Isra Miraj Dan Rasionalisme Umat Islam

Oleh: Riwayat

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.(QS. Al Isra:1-4).

Isra dan miraj merupakan tonggak kebangkitan umat Islam, dikatakan sebagai sebuah kebangkitan karena peristiwa itu membuat takjub dan sekaligus membuat kecut bagi mereka yang tidak punya iman, atau iman mereka yang lemah.

Tetapi bagi mereka yang kuat imannya, tentu peristiwa Isra dan miraj merupakan penguat sekaligus ujian keimanan umat Islam. Adanya Isra Miraj merupakan bukti bahwa sebenarnya manusia dapat mencapai ketinggian dalam batas ketentuan Tuhan. Batas yang tidak semua manusia dapat mendapatkannya.Isra Miraj merupakan bukti bahwa manusia mempunyaikesempatan untuk bertemu dengan Tuhan-Nya. Pertemuan manusia dengan Tuhannya, pertemuan yang menyiratkan keilahian dan sekaligus lahut dalam diri manusia.

Peristiwa Isra dan Miraj merupakan bukti nyata bahwa antara manusia dengan Tuhan dapat bertemu dalam kurun waktu tertentu, di mana manusia telah melenyapkan unsure kemanusiaannya, kemudian ia lebur dalam diri Tuhan.

Manusia dapat lebur dalamTuhan karena pada saat itu tidak sesuatu kecuali Allah Tuhan sekalian alam.

Manusia dapat berjumpa dengan Tuhan-Nya dengan cara melenyapkan semua esensikemanusiaannya mengosongkan berbagai entitas, yang ada hanya entitasAllah yang tunggal tidak yang lain.

Isra Miraj merupakan bukti bahwa manusia mampu menembus batas kemanusiaannya, batas tersebut akan mampu dilewati manusia ketika ia telah mampu menyingkirkan semua hal kecuali Allah.

Manusia tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali atas izin Allah, termasuk Nabi Muhammad Saw sendiri, beliau tidak akan mampu jika Allah tidak memperjalankan beliau. Ini memberi kesan akan kelemahan manusia, yang pada dasarnya manusia diciptakan mempunyai sifat yang lemah, tetapi dalam kelemahan manusia Allah tidak membiarkan manusia terjebur dalam kelemahannya.

Bukti Allah tidak membiarkan manusia dalam kelemahannya adalah diberinya manusia akal. Dengan akalnya, manusia dapat menutupi kelemahannya. Dengan akal manusia mampu mengatasi kelemahan, kelemahan yang ada dalam dirinya.

Akal yang diberikan Allah kepada manusia merupakan alat untuk memikirkan, memahami segala fenomena yang ada di alam ini.

Isra Miraj seharusnya makin memacu umat islam untuk berfikri rasional, dengan berfikir rasionalmaka umat akan maju dari segi pemikiran, dengan majunya oemikiran dimungkinkan kebangkitan intelektual umat islam akan terbentuk dan mengapung ke permukaan.

Isra Miraj seharusnya menjadi momen penting bagi umat Islam, momen untuk segera bangkit dan mengembangkan pola pikir yang kritis dan rasional. Dengan akal rasionalnya umat islam akan bangkit dari keterpurukan, karena dengan akal pikiran tersebut manusia mampu membuat jalan untuk membuang segala rintangan kejumudan, kebekuan ijtihad di masa kini, masa keemasan umat Islam harus diulang, di tersukan lagi. Umat islam hendaknya mampu menyadari dirinya yang terpuruk dalam kubangan keterbelakangan di bumi ini. Maka momen Isra miraj merupakan langkah awal dan penting untuk membangkitan semangat meneliti, semangat berfikir dan mengembangkan diri.Sehingga umat islam tidak tertinggal dari umat yang lain dari segi ilmu dan teknologi. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Mujadalah:11). Allahu A’lam.

Add comment

Pemikiran Pendidikan At-Thahthawi

Oleh: Riwayat

(Mhs. Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang)

Nama lengkapnya adalah Rifa’ah badhawi Rafi’ al-Thahthawi terkenal dengan sebutan Al-Thahthawi. Lahir di Tanta pada tahun 1801 H.[1] Berasal dari keluarga miskin,sehingga keluarga Al-Thahthawi pergi ke Mesir untuk mencari penghidupan dalam bidang pertanian. Pada usia remaja al-Thahthawi hafal al-Quran dan telah mempelajaridasar-dasar hukum Islam. Pada usia 16 tahun, al-Thahthawi pergi ke Kairo untuk belajar di Universitas al-Azhar. Keadaan ekonomi yang tidak mendukung menjadikan al-Thahthawi bekerja sambilan sepulang kuliah yaitu menjadi guru privat, gaji sebagai guru privat ternyata tidak mencukupi untuk biaya kuliah. Keadaan ini memaksa ibunya menjual perhiasan untuk menambah kekuarangan biaya kuliah at-Thahthawi. Meskipun dengan susah payah at-Thahthawi akhirnya at-Thahthawi menyelesaikan pendidikan di al-azhar selama delapan tahun.[2]

Al-Thahthawi meninggal pada hari Selasa, 27 Mei 1873 M, umurnya pada waktu itu 73 Tahun. Ribuan masyarakat mesir mengiringi jenazahnya.[3]

Kutipan di atas memberi pelajaran bahwa kemiskinan dan kesusahan tidak membuat at-Thahthawi putus asa dalam perjuangan hidup. Meskipun serba kekurangan tetapi pendidikan tidak dilupakan. Semangat seperti ini memberi inspirasi bagi generasi sesudah al-Thahthawi untuk meniru, meneladani, atau setidaknya tidak menyerah dalam hidup walaupun dalam keadaan miskin yang mendera. Tidak itu saja, meskipun dalam kubangan kemiskinan al-Thahthawai pantanag mundur, pendidikan masih merupakan sesuatu yang harus diperjuangankan apapun kondisinya.

Pada umur 24 tahun al-Thahthawi menjadi pegawai Bina Mental dan Imam padasebuah kelompok pasukan negara Mesir yang dibangun oleh Muhammad Ali, penguasa Mesir. Pada 25 tahun al-Thahthawi dicalonkan pemerintah untuk bergabung dalam delelgasi mahasiswa Mesir ke Perancis. Pengiriman mahasiswa Mesir Ke Perancis ini adalah gelombang pertama.[4]

Al-Thahthawi dimanfaatkan oleh Muhammad Ali untuk kepentingan pemerintah, termasuk juga untuk kemajuan bangsa Mesir secara umum.[5] Meskipun dimanfaatkan tetapi al-Thahthawi tidak merasa dimanfaatkan, bahkan dengan keadaan tersebut al-Thahthawi mengambil hikmah dan pelajaran dari keadaan tersebut. Digunakan kesempatan itu untuk menempa diri dengan berbagai pengalaman dan ilmu pengetahuan, bukan saja untuk dirinya, tetapi juga untuk bangsa Mesir.

Hal ini dapat diketahui dengan semangat al-Tahahthawi untuk terus menempa diri, menjadi pribadi pemberontak terhadap kenyataan bangsa Mesir. Suatu saat al-Thahthawi berkata,”Kondisi negeri kita harus berubah, dan ilmu pengetahuan yang tidak kita punyai harus segera kita miliki.”[6]

Tekad yang besar untuk membangun bangsanya menjadikan al-Thahthawi pemuda yang berbeda dengan pemuda mesir yang sebaya dengannya. Meskipun ke Perancis hanya sebagai imam tetapi al-Thahthawi tidak hanya sebagai imam salat bagi para mahasiswa, tetapi dengan kemamuan besar untuk maju al-Thahthawi melakukan hal-hal diluar tugasnya.al-Thahthawi bertekad mempelajari ilmu-ilmu bangsa perancis. Hal ini dibuktikan dengan usahanya untuk mencari guru privat bahasa Perancis yang ia gaji sendiri. Selama tiga tahun ia rela memotong gajinya sebesar 250 Piaster untuk guru privatnya.[7]

Setelah lima tahun di Perancis al-Thahthwi kembali ke mesir sekitar akhir tahun 1831. Ia diangkat sebagai penerjemah dan guru Bahas Perancis di Institut Kedokteran Abu za’bal dengan gaji 1.2223 Piaster.[8] Kepalasekolah, pimpinan penterjemah Undang-Undang perancis.[9]

Dengan latar belakang pendidikannya, baik ketika di al Azhar, dengan gurunya Syekh Hasan al-Attar, pengalaman intelektualnya di perancis, buku-buku yang dibaca dan diterjemahkannya menjadikanal-Thahthwai sosok yang mumpuni dalam bidang pendidikan.

