak, semua hal yang verbal, fisik atau psikologi yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respon.[4]Muhammad Utsman Najati menyatakan motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup. Motif akan melahirkan perilaku dan mengantarkan makluk hidup pada suatu tujuan.[5] Dapat dipahami bahwa motivasi merupakan sesuatu hal yang menjadi energy pendorong seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Kalau halnya demikian, maka setiap perbuatan  patut diduga ada motif-motif tertentu yang membuat seseorang termotivasi melakukan sesuatu.

Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab mendefinisikan segala sesuatu  yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan. John Adair mendefinisikan motivasi  kemampuan umum untuk menggerakkan atau menggairahkan orang agar bertindak.[6] Eugene J. Benge menyatakan motivasi adalah apa saja yang perilaku. Seperti manajer memberikan motivasi dengan cara mengambil tindakan-tindakan yang menyebabkan karyawan penyelia, pelanggan berkelakuan dengan yang yang menguntungkan.[7]

Dari pembahasan sebelumnya dapat dipahami bahwa motivasi adalah kegiatan apapun yang mampu memberi pengaruh terhadap kinerja yang mempunyai kaitan erat dengan tercapainya tujuan bersama. Jika dihubungan dengan pendidikan Islam, maka manajer atau pemimpin dalam lembaga pendidikan hendaknya mampu memberi ruang dan memberi peluang munculnya motivasi dalam diri bawahannya.  Jika bawahan dan semua komponen dalam sebuah institusi mempunyai motivasi yang sama dalam melakukan sesuatu, maka tujuan dari lembaga, organisasi akan terwujud.


[1]Tim Reality,Kamus terbaru Bahasa Indonesia,(Surabaya: Reality Publisher, 2008), h.456

[2]Hikmat,Manajemen Pendidikan,( Bandung: Pustaka Setia,2009), h. 271

[3]Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam,(Bandung, PT. Refika Aditama,2008), h. 21

[4]Nancy Stevenson, Seni Memotivasi, ( Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2001), h. 2

[5]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Quran, (Badung: Pustaka Setia, 2005), h.23

[6]John Adair,Menjadi Pemimpin Efektif, judul asli,”Effective Leadership, A Self Development,”penerjemah Lembaga PPM dan  PT Pustaka Binaman Pressindo,(Jakarta:PT Binaman Pressindo,1994), h.177

[7]Eugene J. Benge, Pokok-Pokok Manajemen Modern,judul asli,”Elements of Modern management,penerjemah Rochmulyati Hamzah,”(Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo, 1994), h. 98

Read Full Post »

Accelerated learning (A.L) adalah cara belajar, akaranya telah tertanam sejak zaman kuno. AL telah dipraktekkan oleh setiap anak yang dilahirkan, sebagai suatau gerakan modern yang mendobrak cara belajar dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur dalam budaya Barat.

Banyaka factor yang memberi sumbangan penting terhadap perkembangan AL, baik dari segi filosofis, metode maupun aplikasi dari AL, di antaranya adalah:

  1. ilmu kognitif modern, terutama penelitian tentang otak dan belajar, yang telah membongkar asumsi lama kita tentang pebelajaran.
  2. penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dengan cara yang berbeda-beda.
  3. tumbangnya pandangan dunia bahwa dunia atau alam bekerja seperti mesin, secara otomatis patuh pada proses yang mandiri, linear, langkah dei langkah dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi inspirasi bahwa segala sesuatu saling terkait.
  4. evolusi yang berlangsung lambat laun dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi budaya yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.
  5. runtuhnya behaviorisme sebagai psikologi yang dominant daam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan praktik-praktik yang lebih manusiawi.
  6. beberapa gerakan pararel pada abad 20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternative.
  7. kebudayaan dan keadaan tempat kerja yang selalu berubah telah mebuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dasn usang, sehingga membuak peluang pendekatan baru.

Gerakan AL makin meluas di Amerika, Kanada dan negara lain di dunia.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

1. Teori Disiplin Mental

Sebelum abad ke-20, telah berkembang beberapa teori belajar, salah satunya adalah teori disiplin mental. Teori belajar ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen, dan ini berarti dasar orientasinya adalah “filosofis atau spekulatif”. Tokoh teori disiplin mental adalah Plato dan Aristoteles. Teori disiplin mental ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa harus didisiplinkan atau dilatih.

2. Teori Behaviorisme

Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molekular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsur-unsur seperti halnya molekul-molekul. Beberapa ciri dari rumpun teori ini, yaitu:

a. Mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil

b. Bersifat mekanistis

c. Menekankan peranan lingkungan

d. Mementingkan pembentukan reaksi atau respons

e. Menekankan pentingnya latihan

Ada beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun behaviorisme ini, antara lain:

a. Teori Koneksionisme

Menurut teori belajar ini, belajar pada hewan dan pada manusia pada dasarnya berlangsung menurut prinsip-prinsip yang sama.

Selanjutnya, dalam teori koneksionisme dikemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut:

1) Hukum Kesiapan (Law of Readiness)

Dimana hubungan antara stimulus dan respons akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Implikasi praktis dari hukum ini adalah, bahwa keberhasilan belajar seseorang sangat tergantung dari ada atau tidak adanya kesiapan.

2) Hukum Latihan (Law of Exercise)

Hukum ini menjelaskan kemungkinan kuat dan lemahnya hubungan stimulus dan respons. Implikasi dari hukum ini adalah makin sering suatu pelajaran diulang, maka akan semakin dikuasainya pelajaran itu.

3) Hukum Akibat (Law of Effect)

Hukum ini menunjuk kepada kuat atau lemahnya hubungan stimulus dan respons tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya. Implikasi dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar seseorang dapat mengulangi respons yang sama, maka harus diupayakan agar menyenangkan dirinya,

b. Teori Pengkondisian (Conditioning)

Teori pengkondisian (conditioning) merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan Pavlov (1849-1936). Ia adalah ahli psikologi-refleksologi dari Rusia.

c. Teori Penguatan (Reinforcement)

Kalau pada teori pengkondisian (conditioning) yang diberi kondisi adalah perangsangnya (stimulus), maka pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya. Seorang anak yang belajar dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ulangan atau ujian, maka guru memberikan penghargaan pada anak itu dengan nilai yang tinggi, pujian, atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini, maka anak tersebut akan belajar lebih rajin dan lebih bersemangat lagi. Hadiah itu me-reinforce hubungan antara stimulus dan respons.

d. Teori Operant Conditioning

Psikologi penguatan atau “operant conditioning” merupakan perkembangan lebih lanjut dari teori koneksionisme dan “conditioning”. Tokoh utamanya adalah Skinner. Skinner adalah seorang pakar teori belajar berdasarkan proses “conditioning” yang pada prinsipnya memperkuat dugaan bahwa timbulnya tingkah laku adalah karena adanya hubungan antara stimulus dengan respons.

