Feeds:
Pos
Komentar

Generasi Mesum Minangkabau

generasi mesum MinangkabauBlog Riwayat-di bulan Oktober 2011, saya mengeluarkan buku  tentang keminangkabauan terutama yang terkait dengan pergaulan dan perkembangan gaya hidup generasi muda Minangkabau, yang pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa generasi muda Minangkabau cenderung berbuat mesum dan berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya.

lama gak nulis di sini

blog riwayat.- lama juga sih  kagak kunjung di blog ini. sehingga gak ada up date tulisannya,kini rasa saya pengen lagi nulis di blog ini. semoga suatu saat nanti menjadi bagian penting dari perjalanan menuju mimpi yang masih sedang berjalan dan rentang tidur panjang menuju sebuah mimpi yang nyata. memang gak dapat dihindari bahwa mimpi kita terkadang terlalu lama, akan tetapi hal itu tentunya tidak membuat kita cuoit hati dan bahkan matai dalam mimpi yang belum menjadi nyata.

blogger Error ada Apa?

tak berharap dan tak menyangka kalau blogger bakal error pada hari ini. sebab saya udah siapkan tulisan untuk perbarui posting, eh ndak tahunya mau log in, malah dibilang error alis problem. ada apa ya dengan blogger?… waktuakses ok, akan tetapi mau  log in, malah dibilang error,

Kenapa negeri ini sakit?

Carut marut perpolitikan di Indonesia tidak lepas darai keadaan masyarakat dan pemimpinnya. Keadaan masyarakat yang miskin dan tertindas menjadikan masyarakat mengalami psikosomatik akut. Yang pada akhirnya menjadikan dirinya seperti monster yang siap menerkam siapa saja yang brena menghalangi niatnya. Tentunya hal ini merugikan banyak orang. Terutama masyarakat yang masih mempunyai harga diri, mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap eksistensinya sebagai warga Negara yang baik.
Permasalahan di negeri ini bukan hanya kesalahan rakyatnya, akan tetapi akibat para pemimpin negeri ini yang tidak lagi paham akan hakekat menjadi pemimpin dan memimpin. Pemimpin tidak lagai paham akan posisinya sebagai pemimpin. Pemimpin yang baik seharusnya mampu mendengar keluhan dan aspirasi rakyatnya. Pemimpin negeri ini tidak lagi menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan sekedar tanda tangan dan terima gaji, akan tetapi lebih dari itu adalah bagaimana membawa rakyat hidup sejahtera , damai, bahagia dan tercukupi kebutuhan dasarnya sebgaia layaknya manusia.
Seharusnya para pemimpin negeri ini menyadari bahwa menjadi pemimpin itu adalah amanah. Sebab jika tidak di posisikan seperti itu, maka pemimpin akan berbuat semuanya. Padahal Nabi Saw telah menyatakan bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita pimpin. Kita sebagai bangsa prihatin mencermati keadaan bangsa ini yang makin terpuruk, ditambah lagi perilaku pemimpin yang tidak mampu memimpin dan memaksakan diri untuk menjadi pemimpin.
Negeri ini tidak akan lebih baik, jika masih dipimpin oleh orang-orang yang tidak tahu hakekat memimpin. Untuik itu perlu kiranya generasi-generasi yang benar-benar sadar bahwa menjadi pemimpin adalah siap untuk menjadi pelayan bagai rakyat yang dipimpinnya, pemimpin adalah mereka yang sanggup untuk mendengar suara dan kebwutuhan rakyatnya, serta berusaha menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya dalam naungan ridho Allah SWT. dan akhirnya negeri ini tidak termasuk negeri yang sakit.

1. Motivasi

  1. 1.      Motivasi

Motivasi berasal dari kata motif, yang mempunyai arti alasan seseorang melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi berarti kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak melakukan tindakan dengan tujuan tertentu, dapat juga berarti usaha-usaha yang menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena  ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.[1]

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa motif bersifat batiniah, karena hanya yang bersangkutan yang mengetahui motif yang diniatkan, sedangkan orang lain tidak mengetahui, kalaupun mengetahuai hanya bersifat menebak dan mengetahui gejala-gejala, akan tetapi kebenarannya belum dapat dipastikan. Dengan arti lain, motif masih tersembunyi di dalam diri seseorang. Motif akan dapat diketahui ketika yang bersangkutan mengungkapkannya kepada orang lain. Atau dapat diketahui dengan jalan penyelidikan dan penelitian.

Berdasarkan  arti tersebut dapat dimengerti motivasi terkait erat dengan psikologis, gejala-gejala psikologis yang pada akhirnya menjadi semacam kekuatan dan semangat untuk melakukan sesuatu tindakan dalam mencapai yang diinginkan. Motivasi juga  terkait erat dengan sikap kepemimpinan, didalam pengertian tersebut tersirat bahwa manajer mempunyai peran untuk membangkitkan, menggerakkan bawahannnya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatau. Dengan kata lain  manajer mempunyai peran sebagai motivator bagi bawahannya dalam rangka meningkatkan kinerja.