Pemikiran at-Thahthawi Tentang Pendidikan

Al-Thahthawi mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk karakter kepribadian, kecerdasan, dan menanamkan rasa patriotisme/Hubb al-wathan.[10] Kutipan tersebut dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan tidak sekedar membentuk siswa yang cerdas secara inteketual tetapi juga cerdas dari segi emosi dan spiritual, hal ini dapatdicermati dan dipahami dari tujuan pendidikan di atas yang tidak sekedar membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga membentuk siswa yang matang emosi dan akhlaknya. Di sisi lain, tujuan pendidikan hendaknya tidak sekedar membentuk siswa pandai, tetapi juga membentuk siswa yang mempunyai jiwa-jiwa patriotisme, sebab tidak ada manfaatnyamempunyai siswa yang cerdas tetapi tidak mempunyai rasa tanggung jawab dan rasa patriotisme terhadap negaranya sendiri. Pendidikan hendaknya tidak membentuk siswa cerdsa, tetapi berjiwa penghianat terhadap negara dan bangsa sendiri. Penulis sepakat dengan al-Thahthawi terutama dalam tujuan pendidikan. Pendidikan yag tidak ada tujuan membentuk rasa patriotisme hanya akan mempersiapkan generasi-generasi penghancur negara, generasi yang memanfaatkan bangsa dan negara untuk kepentingan sendiri.

Dalam bidang kurikulum al-Thahthawi membaginya berdasarkan jenjang pendidikan. Untuk tingkat pendidikan dasar (SD) terdiri atas: pelajaran membaca dan menulis yang bersumber dari al-Quran, ilmu nahwu, dan dasar-dasar berhitung. Sedangkan untuk tingkat sekolah menengah (SMP), terdiri atas, pendidikan jasmani beserta cabangnya, ilmu bumi, sejarah, biologi, mantiq, fisiska, kimia, manajemen, ilmu pertanian, mengarang, peradaban, bahasa asing. Untuk kurikulum tingkat atas (SMA) terdiri atas mata pelajaran kejuruan. Di antara mata pelajaran tersebut adalah kedokteran, fiqih, ilmu bumi dan sejarah.[11]

Dari kurikulum diatas, tersirat bahwa al-Thahthawi sudah memikirkan tentang pentingnya skill bagi siswa/anak didik, sehingga ia memuat materi pelajaran kejuruan. Di sisi lain, terlihat jelasbahwa al-Thahthawi memperhataikan kebutuhan pada masa itu, kebutuhan bangsa Mesir yang masih jauh tertinggal dengan bangsa lain, sehingga perlu membuat kurikulum yang menghasilkan peserta didik yang dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi masyarakat pada saat itu. Dalam hal ini dapat di duga bahwa sebenarnya al-Thahthawi sudah mempunyai ilmu tentang pengembangan kurikulum. Yang di antaranya dalam mengembangkan kurikulum adalah memperhatikan kebutuhan masyarakat di sekitar tempat institusi pendidikan berada. Dari kurikulum di atas dapat diketahui bahwa secaratidak langsung al-Thahthawi telah membuat semacam struktur/jenjang pendidikan, yaitu pendidikan awal / SD, pendidikan menengah /SMP, kemudian pendidikan tingkat atas / SMA. Tetapi ada yang mungkin terlupa oleh al-Thahthawi yaitu pendidikan untuk anakusia dini, sepertinya hal ini terabaikan, padahal pendidikan usia dini mempunyai peran penting dalam rangka mempersiapkan anak didik menuju jenjang pendidikan lanjutan, atau setidaknya sebagai wahana untuk bersosialisasi bagi anak didik usi dini.

Sedangkan dari pola pendidikan, al-Thahthawi menawarkan pola pendidikan sebagai berikut: pendidikan yang bersifat universal. Yaitu pendidikan yang di tujukan kepada semua golongan masyarakat tanpa membedakan gender dan umur. Pendidikan yang ditujukan untuk memajukan perempuan agar mampu menggali dan memfungsikan perannya secara maksimal, apakah sebgai istri, sebagai ibubagi anak-anak, atau sebagai bagian dari masyarakat,dengan tidak melupakan kodratnya sebgai perempuan. Ketiga, pendidikan yang ditujukan untuk kepentingan bangsa. Pola pendidikan hendaknya harus membentuka anak didik yang mempunyai rasa memiliki terhadap negaranya, rasa bangga terhadap negaranya, pendidikan hendaknya di arahkan untuk membentuk peserta didik yang mau berkorban untuk bangsa dan negaranya.[12]

Karya Ilmiah al-Thahthawi

Sebagai ilmuan al-Thahthawi mempunyai kebiasaan membaca dan menulis, di antara buku yang telah ditulisnya adalah:

1. Takhlis al Ibriz fi AkhbarBariz, buku ini menjelaskan tentang kehidupan bangsa Perancis,terutama Paris, tentang adat sitiadat,budaya, kebiasaan ilmiah, politik, demokrasi, yang inti dari tujuan penulisan buku tersebut adalah agar bangsa Mesir sadarakan ketertinggalan, sebagi perbandingan dalam segala hal, dengan harapan setelah membaca buku ini bangsa Mesir berubah paradigma.[13]

2. Manahij al-Albabal-Misriyyat fi manahij al-Adab al-Ashriyyat,buku ini membahas tentang pembaharuan bidang ekonomi, dengan buku ini al-Thahthawiberharap bangsa Mesir termotivasi untuk mengwembangkan perekonomian berdasarkan peran dan fungsi agama.[14]

3. al-Qoul al-Sadiq fi al-Ijtihada wa al taqlid dan Anwar al-Taufiq al-Jalil fi Akhbar Mishr wa Tautsiq Bani Ismail,kedua buku ini memuat tentang pentingnya ijtihad bagi bangsaMesir demi kemajuan bangsa mesir, hukum-hukum islam harus diinterpretasi ulang/ baru agar sesuai dengan kehidupan modern. Buku ini juga bersisi anjuran bagi para ulama agar menyadari dan mengetahui kehidupan modern, sehingga masyarakat Islam menjadi dinamis dan membuka diri dengan dunia luar, dengan batas-batas syariat/ hukum Islam.[15]

4. al-Mursyid al-Amin li al-Banat wa Banin,buku ini membahas tentang pentingnya pendidikan bagi laki-laki dan perempuan agar nantinya diharapakan keduanya nanti mampu membina keluarga yang harmonis. Buku ini juga membahas pentingnya pendidikan bagi perempuan, agarperempuan mampu mengimbangi ilmu pengetahuan, pola pikir kaum laki-laki, intinya agar perempuan mempunyai kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki.[16]

5. Manahij al al-Albabal-Mishriyyah fi Mabahij al-Adab al-Mishriyyah,buku ini membahas metode pendidikan untuk kemajuan bangsa Mesir, dalam buku ini berisi tentang anjuran kepada organisasi kemasyarakatan, masyarakat Mesir dan pemerintah mengerahkan harta dan modal hidupnya untuk kemaslahatan bangsa Mesir dan di titik beratkan dalam bidang pendidikan dan penyebaran ilmu pengetahuan.[17]

Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa at-Thahthawi menganggap bahwa kemajuan hanya dapat diperoleh dengan mensejahterakan rakyat, menumbuhsuburkan rasa peduli sosial dan perhatian yang penuh terhadap dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Add comment