3. Teori Cognitive Gestalt-Filed

Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Menurut teori ini, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons.

Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.

Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental. Rumpun psikologi Gestalt bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu, alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan.

Beberapa prinsip penerapan teori belajar ini adalah:

a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan

Teori Gestalt menganggap bahwa keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya berarti apabila ada dalam keseluruhan. Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta.

b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan

Prinsip ini mengandung pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Oleh karenanya mengajar itu bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas, tetapi mengembangkan keseluruhan potensi yang ada dalam diri anak.

c. Belajar berkat insight

Telah dijelaskan bahwa insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.

d. Belajar berdasarkan pengalaman

Pengalaman adalah kejadian yang dapat memberikan arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu.

C. Prinsip-Prinsip Pengajaran

Tugas guru mengelola pengajaran dengan lebih baik, efektif, dinamis, efisien, ditandai dengan keterlibatan peserta didik secara aktif, mengalami, serta memperoleh perubahan diri dalam pengajaran. Ada beberapa prinsip pengajaran diantaranya adalah:

Prinsip Aktivitas

Pengalaman belajar yang baik hanya bisa didapat bila peserta didik mau mengaktifkan dirinya sendiri dengan bereaksi terhadap lingkungan. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun aktivitas psikis. Aktifitas fisik adalah peserta didik giat dan aktif dengan anggota badan. Dalam prinsip ini, maka tugas guru dalam mengajar antara lain:

Prinsip Motivasi

Motivasi berasal kata motive–motivation yang berarti dorongan atau keinginan, baik datang dari dalam diri (instrinsik) maupun dorongan dari luar diri seseorang (ekstrinsik). Motif atau biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa, yang mendorongnya untuk berbuat dalam mencapai suatu tujuan. Beberapa cara untuk menumbuhkankembangkan motivasi pada siswa adalah:

Prinsip Individualitas (Perbedaan Individu)

Setiap manusia adalah individu yang mempunyai kepribadian dan kejiwaan yang khas. Secara psikologis, prinsip perbedaan individualitas sangat penting diperhatikan karena:

a. Setiap anak mempunyai sifat, bakat, dan kemampuan yang berbeda

b. Setiap individu berbeda cara belajarnya

c. Setiap individu mempunyai minat khusus yang berbeda

d. Setiap individu mempunyai latar belakang yang berbeda

e. Setiap individu membutuhkan bimbingan khusus dalam menerima pelajaran yang diajarkan guru sesuai dengan perbedaan individual

f. Setiap individu mempunyai irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda

Maksud dari irama pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda adalah bahwa siswa belajar dalam kelas dalam usia perkembangan. Masing-masing siswa tidak sama perkembangannya, ada yang cepat ada yang lambat maka guru harus bersabar dalam tugas pelayanan belajar pada anak didiknya.

Prinsip Lingkungan

Lingkungan adalah sesuatu hal yang berada di luar diri individu. Lingkungan pengajaran adalah segala hal yang mendukung pengajaran itu sendiri yang dapat difungsikan sebagai sumber pengajaran atau sumber belajar. Diantaranya; guru, buku, dan bahan pelajaran yang menjadi sumber belajar.

Prinsip Konsentrasi

Konsentrasi adalah pemusatan secara penuh terhadap sesuatu yang sedang dikerjakan atau berlangsungnya suatu peristiwa. Konsentrasi sangat penting dalam segala aktivitas, terutama aktivitas belajar mengajar.

Prinsip Kebebasan

Prinsip kebebasan dalam pengajaran yang dimaksud adalah kebebasan yang demokratis, yaitu kebebasan yang diberikan kepada peserta didik dalam aturan dan disiplin tertentu. Dan disiplin merupakan suatu dimensi kebebasan dalam proses penciptaan situasi pengajaran. Seorang guru dituntut berusaha bagaimana menerapkan suatu metode mengajar yang dapat mengembangkan dimensi-dimensi kebebasan self direction, self discipline,dan self control.

Prinsip Peragaan

Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Peragaan adalah menggunakan alat indera untuk mengamati, meneliti, dan memahami sesuatu. Pemahaman yang mendalam akan lahir dari analisa yang komprehensif sehingga menghasilkan gambaran yang lengkap tentang sesuatu.

Agar siswa dapat mengingat, menceritakan, dan melaksanakan suatu pelajaran yang pernah diamati, diterima, atau dialami di kelas, maka perlu didukung dengan peragaan-peragaan (media pengajaran) yang bisa mengkonkritkan yang abstrak.

Prinsip Kerjasama Dan Persaingan

Kerjasama dan persaingan adalah dua hal berbeda. Namun dalam dunia pendidikan (prinsip pengajaran) keduanya bisa bernilai positif selama dikelola dengan baik. Persaingan yang dimaksud bukan persaingan untuk saling menjatuhkan dan yang lain direndahkan, tetapi persaingan yang dimaksud adalah persaingan dalam kelompok belajar agar mencapai hasil yang lebih tinggi tanpa menjatuhkan orang atau siswa lain.

Prinsip Apersepsi

Apersepsi berasal dari kata ”Apperception” berarti menyatupadukan dan mengasimilasikan suatu pengamatan dengan pengalaman yang telah dimiliki. Atau kesadaran seseorang untuk berasosiasi dengan kesan-kesan lama yang sudah dimiliki dibarengi dengan pengolahan sehingga menjadi kesan yang luas. Kesan yang lama itu disebut bahan apersepsi.

Apersepsi dalam pengajaran adalah menghubungan pelajaran lama dengan pelajaran baru, sebagai batu loncatan sejauh mana anak didik mengusai pelajaran lama sehingga dengan mudah menyerap pelajaran baru.

Prinsip Korelasi

Korelasi yaitu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan anak atau dengan pelajaran lain sehingga pelajaran itu bermakna baginya. Korelasi akan melahirkan asosiasi dan apersepsi sehingga dapat membangkitkan minat siswa pada pelajaran yang disampaikan.

Prinsip Efisiensi dan Efektifitas

Prinsip efisiensi dan efektifitas maksudnya adalah bagaimana guru menyajikan pelajaran tepat waktu, cermat, dan optimal. Alokasi waktu yang telah dirancang tidak sia-sia begitu saja, seperti terlalu banyak bergurau, memberi nasehat, dan sebagainya. Jadi semua aspek pengajaran (guru dan peserta didik) menyadari bahwa pengajaran yang ada dalam kurikulum mempunyai manfaat bagi siswa pada masa mendatang.

Prinsip Globalitas

Prinsip global atau integritas adalah keseluruhan yang menjadi titik awal pengajaran. Memulai materi pelajaran dari umum ke yang khusus. Dari pengenalan sistem kepada elemen-elemen sistem. Pendapat ini terkenal dengan Psikologi Gestalt bahwa totalitas lebih memberikan sumbangan berharga dalam pengajaran.