Hikmat menyatakan bahwa motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan terjadinya tindakan atau disebut dengan niat.[2] Hal ini memberi kesan bahwa motivasi merupakan awal dari respon seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Terry sebagaimana dikutip Marno dan Triyo Supriyatno mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan yang terdapat pada seseorang individu yang merangsang untuk melakukan tindakan-tindakan.[3] Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa motivasi berasal dari dalam diri seseorang, atau bisa juga berasal dari luar diri.

Bagaimana  hubungannya dengan manajerial dan motivasi  dalam kepemimpinan? Apakah dorongan-dorongan yang mereka lakukan kepada anak buahnya mempunyai pengaruh atau sebaliknya tidak memberi efek signifikan? Jika halnya demikian, maka pada  dasarnya munculnya motivasi kemungkinan ada dua sumber pertama dari diri sendiri, kedua dari luar diri. Jika hal ini benar, maka peluang untuk memotivasi dari luar mendapatkan tempatnya.

Nancy Stevenson mendefinisikan motivasi sebagai insentif, dorongan, atau stimulus untuk bertindak, semua hal yang verbal, fisik atau psikologi yang membuat seseorang melakukan sesuatu sebagai respon.[4]Muhammad Utsman Najati menyatakan motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup. Motif akan melahirkan perilaku dan mengantarkan makluk hidup pada suatu tujuan.[5] Dapat dipahami bahwa motivasi merupakan sesuatu hal yang menjadi energy pendorong seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Kalau halnya demikian, maka setiap perbuatan  patut diduga ada motif-motif tertentu yang membuat seseorang termotivasi melakukan sesuatu.

Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab mendefinisikan segala sesuatu  yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut atau mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan. John Adair mendefinisikan motivasi  kemampuan umum untuk menggerakkan atau menggairahkan orang agar bertindak.[6] Eugene J. Benge menyatakan motivasi adalah apa saja yang perilaku. Seperti manajer memberikan motivasi dengan cara mengambil tindakan-tindakan yang menyebabkan karyawan penyelia, pelanggan berkelakuan dengan yang yang menguntungkan.[7]

Dari pembahasan sebelumnya dapat dipahami bahwa motivasi adalah kegiatan apapun yang mampu memberi pengaruh terhadap kinerja yang mempunyai kaitan erat dengan tercapainya tujuan bersama. Jika dihubungan dengan pendidikan Islam, maka manajer atau pemimpin dalam lembaga pendidikan hendaknya mampu memberi ruang dan memberi peluang munculnya motivasi dalam diri bawahannya.  Jika bawahan dan semua komponen dalam sebuah institusi mempunyai motivasi yang sama dalam melakukan sesuatu, maka tujuan dari lembaga, organisasi akan terwujud.


[1]Tim Reality,Kamus terbaru Bahasa Indonesia,(Surabaya: Reality Publisher, 2008), h.456

[2]Hikmat,Manajemen Pendidikan,( Bandung: Pustaka Setia,2009), h. 271

[3]Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam,(Bandung, PT. Refika Aditama,2008), h. 21

[4]Nancy Stevenson, Seni Memotivasi, ( Yogyakarta: Andi Yogyakarta, 2001), h. 2

[5]Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Al-Quran, (Badung: Pustaka Setia, 2005), h.23

[6]John Adair,Menjadi Pemimpin Efektif, judul asli,”Effective Leadership, A Self Development,”penerjemah Lembaga PPM dan  PT Pustaka Binaman Pressindo,(Jakarta:PT Binaman Pressindo,1994), h.177

[7]Eugene J. Benge, Pokok-Pokok Manajemen Modern,judul asli,”Elements of Modern management,penerjemah Rochmulyati Hamzah,”(Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo, 1994), h. 98

jangan hanya berwacana

berwacana itu bagus, akan tetapi lebih bagus kalau ada tindak lanjut. betul?

nah, kalau hanya sekedar berwacana , maka hal itu sama saja dengan berbicara doank, akan tetapi kerja tidak ada.

berwacana ingin punya banyak buku, menjadi pengarang, akan tetapi tidak pernah menuliskan sesuatu.

kalau aku jadi presiden

blog riwayat-kalau aku jadi presiden, maka aku akan berkuasa hanya dua periode, hanya jika kau dipilih oleh rakyat. jika kau jadi presiden, maka aku akan memperhatikan kebutuhan rakyat. aku aku terapkan hukuman mati untuik para koruptor. sekolah gratis untuk anak miskin.  transparan, akuntable dan membuka diri terhadap masukan yang membangun bangsa ini. hanya jika aku jadi presiden.