Dakwah dan Hidayah

Oleh: Riwayat
(Guru PAI SMPN 21 Padang)
Dakwah adalah perbuatan mengajak,menyeru ke jalan yang benar. Mengajak ke pada perbuatan, sikap, sifat dan perilaku yang diridhoi oleh Allah. Dakwah merupakan kerja aktif umat Islam, dakwah merupakan kegiatan mudah tanpa harus menjadi ustad, buya maupun kyai. Tetapi selama ini dakwah masih dirancukan dan di konotasikan dengan ceramah, khutbah, kalau tidak ceramah dan khutbah atau adanya wirid maupun ceramah ramadhan maka dakwah itdak ada. Padahal dakwah tidak terbatas kepada ceramah di mesjid, khutbah jumat dan ceramah ramadhan. Dakwah mencakup beberapa hal seperti dakwah dengan lisan, tulisan, dan dakwah dengan perbuatan yang baik, positif dan diridhoi oleh Allah.
Dakwah dapat berbentuk lisan, seperti memberi nasehat yang baik, ceramah kutbah, wirid-wirid dan lain sebagainya, ada juga dakwah lewat tulisan, seperti mengarang buku, membuat artikel, membuat resensi buku yang bermanfaat bagi manusia. Dakwah dapat berupa tingkah laku, seperti memberi contoh yang baik. Realitas di masyarakat Islam dakwah masih di konotasikan dengan ceramah sehingga kesannya dakwah dimonopoli oleh para ustad, buya, kyai, dan para penceramah lainnya. Sehingga yang terjadi adalah banyak umat Islam yang engan menyeru, enggan berdakwah karena beranggapan dawah itu ceramah, dakwah itu menjadi khatib jumat, dakwah itu milik buya, milik ustad dan kyiai.
Padahal dalam Islam kewajiban berdakwah itu adalah tugas setiap muslim, bahkan Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa kita disuruh untuk menyampaikan walau hanya satu ayat. Anjuran Nabi Muhammad Saw tersebut memberi kesan bahwa dawah itu mudah, dakwah itu tidak harus dengan tenaga, dengan uang, dengan kepintaran yang lebih, tetapi dengan hafal sepotong ayat kit dapat berdakwah sesuai dengan kemampuan kita.”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali Imran:110).
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa sebagai umat terbaik adalah umat yang suka dan selalu memberi nasehat, memberi masukan positif, memberi ide brilian agar manusia lain bangkit dari keterpurukan dirinya dan kembali ke jalan Allah. Sebagai umat terbaik sebagai ayat tersebut adalah manusia yang aktif umat yang aktif dalam segala lini kehidupan. Aktif dalam konotasi yang positif, dengan jalan memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut serta dalam kehidupan yang lebh baik, kehidupan yang diridhoi oleh Allah. Di antara kehidupan tersebut adalah berdakwah, baik dengan lisan, tulisan maupun dengan perbuatan.
Dengan memposisikan dakwah dalam dimensi lisan, tulisan dan kerja aktif positif, maka dakwah tidak terpaku dan terjebak dalam pengertian dakwah secara sempit, yaitu mengkerdilkan ladang dakwah hanya pada posisi ceramah, dan khutbah saja, atau menyempitkan pelaku dakwah hanya terbatas ustad, buya dan kyai selain ustad, buya dan kyai tidak wajib dakwah. Dakwah akan mempunyai kesan yang baik, bukan monopoli, tetapi sebuah kegiatan positif yang dapat dinikmati oleh semua kalangan. Dakwah tidak menjadi sesuatu yang sulit. Dakwah tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, karena dakwah elah menyatu dalam kehidupan keseharian. Dakwah menjadi bagian dari rutinitas kerja aktif, dimana pun dan kapan pun. Dengan memposisikan dakwah secara benar dimungkinkan semua orang dapat melakukan dakwah secara aktif tanpa harus menjadi ustad, buya maupun kyai terlebih dahulu.
Kemudian, apakah dakwah seperti ini, atau dakwah tanpa menjadi ustad, buya atau kyai dapat memberi hidayah kepada orang yang didakwahi? Apakah orang akan menerima dakwah kita?apakah nanti tidak menjadiolok-olokan orang lain? Berbagai pertanyaan mungkin timbul, rasanya msutahil untuk berdakwah, sebab kita bukan ustad, buya apalagi kyai. Perlu diketahui bahwa untuk berdakwah dalam Islam tidak di batasi dengan atribut social keagamaan, tidak terbatas hanya kepada para ustad, buya maupun kyai, tetapi semua umat islam, hal ini dapat dicermati dari surat Ali Imran ayat 110 yang telah di kutip sebelumnya, dalam hadis Nabi Muhammad Saw pun telah dinyatakan bahwa “sampaikanlah dari kumeskipun hanya satu ayat,”[balligu anni walau ayah]. Dari ayat dan hadis tersebut dapat dipahami bahwa dakwah itu tugas semua muslim, tidak ada kecuali da tidak ada katagori.
Lebih dari itu, dalam dakwah kita tidak dituntut untuk berhasil, tetapi kita hanya di suruh oleh Allah untuk menyeru kepada kebaikan, menyeruke jalan yang benar, masalah tobat atau tiadk , mengenai dapat hidayah atau tidak itu bukan urusan kita, sebab yang akan memberi hidayah adalah Alllah Swt. Ustad, buya,kyai, dan semua muslim hanya diperintah untuk berdakwah. Dengan demikianlkalau kita sudajh berdakwah kemudian yang kita dakwahi tidak bertobat, atau tidak berubah maka kita jangan bersedih dan memaksa agar ia berubah, sebab yang memberi hidayah adalah Allah Swt. Yang memberi petunjuk dan menyesatkan hanyalah Allah Swt.” Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi.”( QS. Al-A’raf:178). Dari ayat tersebut makin jelas bahwa hidayah bukan urusan manusia, hidayah adalah hak paten Allah manusia tidak berhak ikut campur. Hidayah adalah kepunyaan Allah, sedangkan manusia hanya menjadi semacam jembatan penghubung kepada seseorang untuk menuju hidayah Allah tersebut. Dakwah adaah satu bentuk untuk mengingat manusia kepada Allah, menjadi semacam alat untuk menempuh hidayah tersebut. a
Untuk itu, sebagai manusia, sebagai orang beriman kewajiban kita hanya berdakwah, mengenai hasil itu kita kepada Allah Swt. Dengan menyerahkan semua hasilnya kepada Allah akan membawa diri kita kepada ketenangan batin,sebab kita tidak lagi memikirkan hasil dakwah, sebaliknya yang kita pikirkan adalah bagaimana dakwah kita diterima oleh orang kita dakwahi. Bagaimana dakwah kita menyentuh perasaan dan hati mereka,menyentuh dengan ayat-ayat Allah dan hadis Rasulullah saw. Allahu A’lam.