Prinsip Permainan dan Hiburan

Setiap individu atau peserta didik sangat membutuhkan permainan dan hiburan apalagi setelah terjadi proses belajar mengajar. Bila selama dalam kelas siswa diliputi suasana hening, sepi, dan serius, akan membuat peserta didik cepat lelah, bosan, butuh istirahat, rekreasi, dan semacamnya. Maka guru disarankan agar memberikan kesempatan kepada anak didik bermain, menghibur diri, bergerak, berlari-lari, dan sejenisnya untuk mengendorkan otaknya.

Beberapa Hal Pokok Dalam Proses Belajar Mengajar

Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan oleh guru, sedangkan siswa belajar. Menurut Saiful sagala pembelajaran ialah membelajarkan siswa dengan menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang kesemua menjadi penentu dalam keberhasilan pendidikan. Menurut Corey pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia ikut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilakn respon terhadap situasi tertentu. Menurut Omar Hamalik pembelajaran adalah

  1. upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
  2. pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang baik.
  3. pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa menghadapi masyarakat sehari-hari.

Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan

mengakibatkan hasil yang tidak optimal.

Unsur-Unsur Pendidikan

Proses pendidikan melibatkan banyak hal, yaitu :

1) Subjek yang dibimbing (peserta didik).

Peserta didik berstatus sebagai subjek didik. Pandangan modern cenderung menyebut demikian oleh karena peserta didik (tanpa pandang usia) adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Selaku pribadi yang memiliki ciri khas dan otonomi, ia ingin mengembangkan diri (mendidik diri) secara terus menerus guna memecahkan masalah-masalah hidup yang dijumpai sepanjang hidupnya

2) Orang yang membimbing (pendidik).

Pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan yaitu orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, pelatihan, dan masyarakat/organisasi.

3) Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).

Interaksi edukatif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antar peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanifulasikan isi, metode serta alat-alat pendidikan. Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).

4) Tujuan pendidikan bersifat abstrak karena memuat nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Tujuan demikian bersifat umum, ideal, dan kandungannya sangat luas sehingga sulit untuk dilaksanakan di dalam praktek. Sedangkan pendidikan harus berupa tindakan yang ditujukan kepada peserta didik dalam kondisi tertentu, tempat tertentu, dan waktu tertentu dengan menggunakan alat tertentu.

5) Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).

Dalam sistem pendidikan persekolahan, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi inti bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya mengembangkan kebhinekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan.

6) Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).

Alat dan metode pendidikan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Alat melihat jenisnya sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya. Alat dan metode diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan.

7) Tempat peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

Lingkungan pendidikan biasa disebut tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.

Tugas dan Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar

Kegiatan Proses belajar-mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles Of Student Teaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partissipan, ekspeditor, perencana, suvervisor, motivator, penanya, evaluator dan konselor.

Tugas Guru

Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.

Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari “citra” guru di tengah-tengah masyarakat.

Peran Seorang Guru

a. Dalam Proses Belajar Mengajar

Sebagaimana telah di ungkapkan diatas, bahwa peran seorang guru sangar signifikan dalam proses belajar mengajar. Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:

1) Demonstrator

2) Manajer/pengelola kelas

3) Mediator/fasilitator

4) Evaluator

b. Dalam Pengadministrasian

Dalam hubungannya dengan kegiatan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai:

1) Pengambil insiatif, pengarah dan penilai kegiatan

2) Wakil masyarakat

3) Ahli dalam bidang mata pelajaran

4) Penegak disiplin

5) Pelaksana administrasi pendidikan

c. Sebagai Pribadi

Sebagai dirinya sendiri guru harus berperan sebagai:

1) Petugas sosial

2) Pelajar dan ilmuwan

3) Orang tua

4) Teladan

5) Pengaman

d. Secara Psikologis

Peran guru secara psikologis adalah:

1) Ahli psikologi pendidikan

2) Relationship

3) Catalytic/pembaharu

4) Ahli psikologi perkembangan

Peran Pendidik dalam Proses Belajar-Mengajar

Peran guru dalam proses belajar-mengajar , guru tidak hanya tampil lagi sebagai pengajar (teacher), seperti fungsinya yang menonjol selama ini, melainkan beralih sebagai pelatih (coach), pembimbing (counselor) dan manager belajar (learning manager). Hal ini sudah sesuai dengan fungsi dari peran guru masa depan.

Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran, masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan dan Iain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut. Di sinilah kelebihan manusia dalam hal ini guru dari alat-alat atau teknologi yang diciptakan manusia untuk membantu dan mempermudah kehidupannya.

Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb. Yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru sebagai:

1) Demonstrator

2) Manajer/pengelola kelas

3) Mediator/fasilitator

4) Evaluator

Guru sebagai demonstrator

Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya karena hal ini akan sangat menetukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.


Guru Sebagai Pengelola Kelas

Mengajar dengan sukses berarti harus ada keterlibatan siswa secara aktif untuk belajar. Keduanya berjalan seiring, tidak ada yang mendahului antara mengajar dan belajar karena masing-masing memiliki peran yang memberikan pengaruh satu dengan yang lainnya. Keberhasilan/kesuksesan  guru mengajar ditentukan oleh aktivitas siswa dalam belajar, demikian juga keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan pula oleh peran guru dalam mengajar.

Guru sebagai mediator dan fasilitator

Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar.

Guru sebagai evaluator

Dalam dunia pendidikan, setiap jenis pendidikan atau bentuk pendidikan pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan akan diadakan evaluasi, artinya pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan tadi orang selalu mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik.

Rencana Program Pembelajaran

Penyusunan program memberikan arah pada suatu program itu sendiri. Penyusunan program pembelajaran akan berujung pada persiapan mengajar sebagai produk program pembelajaran jangka pendek, yang mencakup komponen program kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.

Komponen program mencakup kompetensi dasar, materi standar, metode, teknik, media dan sumber belajar, waktu belajar, dan daya dukung lainnya.

Dalam mengembangkan persiapan mengajar terlebih dahulu harus diketahui arti dan tujuannya, serta menguasai secara teoritis dan praktis unsur-unsur yang terdapat dalam persiapan mengajar.

Dalam persiapan mengajar harus jelas kompetensi dasar yang harsu dimiliki oleh peserta didik, apa yang harsu dilakukan, apa yang dipelajari,bagaimana mempelajari, serta bagaimana guru mengetahui bahwa peserta didik telah menguasai kompetensi tertentu.

Fungsi persiapan pembelajaran adalag sebagai fungsi perencanaan, dan fungsi pelaksanaan.

Prinsip-prinsip pengembangan persiapan mengajar:

  1. kompetensi yang dirumuskan dalam persiapan mengajar harus jelas.
  2. persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaknasanakan dalam kegiatan pembelajaran.
  3. kegiatan-kegiatan yang disusun harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi dasar.
  4. persiapan mengajar harsu utuh dan menyeluruh.
  5. harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.