Add comment

Pembelajaran Bermakna

Oleh: Riwayat
Menurut Elaine B.J keterkaitan yang mengarah kepada makna adalah jantung dari pengajaran dan pembelajaran kontektual, pada saat siswa mulai berfikir tentang pelajaran agama, ilmu pengetahuan social, IPA, Bahasa Inggris dengan kenyataan hidupnya, masyarakatnya, maka sebenarnya ia telah menapaki jalan menuju pembelajaran dan pengajaran yang menemukan makna. Keterkaitan antara teori dan konsep akademis yang miliki siswa dengan lingkungannya sehari-hari dari kehidupannya. Setelah siswa merasa menemukan makna dalam pembelajarannya ia akan bangkit dan terus berjuang sampai ia mendapatkan makna yang bermanfaat bagi dirinya, maka ia akan terus belajar dan belajar. Motivasi besar ini muncul dari manfaat yang telah ia terima dan rasakan ternyata konsep akademis yang ia terima di sekolah sesuai dengan kehidupannya sehari-hari.
Dalam bukunya,”Quantum learning,” Bobby De Porter menyimpulkan bahwa ketika seseorang bersemangat, gembira, dan tidak bosan dalam melakukan sesuatu pada dasarnya ia telah menemukan manfaat dan makna dari apa yang telah ia lakukan. Pembelajaran bermakna memberi manfaat secara langsung maupun tidak langsung kepada siswa, semakin banyak mengetahui manfaat, maka akan semakin besar antusias siswa untuk belajar, sebab dengan banyak belajar akan makin dekat dengan manfaat itu, akan makin senang melakukan pekerjaannya, jadi makin besar kita mengetahui manfaat sesuatu maka akan makin besar peluang untuk melakukan perbuatan itu, sebaliknya semakin sedikit mengetahui manfaat dari yang kita kerjakan maka akan makin sedikit semangat kita untuk melakukan hal itu. Ketika siswa tahu banyak akan manfaat dari sedekah maka siswa akan makin rajin untuk sedekah, demikian juga ketika siswa tahu akan manfaat olah raga maka siswa akan dengan senang hati untuk melakukan olah raga. Ketika seorang siswa tahu manfaat salat sunat maka siswa akan berlomba untuk melakukan salat sunat. Ketika siswa mengetahui manfaat menolong orang maka siswa akan terus berlomba untuk menolong orang.
Proses belajar tidak hanya menghafal, tetapi siswa harus membangun pengetahuan di pikirannya sendiri tanpa harus dipaksa. Siswa dalam pembelajaran harus mengalami sendiri dari apa yang dipelajarinya. Jadi siswa harus mencari sendiri, guru hanya memberi pengarahan, dan motivasi ektrinsik. Para ahli menyepakati bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tertata rapi sehingga menjadi suatu pemahaman dan pengetahuan yang mendalam, dalam arti pengetahuan yang ada pada diri seseorang terorganisir, sehingga menjadi pemahaman yang melekat. Di sisi lain, dalam cara memandang siswa hendaknya perlu kesadaran adanya keunikan dan keragaman setiap individu. Hendaknya siswa dibiasakan mengeluarkan ide-ide sendiri, memecahkan masalah,menemukan sesuatu yang mendukung bakat, minat dan manfaat bagi kehidupannya. Ketika ketrampilan makin tersusun dan bakatnya terus dikembangkan maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada struktur otaknya, dengan demikian proses pembelajaran akan mampu mengubah struktur otaknya.
Guru memberi motivasi kepada siswa untuk membaca, menulis dan berfikir kritis dengan memfokuskan pada persoalan ditegah masyarakat yang up to date, kemudian guru membagi kelas menjadi beberapa kerlompok, mereka disuruh untuk melakukan penelitian perpustakaan, melakukan wawancara, mewawancarai nara sumber yang kompeten dibidangnya, siswa juga dapat mengambil data di lapangan, dengan menyertakan foto, gambar diagram, grafik kalau diperlukan, setelah para siswa menyelesaikan penelitian dengan jangka waktu yang disepakati antara guru dengan siswa, tiba saatnya untuk mendiskusikannya dan menyampaikan di depan kelas.
Dapat juga, siswa disuruh mencari kliping tentang kekerasan anak terhadap orang tua atau kedurhakaan anak terhadap orang tuanya di majalah dan Koran, kenudian menyuruh siswa untuk mengomentari dan menyimpulkannya sesuai pengetahuan yang didapat, atau dikomentari berdasarkan teori yang ia dapatkan dari sekolah. Seperti mengakiatkan dengan ajaran Islam, al-Quran dan Hadis Nabi. Banyak contoh–contoh pengaitan dalam pembelajaran bermakna yang dapat diterapkan di sekolah, untuk itu perlu kepiawian guru dalam mencari sebanyak mungkin materi yang dapat dikaitkan dengan peristiwa dalam kehidupan keseharian siswa.
Sebagai guru, pernahkan kita sering menatap atau bertatap muka dengan siswa? Sebagai guru perlu juga membaur dengan siswa suatu saat kita jadi teman, lain waktu berperan sebagai orang tua, pada waktu berbeda guru dapat juga beroeran sebagai teman, sehingga ada kedekatan yang mampu membuat siswa makin kagum dan dekat dengan kita. Intinya kita hendaknya sering bertatap muka dengan siswa. Mengajak siswa untuk kerjasama satu sama lain, dalam kerjasama perlu juga dibuat strategi yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan siswa lain penuh dengan rasa hormat. Perlu juga diperhatikan guru, terutama membangun dan menyiapkan skenario pembelajaran yang memungkinkan siswa berkeinginan besar untuk mendengar pendapat siswa lainnya.
Guru hendaknya merancang pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk berfikir kreatif, kritis dan menggunakan segala daya pikirannya untuk memecahkan suatu masalah atau membuat suatu ide kreatif, hal ini hendaknya selalu menjadi perhatian guru di kelas, agar kelas menjadi penuh makna bagi siswa. Pembiasaan berfikir kritis kreatif akan menjadikan siswa merasa menjadi siswa yang sesungguhnya, merasa dirinya diakui sebagai sosok yang berharga, mampu berbuat berfikir kreatif, dan kritis.
Sebelum masuk kelas, atau proses belajar mengajar berlangsung guru hendaknya menyiapkan ruang kelas agar tetap aman, kondusif, terasa rasa kekeluargaannya, keramahannya, sehingga siswa merasa aman dan tidak ada rasa was-was dan terintimidasi. Intinya lingkungan kelas atau sekitar kelas hendaknya diusahan semaksimal mungkin untuk kondusif, sehingga mampu mendukung suksesnya proses belajar mengajar. Penggunaan berbagai metode agar siswa tidak bosan, di sisi lain, pembelajaran akan menyenangkan, siswa merasa senang dan tidak bosan karena metode yang bervariasi,metode yang bermacam-macam akan menjadikan suasana kelas terasa rilek dan tidak monoton. pada akhirnya guru mampu menguasai jalannya proses belajar mengajar. Metode yang bervariasi inilah yang membedakan pendidikan modern dan konvensional. Kecenderungan pendidikan konvensional menggunakan metode satu macam saja, sehingga sering menimbulkan kebosanan siswa.
Ketika, guru menerangkan hendaknya ada jeda waktu, yang gunanya adalah agar siswa punya waktu untuk bertanya dan mendiskusikan apa yang telah guru jelaskan. Di sisi lain, akan menambah siswa untuk konsentrasi terhadap apa yang terangkan guru. Membuat skenario untuk mensiasati pembelajaran agar siswa mampu mempergunakan seluruh tubuhnya untuk aktif dalam pembelajaran, sebab pembelajaran yang tidak mengikutkan seluruh tubuh siswa untuk aktif dalam pembelajaran akan menjadikan siswa terbentuk dan terdidik tidak sempurna. Pendidikan yang baik adalah yang, mampu mengembangkan seluruh potensi siswa sehingga mampu mencapai puncak maksimal dalam kecerdasannya.
Suasana kelas menjadi bermakna, ketika guru mencari inti dan tujuan utama dari materi yang akan di ajarkan, apa yang harus dikuasai siswa, apa yang ingin dicapai dalam pembelajaran itu. dan langkah yang dapat dilakukan seorang guru adalah menulis hal-hal utama yang nantinya akan dikuasai siswa, dan disarankan ditulis dengan kata kerja aktif. Sebagai guru, pernahkan kita sering menatap atau bertatap muka dengan siswa? Sebagai guru perlu juga membaur dengan siswa suatu saat kita jadi teman, lain waktu berperan sebagai orang tua, pada waktu berbeda guru dapat juga beroeran sebagai teman, sehingga ada kedekatan yang mampu membuat siswa makin kagum dan dekat dengan kita. Intinya kita hendaknya sering bertatap muka dengan siswa.
Mengajak siswa untuk kerjasama satu sama lain, dalam kerjasama perlu juga dibuat strategi yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan siswa lain penuh dengan rasa hormat. Perlu juga diperhatikan guru, terutama membangun dan menyiapkan skenario pembelajaran yang memungkinkan siswa berkeinginan besar untuk mendengar pendapat siswa lainnya. Merancang pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk berfikir kreatif, kritis dan menggunakan segala daya pikirannya untuk memecahkan suatu masalah atau membuat suatu ide kreatif, hal ini hendaknya selalu menjadi perhatian guru di kelas, agar kelas menjadi penuh makna bagi siswa. Pembiasaan berfikir kritis kreatif akan menjadikan siswa merasa menjadi siswa yang sesungguhnya, merasa dirinya diakui sebagai sosok yang berharga, mampu berbuat berfikir kreatif, dan kritis.
Sebelum masuk kelas, atau proses belajar mengajar berlangsung guru hendaknya menyiapkan ruang kelas agar tetap aman, kondusif, terasa rasa kekeluargaannya, keramahannya, sehingga siswa merasa aman dan tidak ada rasa was-was dan terintimidasi. Intinya lingkungan kelas atau sekitar kelas hendaknya diusahan semaksimal mungkin untuk kondusif, sehingga mampu mendukung suksesnya proses belajar mengajar. Hendaknya guru menggunakan berbagai metode agar siswa tidak bosan, di sisi lain, pembelajaran akan menyenangkan, siswa merasa senang dan tidak bosan karena metode bervariasi akan menjadikan suasana kelas terasa rilek dan tidak monoton. Ketika, guru menerangkan hendaknya ada jeda waktu, gunanya adalah agar siswa punya waktu untuk bertanya dan mendiskusikan apa yang telah guru jelaskan. Di sisi lain, akan menambah siswa untuk konsentrasi terhadap apa yang terangkan guru.
Membuat skenario untuk mensiasati pembelajaran agar siswa mampu mempergunakan seluruh tubuhnya untuk aktif dalam pembelajaran, sebab pembelajaran yang tidak mengikutkan seluruh tubuh siswa untuk aktif dalam pembelajaran akan menjadikan siswa terbentuk dan terdidik tidak sempurna. Pendidikan yang baik adalah yang, mampu mengembangkan seluruh potensi siswa sehingga mampu mencapai puncak maksimal dalam kecerdasannya. Karena pada dasarnya pendidikan bertujuan mengembangkan semua potensi anak secara maksimal baik jasmani maupun rohani. Allahu Alam.

Add comment

ETIKA PENDIDIK ISLAM MENURUT KH. HASYIM ASY’ARI

Oleh: Riwayat
Menurut Hasyim Asya’ri ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik islam, bebera hal tersebut adalah adab atau etika bagi alim / para guru. Paling tidak menurut Hasyim Asy’ari ada dua puluh etika yang harus dipunyai oleh guru ataupun calon guru.
Pertama, selalu berusah mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan apapun, bagaimanapun dan dimanapun.
Kedua, mempunyai rasa takut kepada Allah, takut atau khouf dalam keadaan apapun baik dalam gerak, diam, perkataan maupun dalam perbuatan.
Ketiga, mempunyai sikap tenang dalam segala hal.
Keempat, berhati-hati atau wara dalam perkataan,maupun dalam perbuatan.
Kelima, tawadhu, tawadhu adalah dalam pengertian tidak sombong, dapat juga dikatakan rendah hati.
Keenam, khusyu dalam segala ibadahnya.
Ketujuh, selalu berpedoman kepada hokum Allah dalam segala hal.
kedelapan, tidak menggunakan ilmunya hanya untuk tujuan duniawi semata.
kesembilan, tidak rendah diri dihadapan pemuja dunia.
Kesepuluh, zuhud, dalam segala hal.
Kesebelas, menghindarai pekerjaan yang menjatuhkan martabatnya.
Kedua belas, menghindari tempat –tempat yang dapat menimbulkan maksiat.
ketigabelas, selalu menghidupkan syiar islam.
Keempat belas, menegakkan sunnah Rasul.
Kelimabelas, menjaga hal- hal yang sangat di anjurkan.
Keenam belas, bergaul dengan sesame manusia secara ramah,
ketujuhbelas, menyucikan jiwa. Kedelapan belas selalu berusaha mempertajam ilmunya.
Delapan belas, terbuka untuk umum, baik saran maupun kritik.
Sembilan belas,selalu mengambil ilmu dari orang lain tentang ilmu yang tidak diketahuinya.
Duapuluh, meluangkan waktu untuk menulis atau mengarang buku.
Dengan memiliki dua puluh etika tersebut diharapkan para guru menjadi pendidikan yang baik, pendidik yang mampu menjadi teladan anak didik. Di sisi lain, ketika pendidik mempunyai etika, maka yang terdidik pun akan menjadi anak didik yang beretika juga, karena keteladanan mempunyai peran penting dalam mendidik akhlak anak.
Untuk itu perlu kiranya para calon pendidik maupun yang telh menjadi pendidik untuk memiliki etika tersebut.

Add comment

Membicarakan Orang berilmu dan Beriman

Oleh: Riwayat
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Mujadalah:11).
Allah akan mengangkat derajat orang berilmu dan beriman,berilmu dan beriman hanya dimiliki secara konsep oleh orang Islam, kenapa secara konsep dimiliki oleh orang Islam? Karena pada dasarnya Islam menghargaia ilmu dan sekaligus memberi kepercayaan dan keungulan kepada orang beriman yang berilmu. Kenapa orang beriman diberi keunggulan karena dengan ilmunya dan imannya pengetahuan dan keahliannya akan bermanfaat bagi diri dan orang lain. Kenapa harus bermanfaaat bagi diri dan orang lain? Jawabnya adalah karena Allah menyuruh untuk yang demikian,. Dengan ilmu dan imanlah pengetahuandan keahlian seseorang akan berdaya guna. Dengan ilmu dan imannya banyak orang mengambil manfaat dan sekaligus memberi manfaat bagi kebaikan dirinya.
Kenapa harus demikian kenapa orang berilmu harus mempunyai iman? Untuk menjawab hal tersebut perlu mencermati ayat tersebut sebelumnya (Mujadalah:11), dalam ayat tersebut digambarkan secara jelas bahwa hanya orang berilmu dan beriman yang akan diangkat derajatnya secara hakiki, bukan ilusi, derajat yang diberikan Allah kepada orang berilmu dan beriman merupakan sebuah penghargaan yang tinggi di sisi Allah. Berbeda halnya dengan orang berilmu tanpa iman, ia akan mendapatkan manfaat sedikit dari ilmu yang dikuasainya tanpa ada nilai tambah secara spiritual keakheratan, hal ini terjadi diantaranya adalah karena ia melepaskan antara ilmu dengan iman, sehingga secara konsep ia telah keluar dari Kriteria surat Mujadalah ayat 11 tersebut.
Maka jangan heran kalau orang berilmu tanap ada iman akan bertindak, berbuat dan berkata dan semua gerak geraiknya selalu membawa bencana, baik untuk diri dan lingkungnya. Kenapa selalu membawa bencana karena pada hakekatnya ilmu yang ia punya tidak mampu memberi cahaya kepada diri dan orang lain. Kenapa ilmunya tidak membawa cahaya? Karena ilmunya tanpa ada ruh iman, tanpa ada semangat iman sehingga ilmu menjadi redup dari esensi cahaya Ilahi. Maka tidak heran jika ilmu yang dikuasainya hanya membawa nestapa semua. Nestapa untuk diri dan orang sekelilingnya.
Nestapa diri dan orang lain akibat ilmu yang tidak ada ruh iman berakibat lebih lam dan tak berkesudahan, hal ini sangat mungkin terjadi karena ilmu yang ditularkan dan di berikan kepada orang laian tidak membawa esensi cahay Ilahi, esensi tauhid telah mati dalam jiwa imunya, ilmunya telah menjad sesosok mayat , yang dingin tanpa ada kesejukan salju iman.salju dalam ilmu hanya ada pada orang yang berilmu dan beriman. Ilmu yang dibalut dengan iman akan membawa rasa aman bagi diri dan orang lain.rasa aman ini timbul kaibat pancaran cahaya Tuhan yang ada pada ilmu itu. Pancaran tersebut akan selalu bersinar dikala yang memberi ilmu yang menerima ilmu selalu dalam koridor ketuhanan. Ketiak orang berlmu selaludalam kamar ketentuan Tuhan maka, segala perbuatan, tingkah laku, tutur kata dan segala aktifitasnya akan membawa sejuta angin surga, membawa salju kesejukan bagi semua. Kenapa salju ada dalam ilmu? Karena ilmu tersebut disertai cahaya Tuhan, esensi kebenaran dan keagungan Ilahi terpancar dan menjadi semacam ruh ilmu.

Add comment

Pembelajaran Contextual

Oleh: Riwayat

(Guru SMPN 21 Padang)

Elaine B. Johnson mengatakan pembelajaran kontektual adalah sebuah system yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Lebih lanjut Elaine mengatakan bahwa pembelajaran kontektual adalah suatu system pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan kontek dari kehidupan sehari-hari siswa. Jadi, pembelajaran kontektual adalah usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa kemampuan diri tanpa merugi dari segi manfaat, sebab siswa berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengkaitkannya dengan dunia nyata. Allah berfirman,”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sungguh besar kebencian di sisi Allah, bila kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan,”(QS. As-Shaf: 2-3). Pembelajaran kontektual adalah pendekatan yang membuat siswa mampu meningkatkan panca indera, terutama pada saat proses belajar mengajar, kegiatan siswa yang membangkitkan gairah dan keaktifan panca indera bersifat konkret, actual realistis, nyata, actual, bermakna dan menyenangkan. Dengan demikian pembelajaran kontektual adalah sebuah system yang menyeluruh, bila salah satu terputus atau tidak terpenuhi maka harapan untuk mencapai tujuan akan gagal di tengah jalan. Bagian-bagian tersebut akan saling berhubungan satu sama lain, meskipun berbeda-beda tetapi bila bagian bagian pembelajaran kontektual itu digunakan bersama akan memberi pertolongan kepada siswa dalam menyelesaikan tugasnya.

System pembelajaran kontektual sesuai dengan fitrah manusia, sesuai dengan kebutuhan dan psikologi manusia, bersifat alami sesuai dengan sifat manusia yang selalu hidup ketergantungan satu sama lain. Atau sesuai dengan prinsip jagad ini, yaitu saling ketergantungan, adanya perbedaan pengaturan diri sendiri. Hal ini juga telah disampaikan oleh Allah, “Dan tolong- menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran,”(QS.Al-Maidah: 2). Dalam surat Al-Hujarat Allah berfirman,”Wahai manusia sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,”(QS. Al-Hujarat: 13). Ali bin Abi Thalib mengatakan,” Orang yang mampu mengekang hawa nafsu dari dorongan-dorongan kenikmatan, akan menjadi raja (penguasa, sedangkan orang yang membiarkan hawa nafsu (liar), akan rusak (hancur).

Tanpa prinsip diatas, proses pendidikan kontektual hanya sebuah mimpi yang tidak akan membawa bukti nyata, ia hanya tinggal nama, pembelajaran kontektual hanya sebuah angan kosong, ia hanya menjadi konsep mati yang tidak berguna bila tidak diterapkan dengan system pembelajaran yang normal dan alami. Dengan demikian prinsip alami di atas hendaknya menjadi acuan guru dan siswa dalam menerapkan pembelajaran kontektual. Di antara tiga prinsip tersebut adalah saling membutuhkan. ”Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, (Qs.. Al-Maidah: 2). Semua makhluk yang ada di bumi ini mempunyai hubungan satu sama lain, semua mempunyai peran tersendiri, manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, hal ini membuktikan bahwa manusia membutuhkan orang lain, keterkaitan dengan makhluk lain di sekitarnya, karena adanya hubungan itulah manusia dapat hidup.

Adanya saling membutuhkan inilah dimungkinkan adanya kerjasama antar mereka, seperti antara guru dengan siswa dan sebaliknya, siswa juga tidak boleh mengucilkan lingkungan sekitar di mana ia hidup, apakah di dalam rumah tangga, sekolah dan masyarakat, kesemua itu adalah sarana untuk mewujudkan dan menyambung jejaring, atau katakanlah semacam mata rantai yang saling keterkaitan dan saling ketergantungan satu sama lain, dan semua itu membentuk satu kekuatan yang akan menyampaikan seseorang kepada makna yang seharusnya ia miliki.

Adanya saling membutuhkan itulah akhirnya siswa mempunyai kesempatan untuk membuat kaitan yang bernilai dan bermakna. Di sisi lain, adanya saling membutuhkan akan mempermudah siswa mencapai titik standar yang ingin dicapai, terutama dalam standar akademik. Hal itu, dapat terwujud karena siswa mampu bekerjasama, siswa tertolong dengan adanya saling kerjsama dalam menemukan berbagai problema, mendesain rencana, mencari solusi dari berbagai masalah, intinya mereka bermusyawarah dalam menentukan berbagai permasalan yang mereka hadapi.