Rumusan Tujuan Pembelajaran

A. Konsep, Fungsi dan Sumber Tujuan Pendidikan

1. Konsep Tujuan Pendidikan

Tujuan adalah merupakan komponen utama yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum. Zais (1976:297) menegaskan bahwa sebagai komponen dalam kurikulum, tujuan merupakan bagian yang paling sensitif, sebab tujuan bukan hanya akan mempengaruhi bentuk kurikulum tetapi juga secara langsung merupakan fokus dari suatu program pendidikan.

Tujuan pendidikan ini sangat luas. Biasanya merupakan pernyataan tujuan pendidikan umum, yang dapat dipakai sebagai petunjuk pendidikan seluruh negara tersebut.

Beberapa istilah tujuan yang menggambarkan pada tingkat yang berbeda-beda, seperti: Aims yang menunjukkan arah umum pendidikan. Secara ideal, aims merefleksikan suatu tingkat tujuan pendidikan berdasarkan pemikiran filosofis dan psikologis masyarakat. Menurut Zais, (1976:298) aims untuk tujuan pendidikan jangka panjang yang digali dari nilai-nilai filsafat suatu Bangsa.

Di Indonesia kita kenal tingkatan/hirarkis tujuan itu dalam beberapa istilah seperti Tujuan Pendidikan Nasional, Tujuan Institusional, Tujuan Kurikuler, dan Tujuan Instruksional Umum dan Khusus. (Depdikbud, 1984/1985:5)

2. Tujuan Pembelajaran

Tujuan institusional/goal dan tujuan kurikuler dijabarkan lagi dalam tujuan pembelajaran, tujuan ini lebih konkret dan lebih operasional yang pencapaiannya dibebankan kepada tiap pokok bahasan yang terdapat dalam tiap bidang studi. Pada saat ini tujuan pembelajaran umum dikenal dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

3. Fungsi Tujuan

Rumusan tujuan pendidikan yang tepat dapat berfungsi dan bermanfaat dalam kegiatan pengembangan kurikulum, minimal sebagai berikut:

1) Tujuan akan menjadi pedoman bagi disainer untuk menyusun kurikulum yang efektif, (Davies: 1976: 73, Pratt, 1980: 145) dengan demikian memberikan arah kepada para disainer kurikulum dalam pemilihan bahan pelajaran, yaitu bahan pelajaran yang menopang tercapainya tujuan pendidikan.

2) Tujuan merupakan pedoman bagi guru dalam menciptakan pengalaman belajar (Pratt, 1980: 145)

3) Tujuan memberikan informasi kepada siswa apa yang harus dipelajari (Pratt: 145, Davies: 73)

4) Tujuan merupakan patokan evaluasi mengenai keberhasilan program (proses belajar mengajar) (Pratt: 145, Daveis: 74)

5) Tujuan menyatakan kepada masyarakat tentang apa yang dikehendaki sekolah, apa yang hendak dicapai (Pratt: 145 – 146)

Dari uraian di atas jelas bahwa tujuan pendidikan merupakan patokan, pedoman orientasi bagi para pelaksana/pendesain pendidikan.

4. Sumber Tujuan

Kriteria yang yang hampir sama diajukan oleh Tyler (1949) yakni studi tentang pelajar, studi tentang kehidupan masyarakat di luar sekolah, dan saran-saran dari ahli mata pelajaran. Lebih jauh Tyler menekankan pendapatnya bahwa filsafat dan psikologi belajar merupakan “saringan” atau kriteria bagi penetapan lebih lanjut tujuan-tujuan pendidikan tersebut.

Menurut Zais (1976:301) sumber-sumber tujuan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yakni sumber empirik, sumber filosofi, dan sumber bidang kajian atau subject matter.

Smith, Stanley dan Shores (1957) mengajukan juga kriteria lain bagi penetapan tujuan yaitu keterwakilan, kejelasan, keterpertahankan, konsistensi dan fisibilitas.

Perumusan Tujuan Pendidikan

1. Klasifikasi Tujuan Pendidikan

Schubert (1986, 202-206) mengajukan empat tujuan pendidikan yaitu; (1)sosialisasi, (2)pencapaian, (3) pertumbuhan, dan (4)perubahan sosial. Sosialisasi merupakan tujuan yang harus dicapai anak didik agar mereka dapat hidup dengan baik dimasyarakat, dan dengan kebudayaannya.

Tujuan pendidikan pertumbuhan personal memerlukan penyesuai kurikulum yang mengakomodir kebutuhan pribadi, bakat, minat, dan kemapuan anak yang berbeda-beda. Perubahan sosial, menurut aliran ini sekolah dapat dan harus mengusahakan perbaikan sosial (Muhammad Ansyar, 1989:102).

2. Klasifikasi Tujuan Pembelajaran

Oleh karena sukar menetapkan tingkat suatu tujuan yaitu, apakah itu pada tingkat tujuan pendidikan nasional (aims), atau pada tingkat sekolah, atau ruang kelas, maka Zais (1976: 308-309) mengajukan tiga kategore (fakta, keterampilan, dan sikap) biasa dipakai sebagai cara utama untuk menyusun tujuan kurikulum (goals) dan tujuan pembelajaran (objectives).

Klasifikasi tujuan yang lebih sistematis telah dikemukakan Bloom (1956) dan Krathwohl, Bloom dan Masia (1964) seperti tertera dalam Zais (1976: 304-310) Tanner dan Tanner (1975:121-131). Tujuan pendidikan diklasifikasikan pada tiga ranah besar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Proses kognitif diklasifikasikan ke dalam suatu urutan hirarkis, dari tingkat berpikir yang sederhana ke tingkat intelektual yang lebih kompleks:

1) Pengetahuan

2) Pemahaman

3) Aplikasi

4) Analisis

5) Sintesis

6) Evaluasi

Ranah afektif mencakup tujuan-tujuan yang berkaitan dengan demensi perasaan, tingkah laku, atau nilai, seperti apresiasi terhadap karya seni, berbudi pekerti luhur, dan lain-lain.

Ranah afektif dibagi menjadi lima tingkatan yang bergerak dari kesadaran yang sederhana menuju kekondisi di mana perasaan memegang peranan penting dalam mengontrol tingkah laku:

1) Menerima

2) Responsif

3) Menghargai

4) Organisasi

5) Karakteristik

Ranah psikomotor dibagi empat tingkatan, dari yang paling sederhana kepada tingkat yang paling kompleks, yaitu:

1) Observasi

2) Meniru

3) Praktek

4) Adaptasi.