Perbedaan Individu. ”Wahai manusia sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seoarng perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal, (QS. Al-Hujarat: 13). Ada perbedaan menjadikan kita makin kaya, akan beragam corak, baik kemampuan, bahasa budaya, adat dan lain sebagainya, adanya perbedaan itulah yang membuat hidup menjadi indah, berbagai system akan muncul dari beragam pola corak dam kemampuan seseorang, nah potensi inilah yang dicoba dengan pendekatan, siswa diharapkan mengembangkan apa yang ia miliki, apa yang ia bisa, konsekuensinya adalah siswa akan aktif, kreatis, pikirannya jalan terus tanpa lelah memikirkan berbagai kejadian dan peristiwa yang di alaminya sendiri maupun yang dialami oleh masyarakat dikaitkan dengan konsep yang ada dalam dirinya.

Adanya kebebasan mengembangkan diri, menyelami bakatnya, memberikan siswa semangat untuk terus menggali potensi sendri tanpa harus merasa tertekan, siswa akan menajdi tahu bagaimana seharusnya belajar, siswa akan mengetahui sendiri bagaimana belajar yang baik dan sesuai dengan keinginannya, tanpa harus meniru cara belajar orang lain, dan di sinilah siswa akan merasakan betapa belajar itu indah, belajar itu nikmat belajar itu membahagiakan.. Ali bin Abi Thalib berkata,” Pendapat yang benar adalah dengan jalan memutar pikiran (musyawarah).”bertemanlah dengan orang yang berakal/pandai, maka kamu akan beruntung.”Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu,”(QS. Al-Imran:159).

Musyawarah mempunyai peranan penting tanpa batas antara dunia dan akherat, Ibnu Sa’di mengatakan,”Segala urusan yang membutuhkan pendapat orang lain, pertimbangan serta pemikiran yang matang. Karena, dalam musyawarah terdapat kegunaan dan kebaikan, baik dalam agama maupun dunia, atau mungkin malah tidak terbatas.” Elaine B.J mengatakan bahwa prinsip diferensiasi menyumnagkan kreativitas indah yang berdetak di seluruh alam semesta menuju keragaman tidak terbatas, hal tersebut makin memperjelas bahwa entitas-entitas yang berbeda tersebut bekerjasama (bermusyawarah) dalam berbagai hal dalam bentuk simbiosis. mengistilahkan dengan simbiosis. Simbiosis merupakan karunia Allah yang bermanfaat bagi manusia, musyawarah adalah bentuk simbiosis manusia untuk saling kerja sama dalam memecahkan berbagai masalah yang rumit,”Allah dan Rasul-Nya tidak membutuh itu (musyawarah). Akan tetapi Allah menjadikan hal itu sebagai karunia untuk umatku. Barang sipa yang bermusyawarah tidaklah hilang kepandaiannya, dan barang siapa yang tidak mau melakukannya maka tidak hilang kepandainnya,”(Asy-Syaukani/Fathul Qadir).

Slamet mengatakan apabila siswa dibiasakan bebas menetukan pilihan, berkreasi, mengembangkan daya nalar, melakukan berbagai eksperimen meskipun ada kesalahan-kesalahan untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, namun itu semua akan menumbuhkan sikap demokrasi yang membentuk sikap toleransi, sikap terbuka terhadap kesalahan-kesalahan dalam kreativitas berfikir.

Ali bin Abi Thalib mengatakan,“Siapa yang mau berintropeksi akan beruntung,”. Yang bertindak secara benar akan beruntung,”. Allah menyuruh kita untuk selalu melakukan evaluasi,”Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok,”(QS. Al-Hasr:19).

Evaluasi perlu, karena aktivitas selalu berjalan secara kontinyu, aktif dalam pembelajaran. Siswa akan terus terpacu dan termotivasi untuk berfikir kreatif dan menantangnya untuk selalu menggunakan pengetahuan akademiknya untuk membangun kualitas kerja sama dengan siswa lainnya. Rasulullah mengatakan bahwa orang mukmin yang satu dengan lainnya ibarat bangunan yang saling kuat menguatkan,”Orang mukmin itu bagi orang mukmin lainnya seperti sebuah bangunan yang saling memperkokoh lainnya,”(HR. Bukhari).

Adanya keaktifan siswa dalam pembelajaran merupakan bukti telah berlangsungnya pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa, yang lebih penting adalah siswa mempunyai kebebasan untuk mengekplorasi bakat pribadinya.

Dengan demikian pendekatan kontektual berusaha memberi perhatian lebih kepada setiap individu, perhatian kepada setiap individu mencakup semua aspek kehidupan siswa, guru hendak memberikan perhatian secara menyeluruh seperti keadaan ekonominya, adatnya, minat, gaya belajar dan kehidupan keseharian siswa.

Dengan mengetahui secara keseluruhan guru dapat memberi perhatian secara tepat dan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswa. Allah berfirman bahwa setiap manusia mempunyai keunikan masing-masing. “Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing,”(QS. Al-Baqarah: 60). Guru menyadari bahwa setiap siswa mempunyai keunikan tersendiri, biarlah anak berkembang sesuai dengan keunikannya sendiri. Terkadang guru yang tidak mengerti pendekstsn pembelajaran cenderung memaksakan kehendak dan memaksa siswa untuk meniru gaya belajar orang lain, padahal Allah menciptakan manusia tidak pernah sama, semua berbeda sesuai dengan keunikan dan fitrah yang Allah berikan kepadanya.

Aidh Al-Qarni memberi kita peringatan agar kita jangan latah dengan meniru ciri kepribadian orang lain/umat lain, hal itu akan menjadi bencana bagi kita, kelatahan itu bukan membuat kita maju tetapi sebaliknya akan membunuh secara pakasa bakat dan jati diri kita. Lebih lanjut beliau menasehati kita agar hidup dan berkembang sesuai dengan nikmat yang telah di anugrahkan Allah kepada kita.,

Hiduplah apa adanya seperti yang ada pada diri anda sendiri, jauhkan pikiran pikiran kita untuk meniru gaya orang lain, seperti merubah cara berjalan, berbicara, cara belajar. Jadilah dirimu sendiri, menjadi merdeka, raihlah kemerdekaan itu. Dan bersiaplah untukj berkompetesi melejitkan potensi unik diri sendiri,”dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya sendiri yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan,”(QS. Al-Baqarah:149). Allahu A’lam.

4 comments

Well Come For Kematian

Oleh : Riwayat

Ketika teman saya mengunjungi ulama di salah satu pesantren di Jawa Timur, yangkebetulan pada waktu hamper masuk waktu salat asar, kemudian teman saya pergi mengambil wudhu lalu salat tahiyatul mesjid, sambil menunggu salat di mulia teman saya itu duduk di shaf paling depan, meskipun ia masih muda ia tidak peduli, karena ia meyakini bahwa siapa yang datang duluan untuk mengerjakan salat jamaah, maka harus memenuhi shaf paling depan, dan kalau itu dilkukan akan mendapat pahal yang besar dan keutamaan dari Allah. Setalah adzan selesai, muadzin iqamah dan salat pun telah dilakukan, yang imamnya adalah ulama yang disegani dan berwibawa di pesantren tersebut.

Kemudian, teman saya meneruskan pengalamannya, setelah selesai salat dan telah berdzikir dan berdoa ia berhenti sejenak di dalam masjid. Dan pada waktu itu seperti biasa di adakan diskusi umu di dalampesantren tersebut yang diikuti oleh semua santri. Pada waktu itu ulama tersebut/kiai tersebut memberi wejangan tentang berbagai hal terutamamasalah kehidupan di dunia hingga hal-hal keakheratan, nah setelah kiai tersebut selesai memberi tausiyah, ada salah seoarng santriyang bertanya kepada kiai tersebut,”Kiai. Apakah kiai siap jika setelah ini kiai kembali kepada Allah? Sedangkan Kiai masih mempunyai anak kecil, dan banyak santri, apakah Kiai ikhlas? Kemudian Kiai tersebut dengan tenang, dengan suar yang menyejukkan menjawab,” kalau memang Alllah menakdirkan demikian saya ikhlas, meskipun sebelum selesai menjawab ini pun saya dipanggil Allah saya ikhlas dan akan well come terhadap kematian.”

Kemudian, santri tersebut bertanya lagi,” apa yang membuat Kiai yakin dan tidak takut mati?” kia tersebut menjawab,” karena kematian adalah kepastian, tidak ada yangdapat menolaknya, siap yang bernyawa pasti akan mati, Allah berfirman,”tiap-tiapyang berjiwa akan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan,”(QS.Al-Ankabut:57) dalam firmannyayang lainAllahkatakan,”di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,”(QS. An-Nisa:78).

Tentunya, tidak semua orang akan seperti Kiai di atas, kenapa demikian, mungkin ada yang tidak ikhlas meninggalkan harta benda, anak-anak cucumereka, jabatan mereka, ataumungkin karena merasa masih banyak dosa, bayang–bayang dosa masih menghantuinya, masih belum banyak amal baiknya sehingga kalau mati belum ada bekal untuk kematian, dan artinya adalah siksa menanti, azab menghadang, perkiraan-perkiraan seperti itu mendekam dalam pikirannya, sehingga ia belum sanggup untuk mati, belum sanggup mengatakan selamat datang kematian, belum mampu berbuat seperti Kiai di atas, nah bagaimana dengan kita, apakah sudah siap untuk mati, apakah kita merasa banyak dosa, atau kita masih tidak rela meningggalkan dunia ini, sehingga takut mati?

Padahal kematian adalah suatu yang pasti, cepat atau lambat kematian akan datang, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap mati akan bertamu kepada kita, apakah kita dalam keadaan senang, sedih, dalam keadaan kaya, miskin, besar, kecil, tua maupun muda. Kematian hanya menungu waktu, kematian yang sudah ditetapkan oleh Allah, tidak dapat dimajukan ataupun dimundurkan.

Kita hanya bisa pasrah, mempersiapkan diri menghadapi kematian, selamat datang kematian, selamat datang penghancur kelezatan dunia, selamat datang pemisah kesenangan dunia, selamat datanmg kematian yang ditakuti oleh manusia, selamat datang sang pemisah kehidupan,selamat datang wahai ketetapan Allah untuk semua yang hidup, semua yang hidup akan merasakan sebuah kematian, sebuah jalan menuju alam barzah, alam kubur serta gerbang menuju kehidupan akherat, kehidupan yang tiada akhir, kehidupan yang kekal. Welcome for death.

Add comment

Mati untuk hidup

Oleh : Riwayat

Ada orang menganggap bahwa kematian akan memupus harapan orang untuk hidup. Statemen ini pada satu sisi ada benarnya,karena pada dasarnya kematianlah yang akan memangkas harapan manusia di dunia ini, semua keinginan yang bersifat duniawi akan terhenti, cita-citanya pupus, harapannya punah. Setelah ia masuk dalam tanah, tubuhnya dimakan cacing dan belatung. Cita-citanya tergantung, harapannya untuk hidup di dunia lebih lama telah tiada, semua sirna, seperti nyala api yangmakinredup karena habis minyaknya, dan pad akhirnya padam dan gelap tiada cahaya. Kematian menengelamkan impian semua orang, tidak seorang pun mampu menolong, menangkal akan kematian seseorang.

Banyak orang ingin hidupseratus tahun bahkanseribu tahun kalau mungkin, mereka berusaha bagaimana agar dapat memperlambat keliang kubur, namun semua hanya mimpi di siang yang kabur, harapannya hancur seperti beras dijadikan bubur.

Manusia hidup dalam baying-bayang kematian, tetapi banyak manusiamerasa tidak kan matai, manusia merasa akan hidup selamanya dan tidak pernah merasa mati mengintainya setiap saat setiap waktu, di mana, kapan dan dalam keadaan bagaimana pun. Banyak manusia menganggap hidupadalah untuk hidup, tidak pernah berfikir bahwa hidup di dunia ada batas ada masa tertentu, setelah masa itu tiba, maka semua menjadi sirna, ketika batas itu melintas, maka semua akan terpangkas, yang tingggal mungkin hanyasebuah memori bagi keluarga, tetangga, masyarakat sekitar, atau masayarakat di desa kita, kecamatan, kabupaten, propinsi, atau bahkan bangsa ini yang akan mengingat kita. Apakah mengingat kita sebagai yang terkenal baik, sopan, dermawan, soleh, alim, bijaksana, adil dan label kebaikan lainnya, intinya kita jadi manusia yang baik hadapan manusia dan baik di hadapan Allah.

Kalau posisi kita seperti itu, maka kematian kita adalah untuk hidup, bukan mati untuk mati. Sebaliknya ada orang yang hidup tetapi untuk mati, hidupnya hanya untuk dirinya, perilakunya jahat, bakhil, curang, penghianat, penipu, suka membuat onar, hidup semaunya sendiri, maka kalau ini terjadi pada diri kita, maka sebenarnya kita mati untuk mati bukan mati untuk hidup.

Allah mengatakan bahwa orang yang baik, orang yang soleh,beriman, berjihad di jalan Allah pada hakekatnya mereka tidakmati, tetapi mereka adalah hidup. Hidup dalam pengertian ini dapatdibagi menjadi dua, pertama hidup namanya di dunia ini semua orang mengenangnya sebagai manusia yang baik, beriman, berakhlak yang mulai, kedua mereka hidup di di alam lain, yaitu alam akherat, sebagaimana janji Allah untuk mereka yang mati di jalan Allah. Orang yang mati karena berjuang di jalan Allah ia akan hidup di alam lain yaitu alam akherat, alam di luar jagad ini. Kalaupun selama ini banyak orang menganggap bahwa mati berjuang di Jalan Allah adalah sebuah kematian maka hal itu adalah anggapan yang bertolak belakang dengan firman Allah,“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(Ali Imran:169-170).

Ayat di atas secara tegas membantah perkiraansebagian manusia bahwa orang yang berjihad di jalan Allah mati. Kenyataan ini membktikan bahwa sebenarnya kejiwaan seseorang yang merasa takut akan mati membimbing pola piker dan perasaannya kepada prasangka yang tidak berdasar. Hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa kematiandi jalan Allah bukianlah kematian sesungguhnya, bahkan ia adalah sebuah peralihan kehidupan yang lebih baik. Kalau kesadaran hati seperti ini tercipta dan terpatri dalam jiwa maka tidaka ada rasa ragu untuk berkorban di jalan Allah. Tidak ada rasa pelit untuk menginfakkan harta benda, tidak ada rasa malas untuk beribadah. Sebaliknya orang yang masih ragu terhadap kehidupansetelah matai, atau orang yang berprasanfgka bahwa mati di jalan Allah mataisesungguhnya, maka sikap dan kejiwaannya secara sprirtual terganggu, dan pada sisi lain, kematangan pada aspek religi makin menjauh dari kehidupannya. Dan pada akhirnya ia akan terjebak kepada cinta dunai dan takut mati.

Add comment

Keutamaan Lapar Bagi Jiwa

Oleh: Riwayat

Hidupkanlah hatimu dengan sedikit tertawa dan sedikit kenyang dan sucikanlah ia dengan lapar, pasti hatimu menjadi bersih dan lembut.”(Hadis). Lapar merupakan satu dari cara para sufi untuk melemahkan syahwat atau keiginan-keinginan. Termasuk juga untuk membersihkan hati dan melembutkannya. Mengosongkan perut merupakan jalan untuk menghambat laju keinginan-keinginan/syahwat. Rasulullah selalu mengutamakan lapar daripada kekenyangan, Rasulullah makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Tetapi kalau kita rujuk pada sejarah Rasulullah, kita dapat menemukan fakta bahwa Rasulullah banyak laparnya daripada kenyangnya, kalaupun makan Rasulullah tidak sampai kekenyangan.

Tetapi, Kalau kita perhatikan di sekitar kita banyak orang tidak sabar menghadapi cobaan lapar, makanan dan minuman lezat, manusia banyak tergoda dan terjebak, sehingga ada kecenderungan mengabaikan norma agama. Demi makan dan minum orang bertengkar, berkolusi, korupsi, merampok, mencopet dan masih banyak lagi usaha manusia yang kotor untuk memenuhi isi perut dan keinginan-keinginannya (Syahwatnya). Orang miskinpun terkadang tidak tahan dengan kemiskinannya, lapar yang ia rasakan tidak dimanfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal Allah menyukai orang-orang lapar, yang dengan kelaparannya itu ia ikhlas dan tetap berusaha tanpa mengeluh dan selalu berusaha berdoa dan mendekatkan dirinya kepada Allah, dijadikannya lapar yang menimpa dirinya sebagai jalan memperbaiki jiwanya, sehingga Allah ridho dan berbangga kepadanya.

Allah berbangga kepada manusia lapar, lapar merupakan cobaan besar bagi manusia. Cobaan dilewatinya dengan penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah, maka Allah akan bangga kepada manusia tersebut, bahkan Allah akan memberi derajat-derajat yang tinggi di dunia apalagi di akherat,”Sesungguhnya Allah Taala berbangga kepada para malaikat dengan yang sedikti makanannya dan minumnya di dunia. Allah Swt berfirman: Lihatlah kepada Hamba-Ku! Aku telah mencobanya dengan makanan dan minuman di dunia, lalu ia sabar dan meninggalkan makanan dan minuman itu. Saksikanlah hai malaikatKu! Tidaklah satu makan yang ia tinggalkannya melainkan Aku menggantinya dengan derajat-derajat di surga,”(HR. Ibnu Adi).

Hadis di atas, memberi harapan dan kesempatan bagi mereka yang suka lapar dan mencoba diri untuk menahan diri untuk tidak kenyang, makan dan minum hanya sekedar untuk hidup, makan dan minum bukan tujuan utama, sebab memenuhi perut adalah keburukan, kegelapan dan kebuntuan spiritual, tabir yang akan menghalangi kita bermunajat kepada Allah, untuk itu lebih baik sedikit saja kalau mampu, kalau tidak makan sekedarnya, minum sekedarnya sehingga perut kita mampu menampung sesuai kebutuhan dan ada tersisa ruang untuk bernafas.”Tiadalah anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap kecil yang menegakkan tulang pungunnya. Kalau tidak mampu, maka sepertiga perut untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan seprtiga untuk nafanya.”(HR. Turmudzi).