3. Kriteria Perumusan Tujuan Pembelajaran

Dalam pendahuluan telah dikemukakan betapa pentingnya tujuan pendidikan dalam perencanaan dan pengembangan kurikulum dan pengajaran. Tujuan merupakan dasar orientasi sekaligus sesuatu yang akan dicapai dalam semua program kegiatan pendidikan. Seperti dikatakan Hilda Taba dalam (Davies, 1976: 56)

Merumuskan tujuan seperti dijelaskan sebelumnya harus runtun yaitu tujuan umum dijabarkan pada tujuan khusus. Selanjut tujuan khusus diteliti jenis-jenisnya, dinilai kepentingannya dan dicek berdasarkan kriteria, syarat-syarat tujuan lebih formal dan terinci, sehinga setiap komponen yang ada tidak terlampaui.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perumusan tujuan yang merupakan kriteria tujuan yang baik seperti berikut ini:

  1. Tujuan harus selalu kosisten dengan tujuan tingkat di atasnya (Pratt, 1980:185). Tujuan-tujuan yang bersifat penjabaran dari suatu tujuan yang lebih tinggi jenjangnya harus sesuai atau tidak bertentangan dengan hal-hal yang diisayaratkan oleh tujuan tersebut. Misalnya tujuan instruksional yang dijabarkan langsung dari tujuan kurikuler harus mencerminkan tujuan kurikuler itu.
  2. Tujuan harus tepat seksama dan teliti. Tujuan hanya berguna jika ia dirumuskan secara teliti dan tepat sehingga memungkinkan orang mempunyai kesamaan pengertian terhadapnya. Perumusan tujuan yang cermat akan memungkinkan kita untuk melaksanakannya dengan penuh kepastian.
  3. Tujuan harus diidentifikasikan secara spesifik yang menggambarkan keluaran belajar yang dimaksudkan. Tujuan yang dirumuskan harus menunjuk pada pengertian keluaran dari pada kegiatan. Tujuan yang menunjukkan tingkat kemampuan atau pengetahuan siswa merupakan maksud utama kurikulum. Akan tetapi jika ia tidak pernah mengidentifikasi keluarannya, ia bukanlah tujuan kurikulum yang kualifait (Pratt, 1980:184).
  4. Tujuan bersifat relevan (Davies, 1976:17) dan berfungsi (Pratt,1980:186). Masalah kerelevansian berhubungan dengan persoalan personal dan sosial, atau masalah praktis yang dihadapi individu dan masyarakat. Memang harus diakui bahwa terdapat perbedaan pengertian tentang kerelevansian itu karena adanya perbedaan masalah dan kepentingan antara tiap individu dan masyarakat. Jadi kerelevansian itu berkaitan dengan pengertian untuk siapa dan kapan. Di samping relevan, tujuan pun harus berfungsi personal maupun sosial. Suatu tujuan dikatakan berfungsi personal jika ia memberi manfaat bagi individu yang belajar untuk masa kini dan masa akan datang, dan berfungsi sosial jika ia memberi mafaat bagi masyarakat di samping pelajar.
  5. Tujuan harus mempunyai kemungkinan untuk dicapai. Tujuan yang dirumuskan harus memungkinkan orang, pelaksana kurikulum untuk mencapainya sesuai kemampuan yang ada. Masalah kemampuan itu berkaitan dengan masalah tenaga, tingkat sekolah, waktu, dana, skope materi, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya. Perumusan tujuan yang terlalu muluk (karena terasa lebih ideal) dan melupakan faktor kemampuan atau realitas hanya akan berakibat tujuan itu tak tercapai. Suatu program kegiatan dikatakan efektif jika hasil yang dicapai dapat sesuai atau paling tidak, tidak terlalu jauh berbeda dengan perencanaan.
  6. Tujuan harus memenuhi kriteria kepantasan worthwhilness (Davies, 1976:18). Pengertian “pantas” mengarah pada kegiatan memilih tujuan yang dianggap lebih memiliki potensi, bersifat mendidik, dan lebih bernilai. Memang agak sulit menentukan tujuan yang lebih pantas karena dalam hal ini orang bisa mengalami perbedaan kesepakatan pengertian. Secara umum kita boleh mengatakan bahwa kriteria kepantasan harus didasarkan pada pertimbangan objektif, dengan argumentasi yang objektif. Dalam hal ini Profesor Peter dalam (Davies, 1976:18) menyarankan tiga kriteria (a) aktivitas harus berfungsi dari waktu ke waktu, (b) aktivitas harus bersifat selaras dan seimbang dari pada bersaing, mengarah ke keharomonisan secara keseluruhan, dan (c) aktivitas harus bernilai dan sungguh-sungguh khususnya yang menunjang dan memajukan keseluruhan kualitas hidup.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat, S.Pd.I

Menurut Slamet ada enam pentahapan dalam pembelajaran kontektual di tingkat sekolah yaitu: pertama, mengkaji materi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa yaitu dengan memilah-milah materi yang tekstual dan materi yang dapat diakitkan dengan hal-hal aktual. Kedua, mengkaji konteks kehidupan siswa sehari-hari secara cermat sebagai salah satu upaya untuk memahami konteks kehidupan siswa sehari-hari. Ketiga, memilih materi pelajaran yang dapat dikaitkan dengan kontek kehidupan siswa. Keempat, menyusun persiapan proses belajar dan mengajar yang telah memasukkan konteks ke dalam materi yang akan diajarkan. Kelima, melaksanakan proses belajar mengajar kontektual yaitu mendorong siswa untuk selalu mengaitkan materi yang dipelajari dengan pengetahuan/pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Keenam, melakukan penilaian otentik terhadap apa yang telah dipelajari oleh siswa. Hasilnya dapat digunakan sebagai masukan, perbaikan / penyempurnaan persiapan dan pelaksanaan proses belajar dan mengajar yang akan datang.

Perlu juga disadari bahwa pelaksanaan pendekatan kontektual tidak sama untuk tiap sekolah, namun yang pasti guru dituntut aktif menginternalisasikan, menghayati, memahami, konteks actual dalam proses belajar mengajar. Jadi tidak ada satu resep atau seragam dalam, pelaksanaan pembelajaran kontektual, tetapi pendekatankontektual cenderung mengakomodasi kemajemukan dan perbedaan sesuai kekhususan yang ada pada siswa tersebut.

Dalam mendukung pendekatan kontektual guru dituntut untuk banyak membaca dan mencermati masalah aktual di masyarakat, di sisi lain, guru juga terus berusaha mengenali siswanya, baik dari segi budaya, keluarga, social, adat dan pekerjaan dan lingkungan di mana siswa tinggal, dengan siapa ia bergaul.