Orang yang lapar karena Allah, haus karena Allah kesedihan karena lapar tetapi ia tetap bertakwa kepada Allah, maka orang tersebuit pada hari kiamat akan menjadi manusia yang dekat kepada Allah.”Orang yang dekat di sisi Allah kelak di hari kiamat adalah orang yang ketika di dunia lapar, dahaga dan kesedihannya lama yang berjalan tanpa alas kaki, yang bertakwa..”(HR.Al-Khatib dari Said bin Zaid).

Bahkan, ketika kita mati dalam keadaan lapar, maka Allah memberi kemulian dan kedudukan tinggi bersama para Nabi Allah, malaikat menyambut dengan gembira, serta mendapat rahmat Allah,”Mudah-mudahan kematian datang kepadamu dalam keadaan perutmu lapar dan hatimu hatimu haus, maka lakukanlah. Sesungguhnya kamu dengan demikian itu memperoleh kemuliaan kedudukan dan tempat tinggal bersama para nabi, para malakat bergembira menyambut kedatangan ruhmu, dan Tuhan Yang Maha Perkasa melipahkan rahmat kepadamu.”(HR. Al-Khatib dari said bin Zaid).

Ironisnya, dalam hidup ini sering menyalahartikan bahwa hidup akan bahagia kalau sudah makan dan minum dengan kenyang, apakah dengan cara menipu atau dengan cara haram lainnya, padahal kalau manusia menyadari hikmah dan keutamaan lapar, tentu hal tersebut tidak akan pernah terjadi. Ia hidup apa adanya, meskipun kaya tetapi tidak pamer harta, tidak tebar pesona, biar semua orang melihat dan berdecak kagum, sebab ia sadar bahwa kesederhaan dan kedermawanan akan memberinya peluang untuk memasuki hikmah langit,”pakailah kain bulu sisingkanlah lengan bajumu dan makanlah setengah perut, nisaya kamu memasuki kerajaan langit.”(HR.Al-Hasan dari Abu Hurairah).

Kenyang tidak menjamin spiritual manusia menjadi baik, kenyang tidak menjamin hidup dan jiwa manusia tenang, tetapi dengan mengatur makan dan banyak lapar karena Allah yang akan mengantarkan manusia kepada ketenganan jiwa, kenyang hanya akan menjadi jalan bagi setan untuk masuk ke dalam aliran darah kita, sebaliknya dengan lapar akan menghambat laju dan pintu masuk bagi setan,”Sesungguhnya setan itu berjalan dalam tubuh manusia melalui jalan darah, maka sempitkanlah jalan-jalanya itu dengan lapar dan dahaga.”(Hadis)

Orang kenyang susah berfikir dan terkadang mengantuk, dalam pandangan sufi orang seperti ini tergolong orang tercela sebab dengan mengantuk dan tidak dapat memfungsikan otanya dengan baik, maka secara umur ia merugi karena tidak mampu mengoptimalkan potensinya dengan baik dan maksimal, lebih bahayanya lagi orang yang selalu kenyanag akan masuk pada jajaran orang munafik, sebab orang munafik itu selalu memenuhi tujuh ususnya, sedangkan orang mukmin hanya memenuhi satu ususnya, dalam artian ia lebih mementingkan makanan atau urursan dunianya daripada akherat, atau setidaknya menyeimbangkan keduanya.”Orang beriman itu makan dalam satu usus, dan orang munafik itu makan dalam tujuh usus.”(HR. Bukhari Muslim).

Hadis di atas, mengandung makna bahwa orang munafik itu lebih mementingkan makan atau mementingkan urusan dunia. Dengan banyak makan tentunya keinginannya makin tinggi (Syahwatnya), jadi orang munafik mempunyai tujuh kali keinginan/ syahwat dibanding orang yang beriman. Kata usus merupakan kiasan dari nafsu syahwat, karena pada hakekatnya nafsu syahwat menampung semua makanan manusia.

Kita hendaknya mencontoh Rasulullah, Rasullullah pernah sampai tiga hari tidak makan, dan pada hari ketiga baru makan itupun ketika fatimah ra. Memberikan sepotong roti kepada Rasulullah.”Fatimah ra. Datang dengan membawa sepotong roti untuk Rasulullah Saw. Lalu Rasululah bertanya,”Apa. Ini? Fatimah menjawab,”sepotong roti yang kubuat dan hatiku tidak enak sehinga aku membawa sepotong roti ini untukmu ,ayah.”Rasulullah Saw. Bersabda, ”Ketahuilah, sesungguhnya inilah makan pertama yang masuk ke dalam mulut ayahmu sejak tiga hari.”(HR. Al-Harits bin Abi Usamah).

Dari hadis di atas, dapat kita pahami bahwa kehidupan Rasululah lebih banyak lapar daripada kenyangnya, bahkan dalam hadis lainya Rasulullah tidak pernah mengenyangkan keluarganya selama tiga hari berturut-turut dari rioti dans ekalipun sampai ia meninggal dunia,”(HR. Muslim)..

Kesadaran dalam kelaparan hendaknya menjadi bagian dari kehidupan kita, dengan laparlah kita mendekatkan diri kepada Allah, dengan lapar kita akan dekat kepada Allah, ridho Allah , hikmah akan dapat kita miliki, namun sebaliknya jika kenyang saja yang kita perturutkan, maka kehidupan akan menjadi gelap, sempit, kegelisahan batin, kekasaran hati dan terjauh dari hikmah dan nikmat ketenangan batin, bahkan kita dibenci oleh Allah, sebaliknya orang yang lapar dicintai oleh Allah, orang yang kenyang di dunia diakherat akan menjadi orang yang lapar, sebaliknya orang yang lapar di dunia akan kenyang di akherat, dan mendapatkan surga,”Sesungguhnya orang yang lapar didunia adalah mereka yang kenyang di akherat dan sesungguhnya orang-orang yang paling dibenci Allah adalah orang-orang yang banyak makan serta penuh perutnya. Dan tidaklah seorang hamba meninggalkan suatu makanan yang diinginkan melainkan ia mendapatkan derajat surga,”(HR. Thabrani).

Menjadi orang yang lapar, makan sekedarnya adalah lebih utama, sebab dengan lapar kita akan dicintai oleh Allah, mungkin selama ini kita merasa lapar adalah suatu kesusahan, kesedihan dan ketersiksaan badan dan jiwa, tetapi itu hanya sesaat saja, itu semua akan hilang ketiak kita menyadari bahwa lapar membawa hikmah yang sangat besar, dan hikmah itu tidak dirasakan oleh siapapun kecuali orang yang lapar.

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa lapar mempunyai sepuluh hikmah yaitu, pertama, menjadikan hati bersih, bercahaya yang tercermin dari akhlak, serta mampu menajamkan mata hati. ”Hiduplahkanlah hatimu dengan sedikti tertawa dan sedikit kenyang dan sucikanlah ia dengan lapar, pasti hatimu menjadi bersih dan lembut.”Nabi juga bersabda, Barang siapa melaparkan perutmnya, pasti pikirannya luas dan hatinya cerdas,”. Barangsiapa kenyang dan tidur, pasti hatinya keras.”kemudian beliau bersabda lagi,”Setiap itu mempunyai zakat dan zakatnya badan adalah lapar.”(HR. Ibnu Majah). kedua, membuat hati menjadi lembut dan bersih, sehingga dengan kebersihan dan kelembutan hatinya ia siap untuk berdzikir kepada Allah dan menikmati serta merasakan nikmatnya berzikir kepada Allah. Ketiga, dapat menghancurkan sifat kesombongan. Keempat, dengan lapar ia tidak melupakan bencana Allah dan siksa-Nya, dan tidak melupakan orang-orang yang menerima siksaan. Sehingga ia akan hati-hati dalam hidup ini. Kelima, menghancurkan nafsu syahwat dan mengendalikan hawa nafsu. Keenam, lapar dapat mencegah seseorang tidur sehingga dapat membantunya untuk selalu beribadah di malam hari. Ketujuh, lapar dapat memudahkan seseorang untuk beribadah. Kedelapan, dengan lapar akan menyehatkan seseorang dan tidak mudah terkena penyakit. Kesembilan, dengan lapar orang akan menjadi hemat, ia akan hidup sederhana, sehingga hartanya dapat dialihkan untuk bersedekah. Kesepuluh, dengan lapar akan mendorong seseorang lebih mementingkan orang lain, gemar bersedekah, memberi makan orang miskin dan anak-anak yatim. Allahu Alam.

Add comment

Previous Posts


 

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kategori

Halaman

Top Posts

Blogroll

Komentar Terakhir

riwayat di About
masbadar di About
riwayat di About
Oktovianus Pogau di About
riwayat di Pembelajaran Contextual

Arsip

Meta