Hal ini, perlu dilakukan agar guru mampu menginternalisasikan bahan pelajaran dan proses pembelajaran dengan konteks yang actual dan dekat dengan kehidupan keseharian siswa. Chaedar Alwasilah mengatakan setidaknya ada tujuh strategi yang perlu diperhatikan dalam pendekatan kontektual, yaitu: pengajaran berbasis problem, menggunakan konteks beragam, mempertimbangkan kebhinekaan siswa, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri, belajar melalui kolaborasi, menggunakan penilaian autentik, mengejar standar tinggi. Dari pendapat itu dapat dikembangkan sebagai berikut:

Pertama, pengajaran hendaknya berbasis permasalahan, merancang pembelajaran bersifat problem solving, sehingga siswa tertantang untuk memecahkan problem tersebut, siswa diajak untuk berfikir kritis, pemecahan ini akan mengajak siswa masuk ke dunianya sendiri, ia menyelami makna dan pengalaman yang iia lakukan sendiri.

Kedua, menggunakan konteks bermacam-macam dan bervariasi. Makna jangan dibatasi pada satu sisi, atau satu titik pandang saja, sebab makna dapat dipandang dari berbagai sisi. Adanya cara pandang yang beragam akan menambah khazanah pemikiran siswa makin kaya dan beragam.

Ketiga, menyadari keragaman yang ada pada siswa. Adanya berbagai keragaman dan perbedaan hendaknya menjadi rahmat yang akan mendukung terjadinya pembelajaran yang mengkayakan imajinasi, daya kreatif dan daya kritis siswa.

Adanya berbagai perbedaan karakter, social, budaya dan keluarga hendaknya menjadi sumber berbagai inspirasi untuk menginternalisasikan materi pelajaran ke dalam kehidupan siswa. Memang perbedaan adalah rahmat, hal ini juga telah diinformasikan oleh Nabi Saw, bahwa,”Perbedaan di antara umatku adalah rahmat”(Hadis).

keempat memanfaatkan kemampuan siswa untuk belajar sendiri, siswa diajarkan untuk mandiri, siswa diajar untuk aktif bukan pasif, siswa dilatih untuk menganalisis berbagai fakta informasi dengan daya imajinasi dan daya kritisnya.

Kelima, hendaknya siswa diajarkan bagaimana belajar dengan orang lain, siswa diberi dorongan dan wacana bagaimana ia sedfapat mungkin mampu bekerja sama den gan orang lain, dengan teman kelasnya, tujuannya adalah agar adanya saling membantu dan mengisi kekosongan kiemampuan di atara kelompok yang sedang kerjasama sehingga siswa yang dianggap mampu secara intelektual diharapkan dapat menjadi pemicu aktivitas dan keaktivan dalam kelompoknya, ia juga dapat dijadikan fasilitator dalam kelompoknya.

Imam Ali mengatakan,”Bertemanlah dengan para ahli hikmah, duduklah,bergaulah dengan para ulama, berpalinglah dari dunia niscaya kamu akan mendapat trempat di surga.” Intinya adalah berteman dengan yang ahli akan menambah kebahagiaan, menambah kemauan untuk menuju kualitas seperti surga, sebuah tempat yang maha indah. Demikian juga jika dalam kerjasama ada satu siswa yang mumpuni secara intelektual, maka temannya yang lain yang agak klurang akan terimbas menjadi seorang yang beruntung secara inteletual dan pengalaman, Ali bin abi Thalib mengibaratkan orang bodoh yang mau bergaul dengan orang pandai akan mendapat sorga. Sorga yang bukan sorga di akherat tetapi sebuah petualangan iintelektual yang penuh dengan keindahan kebahagiaan dan ketentraman, kreatif semangat dan enerjik.

Keenam, menggunakan penialain autentik. Dalam hal ini penilaian diberikan kepad prosesnya bukan hanya pada hasil darinya saja, hal ini akan terasa adil sebab tidak semua siswa sama dalam belajar, berproses. Untuk itu, adanya penilaian autentik akan mempermudah seorang guru mencari dan mengambil data untuk mengamati perkembangan belajar siswa. Nah untuk mengambil penilaian autentik guru dituntut untuk mengambil bermacam sumber belajar, seprti Koran, majalah, radio televise, website, dan lain sebagainya dalam arti guru tidak terpaku pada buku paket saja.”Tidakalah Engkau menciptakan semua ini untuk sesuatu yang sia-sia,”(QS. Ali Imran:191).

Ketujuh berusaha terus meningkatkan kualitas untuk menuju standar tinggi. Guru hendaknya tidak bosan untuk memberi semangat kepada siswa untuk terus meningkatkan kemampuan, Imam Ali mengatakan,”Yang mau menyempurnakan kekurangannya berarti memperbaiki dirinya,”sehingga diharapakan nantinya ia akan mampu mencapai puncak kualitas dan standar yang tinggi, biarlah pahit kita katakan kalau nantinya hasilnya manis. Muhammad Saw mengatakan, “Katakanlah kebenaran walaupun terasa pahit,”(HR. Bukhari). Standar tinggi hendaknya dicapai dengan kerja keras berkelanjutan dan terus berusaha memaksimalkan berbagai fasilitas dan sumber daya yang di sekolah. Perbaikan dan penyempurnaan terhadap berbagai kekurangan akan memacu satndar ketercapaian, sehingga keberhasilan bukan lagi sekedar kemenangan dan kesusksesan semu.

Keberhasilan sebuah pendidikan tidak hanya dilihat dari hasil, hasil belum tentu menunjukkan keunggulan dan kebaikan dari suatu pendidikan, bisa jadi anak yang memperoleh nilai tinggi ia dapatkan dari menyontek, atau ia dapatkan dari kolusi dengan temannya yang lain. Ada juga anak yang memperoleh hasil ujian sangat bagus, tetapi hasil itu bukan dari kemampuannya sendiri, namun nilai tinggi itu ia dapatkan dari pertolongan orang lain. Misalnya dalam ujian nasional (UN) anak yang kesehariannya dianggap cukup intelektualnya, kasarnya kurang pandai, karena gurunya merasa perlu untuk menolong siswanya maka sang guru menolong siswanya agar dapat menjawab soal ujian nasional. Maka tidak heran jika ada siswa yang dalam keseharian belajarnya biasa-biasa saja tetapi dalam ujian akhir lebih tinggi dari siswa yang kita anggap mampu dari segi intelektual.

Dalam pandangan agama proses menentukan hasil, sebagai contoh roti dalam pandangan hokum makanan dalam Islam adalah halal, durian, mangga, apel adalah buah-buahan halal dikonsumsi, tetapi apabila roti atau buah-buahan itu didapat dari mencuri maka meskipun hokum Islam memandangnya sesuatu yang halal, tetapi proses mendapatkannya dari hasil curian maka roti dan apel itu dianggap haram.

Hal ini, memberi kita pelajaran bahwa menentukan baiknya sesuatu itu bukan hanya dilihat dari hasil tetapi juga proses, ini artinya perbuatan itu dinilai mulai dari prosesnya, kalau prosesnya baik maka diharapkan hasilnya juga baik. Demikian juga dalam pendidikan, siswa tidak dapat dikarbit seperti memeram buah mangga, siswa tidak dapat dipaksa untuk matang dan pandai secara mendadak, tetapi semua itu memerlukan proses, nah dalam pendekatan kontektual proses dalam belajar sangat menentukan, dikatakan menentukan karena dari proses inilah guru dapat mengamati tahap-demi tahap perkembangan siswanya. Hal ini memberi kita pelajaran bahwa proses belajar dan mendidik siswa membutuhkan waktu.

Dalam pendekatan kontektual proses pembelajaran siswa perlu mendapatkan perhatian dari para guru. Perhatian ini diperlukan untuk mengetahui perkembangan siswa, yang gunanya untuk memberi perhatian dan perbaikan belajar siswa, di sisi lain guru dapat memberi perhatian kepada siswa sesuai dengan kebutuhannya, sesuai dengan keragaman siswa. Cara pendekatan kontektual dalam kelas cukup mudah secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut: pertama, memancing dan mengembangkan sifat ingin tahu, sifat penasaran kepada siswa sehingga memancingnya untuk mengetahui dan bertanya. Kedua, menerapkan pengajaran yang berbasis inkuiri. Pembelajaran inkuiri dapat diterapkan pada semua topic dalam pembelajaran. Ketiga, menghadirkan model untuk contoh dalam pembelajaran. Keempat, melakukan penilaian yang sesungguhnya dengan bermacam cara, agar penilaian mencapai sasartan dan hasil yang tepat. Kelima, mengembangkan pola piker bermakna, serta mengarahkan siswa agar belajar mandiri, menemukan dan membangun pengetahuan dan ketrampilannya sendiri. Keenam, melakukan refleksi pada akhir pembelajaran atau akhir pertemuan. Ketujuh, mengembangkan cara belajar kelompok, agar tercipta suasana belajar bersama.

Langkah tersebut merupakan langkah aplikasi dalam proses pembelajaran berbasis kontektual, juga merupakan rangkaian dalam pendekatan kontektual, dengan mengaplikasikan ketujuh komonen tersebut pendekatan kontektual di sekolah dapat diwujudkan. Allahu Alam.

Read Full Post »

Oleh: Riwayat

Jangan didik anak menjadi penakut, jadkanlah anak-anak kita seorang pemberani, seoarang nakyang taat kepada Allah. Sebagai muslim, sebagai orang tua tidak sepatutnya kita mendidik anak menjadi penakut kepada manusia, karena yang patut ditakuti adalah Allah Swt tidak yang lain. Jika ita menjadikan anak kita penakut kepada manusia, maka telah terjadi kesalahan dalam mendidik, kita salah mendidik anak, karena dalam islam kita dilarang menjadikan anak kita takut kepada manusia, sebab yang patut ditakuti adalah Allah semata.

Mendidik anak menjadi penakut akan membawa dampak buruk terhadp kepribadan anak itu sendiri, anak akan mudah dipengaruhidan di atur oleh orang lain, ya kalau diatur dalam kebaikan mungkin masih dapat diterima, tetapi kalau diatur untuk berbauat jahat dan mungkar, mak hal itu sangat membahayakan.

Ketika anak hanya takut kepada manusia dan tidak takut kepada Allah, maka hal tersebut merupakan bencana besar. Kenapa dikatakan sebagai bencana besar, diantara jawabannya adalah anak akan berbuat semaunya, berbuat sekehendak hati asal tidak diketahui oleh orang lain, tidak maling kalau diketahui oleh manusia, tidak berzina jika diketahui oleh manusia lain, tetapi mereka akan berzina jika tidak diketahui oelh orang laian, mau maling dan merampok jika tidak diketahui oleh orang lain.

Sedangkan Allah mereka lupakan Allah tidak ditakutinya. Mereka tahu bahwa Allah Maha Melihat, Maha mendengar, tetapi hal itu tidak menyurutkan mereka untuk berbuat mungkar dan maksiat.

Anak yang dididik hanya takut kepada Allah akan kehilangan control ketuhanan, tuhan hilang dalam hati dan pikirannya. Mak tak heran jika orang-orang seperti ini akan berbuat melanggar aturan aturan Allah. Karena dalam dirinyatelah terpatri ketakutan yang sangat terhadap manusia sedangkan takutnya kepada Allah tidak ada.

Ketika anak hanya didik takut kepada manusia, maka keribadiannya akan cenderung berkepribadian munafik, kepribadian ganda, kepribadain orang-oarang yang riya, mereka berbuat bukan untuk Allah dan Rasul-Nya, tetapi berbuat agar namanay tenar, namanya dikenal banyak orang, ingin dipuji oleh orang lain.

Maka tidak heran jika mereka mempunyai kerpbadian ganda, bermuak dua, ingin dipuji dan dihormati. Orang seperti ini lebih suka mendapat pujian di mata manusia disbanding mendapatkan pujian Allah karena mereka merasa pujian dari Allah bersiaft abstrak dan tidak jelas, sedangkan pujian dari manusia dapat dinikmati dan dirasakan pada saat itu juga. Kalaupun mereka beriman, mereka hanya pura-pura, mereka hanya ingin menipu manusia, kalaupun mereka beriman itu dikarenakan ingin sesuatu yang bersifat duniawi belaka,”Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian[22],” pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(QS. Al-Baqarah:8-9).

Ibnu Katsir menyatakan orang munafik adalah orang yang perkataannya bertentangan dengan perbuatannya, isi hatinya bertentangan dengan dengan realitasnya,masuknya berbeda dengan keluarnya, adanya bertentangan dengan tidak adanya. Dalam surat An-Nisa dinyatakan,”. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An-Nisa:142).

Dalam ayat ini terlihat jelas bahwa pribadi munafik, pribadi yang hanya berpura-pura, pribadi yang hanya takut kepada manusia, salatnya dilakukan hanya untuk menghilangkan jejak kalau ia termasuk orang munafik, orang seperti ini salat hanya sebuah tameng, hanya sebuah kepalsuan belaka.

Itulah diantara akibat yang akan terjadi jika kita mendidik anak takut kepada manusia, untuk itu menjadikan anak takut kepada manusia harus diubah menjadi anak hanya takut kepada Allah saja, bukan takut kepada manusia.

Read Full Post »

Oleh:Riwayat

Seorang pendidik sejati akan menanamkan tauhid yang baik dan kokoh kepada anak didiknya. Apapun mata pelajaran yang mereka emban, sehingga tidak ada ceah bagi si anak untuk membangkang terhadap eprintah Tuhannya. Sikap dan perilaku peserta didik akan terkontrol degan sendirinya, tanpa perlu satpam, polisi dan hansip. Dengan pribadi yang matang dari segi keilmuan dan tauhid, maka akan secara otomatis memberi pengaruh yang positif bagi diri n lingkungannya.

yang pasti pendidikan dan penanaman akidah yang kuat harus menjadi prioritas utama. Apalah arti ilmu riman yang kuat. Maka dari itu perlu kiranya para pendidik berfikir kembali terhadap perlakuannya selama in yang hanya mencekoki siswanya hanya dengan materi keilmuan murni saja, tanpa ada nilai-nilai religius. Maka sudah sewajarnya mulai saat ini untuk menyadari kembali betapa penting pendidikan yang berbasis spiritual mulai digalakkan ke semua peserta didik.

Pendidikan merupakan contoh yang telah diberikan Allah kepada semua manusia di alam raya ini. Allah adalah pendidik pertama, pendidik yang Maham Adil dan Maha Tahu. Pendidik yang mengerti kebutuhan jasmani dan rohani peserta didik. Artinya adalah Pendidik sadar dan mengertibahkan memahami kebutuhan anak didiknya, apa yang baik untuk anak didiknya dan mana yang tidak baik terhadap kepribadian anak didik.

Maka dari itu sangat pentin bagi para guru untuk mulai menyadari bahwa pendidikan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu mendidik merupakan upaya untuk menanamkan nilai- nilai kebaikan, nilai- nilai religius.

Mengingat pentingnya meramu materi pendidikan non agama, maka perlu semacam sosialisasi, sosialisasi dilakukan untuk mengenalkan pentingnya nilai- nilai ketuhanan dalam dunia pendidikan saat ini.Ada anggapan sebagain pendidik bahwa masalah religius merupakan tanggungjawab guru agama, anggapan ini masih ada mengakar ke dalam jiwa para pendidik. Sehinga tidak heran jika ada siswa pandai fisika, matematika tetapi mereka kosong dengan nilai- nilai religius.

Akibat salah pemahaman terhadap hakekat pendidikan anak , maka berakibat kepada buruknya perilaku peserta didik, peserta didik menjadi manusia cerdas secara otak tetapi kering dengan nilai-nilai ketuhanan, maka tidak heran jika mereka korupsi, kolusi dan hidup menyimpang dari aturan Allah. Keadaan ini diperparan oleh system yang mendukung untuk melakukan hal tersebut.

Tidak hanya itu saja, ketika pendidik mengesampingkan pentingnya penanaman akidah yang benar kepada, anak akan cenderung berfikir parsial dan sektoral, anak akan terpaku kepada hal-hal yang bersifat duniawi, sedangkan akherat bagi mereka hanya omong kosong dn hayalan belaka.tidak

Bagi mereka Tuhan itu hanya ada di alam yang lain, yang tidak mempunyai hubungan dengan manusia lagi, tuhan telah parker di tempatnya sehingga tidak mempunyai pengaruh terhadap perbuatan manusia. Lebih parahnya lagi peserta didik yang kering dengan nilai-nilai religius, nilai-nilai ketuhanan akan cenderung sekuler bahkan ateis.

Realitas seperti ini telah menjangkiti kalangan Islam sendiri, terutama para orang tua dan pendidik yang pernah belajar tanpa ada pondasi keimanan dan tauhid yang kuat, atau tidak pernah mengecap pendidikan yang meramu aspek keilmuan duniawi yang di bumbui atau diberi ruh-ruh semangat ketuhanan.

Akibat tidak pernah mendapatkan pendidikan tersebut akhirnya para orang tua menjadi manusia yang miskin pengetahuan religius dan spiritual, kepribadiannya tidak terbentuk secara sempurna dengan tauhid yang lengkap dan mumpuni untuk menghadapi kehidupan duniawi, dalam keadaan ini para orang tua akan kelabakan dan tidak tahu arah dalam mendidik anak-anak mereka sendiri.

Maka tidak heran jika dewasa ini banyak generasi muda yang memuja kehidupan glamour,hedonisme, lebih ironis lagi mereka lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Di antara buktinya adalah keberanian mereka untuk berbuat maksiat di temapt-tempat kos, kamar-kamar hotel, mobil-mobil pribadi dan tempat-tempat rekreasi. Mereka beranggapan melakukan maksiat di temapt tersebut aman dari mata manusia, aman dari penglihatan manusia, tetapi mereka tidak pernah menyadari bahwa di samping itu ada Yang Maha Melihat, yaitu Allah Swt.

Berdasarkan hal tersebut perlu kiranya kita memulai pendidikan yang tidak melupakan Allah, pendidikan yang menyatukan antara konsep ilmu duniawi dengan nafas religius, pendidikan yang bernuansa spiritual. Dengan menerapkan pendidikan yang diwarnai oleh nilai- nilai spiritual ketuhanan akan dimungkinkan menghindarkan peserta didik dari sikap acuh terhadap Tuhannya sebagai pencipta alam raya ini.

Pendidikan yang tidak melupakan Allah akan membentuk peserta didik menjadi generasi yang tangguh, generasi yang tahu dan mau untuk mengubah diri dan masyarakatnya menuju keridhoaan Allah, pendidikan yang selalu menyertakan nilai- nilai ketuhanan akan lebih mungkin untuk melakukan perubahan-perubahan yang positif,perubahan yang lebih baik dan bermanfaaat bagi orang banyak.

Untuk itu sudah saatnya umat Islam meninggalkan pendidikan yang dibangun dengan konsep sekuler, pendidikan yang hanya mengedepankan kehidupan duniawi, pendidikan yang hanya mengejar kehidupan sementara ini. pendidikan sekuler hanya akan menjerumuskan anak didik ke dalam kubangan kehinaan di dunia dan akherat. Pendidikan sekuler dan terkesan ateis akan menjerumuskan anak didik kepada sikap hidup yang atheis dan sekuler, tidak peduli terhadap akhlak dan moral, yang penting bagi mereka adalah bagaimana mengembangkan keilmuan tanpa harus menimbang efek baik dan buruk berdasarkan timbangan agama dan nilai-nilai Ilahiyah.

Pendidikan yang selalu menyertakan Allah dalamsetiaplagkah dan proses pendidikan akan lebih utama dan lebih memberi bekas yang positif dan berdaya guna. Pendidikan yang tidak melupakan Tuhan akan membentuk pribadi yang soleh, pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan jaman. Pendidikan yang memberi peluang untuk menyatunya keilmuan dengan nilai- nilai kebenaran yang diususng oleh wahyu akan lebih memberi peluang berhasilnya anak didik dalam kehidupan dunia dan akherat.

Pendidikan yang selalu terhubung dengan nilai-nilai ketuhanan akan cenderung memabwa peserta didik kepada kehidupan yang baik, kehidupan yang jauh dari murka Allah. Pendidikan yang selalu di nafasi dengan ruh-ruh ketuhanan akan memberi peluang bagi peserta didik untuk selalu bermohon kepada Allah, ia akan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Ia tidak akan takut kepada manusia, ia berbuat baik bukan ingin dipuji, tetapi ia berbuat baik karena Allah semata.

Read Full Post »

Older Posts »